?

Log in

5 Seconds

Title: 5 Seconds

Author: Mochiraito
Summary:
10 Agustus—dua hal besar terjadi pada Nakajima Yuto. ‘5 detik... Jika saja Kami-sama memberikanku 5 detik...  Aku hanya butuh 5 detik untuk mengubahnya...’ A fanfic for Nakajima Yuto’s Birthday!

Disclameir: All Hey! Say! JUMP members belongs to Kami-sama, their parents, and Johnny's Jimusho; 5 Seconds belongs to Mochiraito

WARNING! Contains: slight OkaJima, OOCness, ABALness, GAJEness, LOCH(?)ness, EPIC FAIL plot, EPIC FAIL story, EPIC FAIL gombalan.

DON'T LIKE DON'T READ!
ENJOY!

Odorou, odorou STEP funde
Sono egao hajiketeru
Keitai milik seorang pemuda yang tengah tertidur di atas ranjangnya yang empuk berdering cukup keras. Tapi tampaknya deringannya belum bisa membangunkan sang pemilik keitai itu. Pemuda berambut raven itu masih sibuk dengan mimpinya.
Kirari, Kirari kirakira kimi to
Mizushibuki wo agete
Pemuda itu tampaknya mulai menyadari suara deringan keitainya. Lalu dengan malas membuka kelopak matanya. Kedua tangan pemuda itu tidak langsung meraih keitai yang masih berdering, melainkan sibuk mengucek mata untuk mengusir kantuk yang masih terasa.
Sousa kagayaku—
Baru saja tangannya menyentuh keitai itu, deringannya berhenti. Kemudian pemuda itu menatap tulisan yang tertera di layar keitainya.
One Missed Call
Okamoto Keito
“Dasar... Dia itu suka sekali sih mengganggu orang...” gumam pemuda itu pada dirinya sendiri sebelum menyimpan keitainya di bufet kecil yang ada di samping tempat tidurnya. Kemudian melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu.

[5 Seconds]

Odorou, odorou STEP funde
Sono egao hajiketeru
Baru saja pemuda itu akan mengembara ke dunia mimpinya lagi, keitainya berdering sekali lagi. Dengan kesal pemuda itu meraih keitainya dan membaca tulisan yang tertera di layar.
Okamoto Keito
Calling...
Pemuda yang masih setengah mengantuk itu berdecak kesal.
Kirari, kirari kirakira kimi—PIP
“Apa?” tanya pemuda itu kesal begitu menekan tombol Answer
“Yuto, kau pikir ini sudah jam berapa? Kita kan janjinya jam 10!” jawab suara baritone milik seorang pemuda bernama Okamoto Keito di seberang sana
“Janji apa?” sekali lagi pemuda bernama Yuto itu bertanya dengan suara yang mengantuk
Jeda sesaat, “Jangan bilang kau baru bangun tidur! Ini sudah jam 11!”
“Memang iya...” sahut Yuto sambil mengucek matanya, “Ada apa sih?”
“Hukumanmu, PR fisika 50 soal, dikumpulkan besok. Kau ingat? Kan kau sendiri yang minta bantuanku!” jawab Keito kesal
“Ah!!” seru Yuto. Dengan seketika rasa kantuk menghilang dari wajahnya, “Yabai! Aku memang belum mengerjakannya sama sekali! Bisa tunggu sebentar lagi? Aku akan cepat-cepat ke sana!” pemuda berambut raven itu berlari menuju kamar mandi dan mengambil sikat giginya.
“Dasar... Ya sudah, kalau tidak datang sampai setengah jam lagi, aku tidak akan membantumu!” ancam Keito
“Yokatta~” sahut Yuto sebelum memutuskan telepon dan menyikat giginya dengan terburu-buru.

Singkat cerita, pemuda bertubuh jangkung bernama Nakajima Yuto itu berlari tunggang-langgang seperti dikejar anjing rabies begitu ia keluar dari rumahnya. Sepotong roti dengan selai strawberry yang sudah setengah termakan berada di genggamannya. Dan sebuah ransel tersampir di bahu kanannya.
Kenapa ia begitu terburu-buru?
Jawabannya adalah karena ancaman sahabatnya itu. Ia tahu ia tidak bisa mengerjakan PRnya sendiri, makanya kemarin ia minta bantuan pada sahabatnya yang notabene murid terpintar di kelas mereka untuk mengajarinya di perpustakaan kota. Jadi kalau pemuda bermarga Okamoto itu tidak membantu, Yuto yakin pasti ia akan dihukum sangat berat oleh guru fisika mereka.
Untunglah perpustakaan itu tidak terlalu jauh dari kediaman keluarga Nakajima. Jadi Yuto hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk mencapainya—jika dengan kecepatan berlarinya tadi yang sudah seperti dikejar anjing rabies.
Kedua onyx Yuto mencari-cari sosok sahabatnya di dalam perpustakaan itu. Dan ia menemukan pemuda bermarga Okamoto itu sedang asik dengan sebuah novel di tangannya.
“Keito!” sapa Yuto setengah berbisik
Onyx Keito yang semula terpaku pada deretan huruf-huruf di dalam novelnya kini menatap Yuto, lalu menatap jam tangannya sekilas, “Beruntung sekali. Lima menit lagi aku akan pergi,” katanya dengan ekspresi datar andalannya
“Gomen ne... Tadi malam aku menemukan lagu yang beatnya sangat bagus, jadi aku—“
“Bermain drum semalaman dan telat bangun?” potong Keito, “Khas kau sekali.” sindirnya
“Gomen ne, Keito...” pemuda bertubuh tinggi itu sedikit membungkuk sebelum duduk di samping sahabatnya, “Bagaimana kalau kita mulai mengerjakan PRnya?” Yuto mencoba mengganti topik pembicaraan
Keito menghela nafas lalu mengangguk, “Bagian mana yang tidak kau mengerti?”
Dengan cepat Yuto mengeluarkan bukunya dan menunjuk beberapa soal yang ada di sana. Kemudian mereka berdua pun sibuk berkutat dalam soal-soal fisika yang harus dikerjakan oleh Yuto.

“Pusing sekali....” keluh Yuto sambil memijat pelipisnya dengan jari telunjuk dan jari tengahnya
“Sabar, tinggal tujuh soal lagi,” Keito memberi semangat—tapi tetap dengan ekspresi datarnya
Yuto terkikik, “Hei, kalimatmu yang tadi itu apa maksudnya?”
“He? Tentu saja memberi semangat!” jawab Keito
“Hahahahaha mana ada orang memberi semangat dengan wajah datar begitu?!” kata Yuto sambil menusuk-nusuk pipi Keito dengan jari telunjuknya
Gurat-gurat kekesalan muncul di wajah Keito, “Wajahku memang begini sejak lahir. Memang seharusnya bagaimana?”
“Smile!” Yuto menarik kedua sisi bibir Keito sehingga membentuk senyuman dengan kedua jari telunjuknya
“Urusai!” Keito menepis tangan Yuto dari wajahnya lalu mengalihkan tatapannya pada novel yang masih setia berada di pangkuannya, “Cepat kerjakan soalnya!” Pemuda bermarga Nakajima itu kembali menatap buku PRnya dan mulai mengerjakannya sambil menahan tawa.

Dua orang pemuda berambut raven tengah berjalan keluar dari perpustakaan dengan santai. Pemuda yang lebih tinggi, Yuto, tak berhenti menyunggingkan senyum. Sedangkan pemuda yang berwajah tanpa ekspresi, Keito, sedang sibuk dengan keitainya.
“Arigatou, Keito~” Yuto memeluk pundak sahabatnya
“Douitashimashita,” sahut Keito, “Sudah kubilang kan, kalau mau berusaha pasti bisa selesai!”
“Un! Kau memang sahabatku yang paling pintar!” puji Yuto
“Hanya ‘pintar’?” tanya Keito dengan ekspresi datarnya
“Ne? Baiklah... Kau memang sahabatku yang paling pintar, paling baik, paling sabar, paling ganteng, dan paling macho! Hahahaha puas?” canda Yuto
“Hahahahaha...” Keito tertawa mendengar candaan sahabat baiknya itu
“Tapi tetap saja, meskipun kau ini memang pintar, baik, dan sabar. Buat urusan ganteng dan macho tetap aku rajanya!” tambah Yuto. Dan tawa mereka pun meledak.

Keesokan harinya, Keito sedang menatap kalender yang terpampang di layar keitainya. 9 Agustus. Besok adalah tanggal 10 Agustus, tanggal yang spesial bagi sahabat baiknya, Nakajima Yuto. Ya, besok adalah hari ulang tahun Yuto. Pemuda bermarga Okamoto dan beberapa temannya yang lain telah menyiapkan sebuah pesta kejutan bagi Yuto. Pestanya mungkin hanya akan jadi pesta yang sederhana, tapi akan jadi momen yang berharga karena dihadiri oleh sahabat-sahabat Yuto serta keluarganya.
Pemuda bermarga Okamoto itu menopangkan dagunya pada tangan kanannya. Kedua onyx milik pemuda itu ia arahkan pada langit malam yang cerah penuh dengan bintang. Ia sedang sibuk mengulang rencana pesta kejutan yang ia buat sendiri untuk sang sahabat dalam benaknya.
Akiramenai kimi ga ireba
Keitai Keito berdering. Sebuah nama terpampang di layar.
Morimoto Shintaro
Calling
Donna toki mo—PIP
“Moshi-moshi Shintaro, doushita?”
“Keito-nii! Ini aku! Ryutaro! Aku pinjam keitainya Shintaro, soalnya keitaiku low bat dan aku lupa dimana menaruh chargernya!”
“Ooh ternyata kau Ryuu... Bagaimana persiapannya?” tanya Keito
“Semuanya sudah hampir sempurna! Hanya tinggal membuat kuenya besok! Keito-nii bisa jamin Yuto akan sampai setelah kuenya matang?” tanya Ryutaro pada kakak kelasnya
“Tentu,” Keito mengangguk
“Yokatta... semoga dia senang dengan kejutan yang kita buat, ne?”
“Un,” sekali lagi Keito mengangguk
“Ano, sudah dulu ya Keito-nii! Shintaro sudah mulai ngomel-ngomel nih... Mata ashita! Jaa!”
Dan sambungan pun terputus.
Keito tersenyum membayangkan pesta kejutan bagi sahabatnya. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk membuat momen yang indah bagi sahabatnya. Yah, hitung-hitung balas budi. Karena saat tanggal 1 April lalu, saat ulang tahunnya, Yuto membuat pesta kejutan yang benar-benar ramai untuknya. Ia bahkan memberikan sebuah novel yang sudah lama ingin dibeli oleh Keito sebagai hadiah ulang tahun.
Pandangannya ia jatuhkan pada sebuah benda yang terbungkus rapi dengan kertas kado berwarna jingga, warna kesukaan sahabatnya. Tentu saja itu adalah kado yang sudah disiapkan Keito untuk Yuto. Isinya? Sebuah topi. Keito tahu sahabatnya yang satu itu sangat suka mengoleksi topi dan Keito ingat saat itu sahabatnya ingin membeli topi itu, tapi tidak jadi karena uangnya kurang.
Drrt drrt
Keitai Keito bergetar beberapa kali, menandakan ada mail masuk.
From: Yamada Ryosuke
Subject: Untuk besok
Keito, konbanwa! Hanya ingin bilang, aku akan menggantikan Chii untuk membantu bibi membuat kue tartnya besok. Bagaimana persiapan yang lainnya? Sudah beres?

To: Yamada Ryosuke
Subject: Re: Untuk besok
Yamachan, konbanwa. Baguslah, arigatou na. Tapi ingat, jangan habiskan strawberrynya! Persiapannya tentu saja sudah beres.

From: Yamada Ryosuke
Subject: Re: Re: Untuk besok
Hahaha kuusahakan deh! Yeey! Aku tidak sabar untuk melihat muka terkejutnya Yuto besok! ^o^ Semoga semuanya berjalan lancar, ne?

“Ya, Semoga besok semuanya berjalan lancar...” gumam Keito sebelum memutuskan untuk tidur.


Keesokan harinya saat jam pulang sekolah, Yuto tengah asik membaca komik pinjamannya.
“Yuto, tolong gantikan aku menulis buku piketnya. Aku ada rapat koordinasi dengan anggota OSIS yang lain. Hanya sebentar kok!” Keito menyerahkan sebuah buku bersampul hijau tua pada sahabatnya yang sedang sibuk membaca komik di bangkunya
“Ne? Malas... Lagi pula petugas piket kan ada dua setiap harinya, kenapa tidak minta petugas piket yang satunya?” jawab Yuto malas tanpa mengalihkan pandangannya dari komik yang ia baca
“Karena Yamachan tidak masuk, baka!” jawab Keito kesal
“Lalu kenapa harus aku?” tanya Yuto, kali ini ia menatap Keito
“Hitung-hitung balas budi. Aku kan sudah menunggumu selama satu jam dua puluh lima menit dan membantumu mengerjakan PR.” kata Keito
“Haaah... Dasar kau ini... Baiklah. Asal tidak lama!” akhirnya Yuto menyetujui permintaan sahabatnya dan membuka buku piket yang tadi diberikan Keito
“Yuto, arigatou gozaimasu!” kata pemuda bermarga Okamoto itu sebelum keluar dari kelas

From: Yamada Ryosuke
Subject: Keitoooo!
Keitooo tartnya sudah jadi dan persiapan sudah beres! Kalian akan ke sini sebentar lagi kaan?
-Chii
NB: aku pinjam keitainya Yamachan tanpa bilang-bilang! Jadi balasnya cepat ya, aku tidak mau ketahuan sama Yamachan! :P

To: Yamada Ryosuke
Subject: Re: Keitoooo!
Hahaha dasar kau ini... Sudah beres? Baiklah, kami akan ke sana sebentar lagi.

From: Yamada Ryosuke
Subject: Re: Re: Keitoooo!
Cepat ya! Nanti makanannya dingin dan jadi tidak enak! :D

Keito tersenyum membaca mail dari salah satu sahabatnya, Chinen Yuuri. Ia pun mempercepat langkahnya untuk mencapai kelas.


“Kau ini lama sekali sih?” keluh Yuto setelah melihat Keito masuk ke kelas
“Tadi itu cuma sebentar kok. 30 menit saja tidak sampai.” sahut Keito cuek, seperti biasa
“Terserah kau saja deh...” Yuto mengalah. Ia tahu ia hanya akan kesal sendiri kalau terus melanjutkan perdebatannya dengan sahabatnya yang satu ini. Dan mereka berdua pun berjalan keluar dari kelas mereka.

Yuto merasakan jantungnya berdegup kecang. Entah kenapa ia merasa ada hal buruk yang akan terjadi. Entah pada dirinya, keluarganya, temannya, atau kenalannya. Yang pasti firasat buruk itu sudah menghantuinya sejak tadi pagi. Tapi ia mencoba untuk tidak memikirkan firasat itu. Sampai beberapa menit yang lalu, usahanya memang berhasil. Sayangnya entah mengapa jantungnya semakin berdegup kencang seiring dengan langkahnya yang menjauhi gerbang sekolah.
“Yuto, doushite? Tumben sekali kau melamun,” pertanyaan Keito membuyarkan lamunan pemuda jangkung itu
“Ne? Nandemonai...” jawab Yuto setengah menerawang, “Hanya punya firasat buruk,” gumamnya. Sayangnya pemuda yang berjalan di sampingnya tidak mendengar gumaman sulung Nakajima itu. Jadi ia hanya menanggapi jawaban temannya dengan mengangkat bahunya bersamaan.
Mereka berdua berjalan menyeberangi zebra cross dalam diam—Keito yang memang sifatnya pendiam dan Yuto yang masih sibuk dengan usahanya untuk tidak menghiraukan firasat buruknya. Tanpa disadari, lamunan Yuto membuatnya memperlambat langkahnya, membuatnya tertinggal beberapa langkah dari sahabatnya. Sayangnya Keito sama sekali tidak menyadari hal itu karena saat itu cukup banyak orang yang menyebrang bersama mereka.
Keito menoleh ketika sudah menginjak trotoar lagi, “Yuto—“ pemuda itu tidak melanjutkan kata-katanya ketika tidak melihat sosok pemuda bertubuh tinggi kurus di sampingnya. “Yuto?” onyx Keito mencari-cari sosok sahabatnya.
Tak terlalu sulit menemukan Yuto yang notabene bertubuh cukup tinggi dan masih memakai seragam SMA mereka. Pemuda bertubuh tinggi itu menghentikan langkahnya tepat di tengah zebra cross dengan tatapan kosong, entah apa yang ia lakukan. Hal itu membuat Keito cukup panik saat ia sadar bahwa lampu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau.
“Yuto! Nakajima Yuto!!” panggil Keito sekeras mungkin
Tampaknya itu berhasil, Yuto tersadar dari lamunannya dan menatap Keito. Tapi tampaknya sulung Nakajima itu belum sepenuhnya sadar dari lamunanya.
“Cepat kemari, baka!” seru Keito
Yuto terlihat sedikit bingung sebelum mengambil satu langkah maju. Sayangnya ia sama sekali tidak sadar suara klakson mobil yang sedang melaju meraung-raung. Keito yang menyadari hal itu langsung saja maju untuk menyelamatkan sahabatnya.
BRAAAKKK
DUAAAK
Kejadiannya begitu cepat, hanya selang beberapa detik setelah Keito melangkahkan kakinya ke arah sang sahabat. Bahkan tak semua entitas yang berada di sekitar tempat kejadian menyadari apa yang baru saja terjadi. Yang mereka tahu hanyalah sesosok tubuh pemuda yang memakai seragam SMA sedang terbaring di aspal dengan bersimbah darah.
Butuh waktu beberapa detik bagi Keito untuk sadar dari shocknya dan menyadari segalanya. Kedua onyx pemuda berambut raven itu terbelalak seketika ketika ia melihat darah yang tercecer di jalan adalah milik sahabatnya, “Yutoooooooo!!” panggilnya sambil berlari ke arah sang pemilik nama yang tidak sadarkan diri. Ia mengguncang-guncang bahu sahabatnya. “Yuto! Jangan mati!” serunya pada sosok yang bahkan sepertinya tidak mendengarnya.
“Ambulans! Tolong panggil ambulans!” seru Keito pada kerumunan orang yang mulai berkumpul di sekeliling mereka. Tampak seorang lelaki paruh baya langsung mengambil keitainya untuk memanggil ambulans.
Pemuda bermarga Okamoto itu menatap sungai darah yang bermula di kening Yuto dan beberapa luka menganga yang terus mengucurkan darah dengan tatapan ngeri. “Yutoo! Nakajima Yuto!! Bangun, baka!” Keito kembali berseru
Ia segera menghela nafas lega begitu melihat kedua kelopak mata sahabatnya terbuka dengan perlahan, “Kei...to...?” gumam Yuto dengan suara yang sangat lemah
“Ya, ini aku!” sang pemilik nama mengangguk cepat, “Kau harus bertahan! Bersabarlah sebentar, ambulans akan segera datang!”
“Ku...rasa... su...dah... wak...tunya...” bisik Yuto terputus-putus
“Tidak! Kau harus pulang! Kami sudah menyiapkan pesta ulang tahun dan hadiah untukmu!” bulir-bulir air mata mulai terbentuk di kedua mata Keito
“Sou... desu... ka? Hon...tou... a...ri...ga...tou... na.... Keito...” Yuto tersenyum sebelum akhirnya menutup kembali kedua kelopak matanya.
Nakajima Yuto telah menghembuskan nafas terakhirnya.
“Yuto? Yuto!!! Yuto! Jangan matii!” air mata sudah membuat jalurnya sendiri menuruni pipi Keito, “Yutoo!” pemuda itu sekali lagi mengguncang-guncangkan bahu sahabatnya yang telah tiada. “Yutoo!” ia pun memeluk tubuh sahabatnya erat-erat.
Bisikan-bisikan iba mulai terdengar di kerumunan orang yang mengelilingi dua pemuda itu. Biasanya Keito akan merasa risih jika banyak orang mengerumuninya—apalagi sampai membicarakan dirinya tepat di hadapannya. Tapi kali ini ia tak ambil pusing soal itu. Yang ia pedulikan hanya satu, sosok yang kini tengah terbaring tak bernyawa di dalam pelukannya.

Suasana duka menyelimuti kediaman Nakajima. Setiap orang yang keluar maupun masuk rumah itu pasti menggunakan pakaian hitam tanda duka. Tentu saja mereka berduka atas kematian sang sulung Nakajima yang datang begitu tiba-tiba.
Rasanya kabar akan kematian Yuto sudah melunturkan seluruh warna-warni kebahagiaan yang semula ada di rumahnya, menggantinya dengan warna kesedihan. Pesta ulang tahun yang meriah kini tak bisa terlaksana. Kue tart yang sudah dibuat kini hanya teronggok begitu saja di meja makan beserta beberapa makanan kesukaan sang sulung Nakajima. Hadiah-hadiah ulang tahun yang sudah dipersiapkan kini tak akan pernah dibuka oleh pemuda yang berulang tahun. Dekorasi yang meriah pun kini hanya membuat pilu di hati saat menatapnya.
Sungguh ironi bagi setiap orang yang mengenal Nakajima Yuto. Di tanggal 10 Agustus, hari di mana seharusnya ia merayakan ulang tahunnya, Kami-sama malah mengambil nyawanya. Bahkan pesta ulang tahun yang sudah dipersiapkan pun berubah menjadi pemakaman.
Satu per satu sahabat-sahabat Yuto bangkit dari posisi duduk mereka dan berjalan ke sisi ruangan. Tak ada ekspresi lain yang tampak di wajah-wajah muda mereka selain duka yang mendalam.
Onyx Keito menangkap bayangan Nyonya Nakajima, ibu dari sahabatnya. Ia pun berjalan menghampiri wanita paruh baya itu. “Oba-san,”
“Ah, Keito...” wanita itu menoleh sambil menyeka air matanya dengan sapu tangan
“Gomenasai...” Keito membungkuk dalam-dalam di hadapan wanita itu
“Doushite?”
“Kalau saja aku sadar lebih cepat... Pasti tidak akan kubiarkan Yuto menghentikan langkahnya di tengah zebra cross.” jawab Keito
“Tidak, ini bukan salahmu, Keito. Aku tahu kau pasti bermaksud untuk menolong Yuto,” wanita itu tersenyum, berusaha tampak tegar. Namun Keito masih dapat melihat tatapannya yang sendu dan mendengar kegetiran dalam suaranya.
“Tapi aku—“
“Berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Kami tidak menyalahkanmu, tidak akan pernah. Mungkin ini memang takdir yang sudah ditentukan Kami-sama bagi kami.” Nyonya Nakajima memotong kata-kata Keito, “Kau sudah banyak membantu Yuto. Aku benar-benar berterimakasih padamu, Keito.” Keito hanya tersenyum tipis menanggapi kalimat terakhir ibu dari sahabatnya.
“Kalau begitu saya permisi dulu,” pamit Nyonya Nakajima, Keito mengangguk.
Ia menatap foto Yuto yang diletakkan di altar. Pemuda bertubuh jangkung itu tengah tersenyum lebar di dalam foto itu. Tapi senyum itu malah membuat perasaan bersalah yang hinggap di dada Keito semakin besar. Ia tundukkan kepalanya, tak berani menatap foto itu.
‘Gomenasai Yuto... 5 detik... Jika saja Kami-sama memberikanku 5 detik... Aku hanya butuh 5 detik untuk mengubah ini...’ Dan setitik air mata mengalir di pipi Keito.
“Ini memang takdirku, aku tahu. Hontou arigatou na, Keito...”
“Yuto?!” pemuda berambut raven itu menatap foto sahabatnya
“Sayonara...”



THE END

Endingnya ga jelas? Aneh? Emang iya...
Sebenernya aku agak bingung mau gimana bikin endingnya. Ya terus aku ketik aja ide-ide yang kelewatan di kepala. Dan begitu sadar, ternyata jadinya kaya gini. Tadinya pengen diganti, tapi sudahlah... Nasi sudah menjadi bubur... #tampoled
Aku sedikit ragu juga sih sama fic ini. Soalnya begitu dibaca ulang, kok kesannya ga kaya ‘Friendship’ dan malah kaya ‘Romance’ ya? Tapi sumpah deh, ga ada niatan bikin Romance... Niatnya cuma bikin Angst/Friendship doang...
Eh iya, soal Ryutaro yang manggil Keito dengan sebutan ‘Keito-nii’ itu Cuma gara-gara Ryutaro udah nganggap Keito kaya kakak sendiri gitu.
Si Author sarap ya? Orang ultah malah dibikin meninggal ditabrak mobil. Kasian banget.. Dan Author beneran nangis waktu ngetik deskrip waktu Yuto ketabrak sampai akhirnya meninggal. Soalnya ga tegaaa T^T *curcol #gaploked

Btw ini fanfic yg dibikin......... sekitar 3 tahun yang lalu. Hahahaha udah lama ya ternyata. Aku pikir fanfic ini udah di re-post di lj tapi tertnyata belum hahahaha jadi baru sempet sekarang deh di-repost. Hmm berhubung ini masih bulan Agustus ga apa-apa lah ya, ga terlalu telat(?)
Last, comment please?

Gombal! (OkaMori version)

Title: Gombal! (OkaMori version)

Author: Mochiraito
Summary:
Kau tahu Trematoda? Apa maksud Ryutaro adalah menyindir Keito?

Disclameir: All Hey! Say! JUMP members belongs to Kami-sama, their parents, and Johnny's Jimusho; Gombal! (OkaMori version) belongs to Mochiraito

WARNING! Contains: OkaJima, OOCness, ABALness, GAJEness, LOCH(?)ness, EPIC FAIL plot, EPIC FAIL story, EPIC FAIL gombalan.

DON'T LIKE DON'T READ!
ENJOY!

[“Cacing hati?”]
Sebuah ruang make-up di sebuah studio pemotretan tampak sedang dipenuhi dengan berbagai aktivitas. Beberapa penata rias tampak sibuk merapikan riasan lima dari sepuluh pemuda yang ada di ruangan itu. Mulai dari mengecek kerapian baju mereka, tatanan rambut mereka, sampai seulas tipis polesan make-up di wajah mereka yang sudah tampan dari sananya. Sedangkan para pemuda yang termasuk ke dalam sebuah boyband ternama di Jepang itu menunggu dengan melakukan berbagai aktivitas berbeda.
“Ne, Yama-chan, Fujigaya-senpai titip salam untukmu,” kata Yuto tanpa melepaskan tatapannya dari layar keitainya.
“Ah, sou ka...” gumam Ryosuke, mencondongkan tubuhnya untuk ikut menatap layar keitai sahabatnya.
Di sebelahnya, seorang pemuda lain tengah sibuk mengetikkan sesuatu di keitainya juga. Perhatiannya sama sekali tak teralihkan oleh suara-suara teman-temannya maupun tangan penata rambut yang sedari tadi merapikan poninya dengan telaten. Tiba-tiba saja ia terlonjak senang, “Yes! Aku akan makan siang dengan Ohno-senpai besok!”
“Waaah... Omedetou Chii!” seru Hikaru sambil bertepuk tangan dengan heboh, diikuti Yuto, Ryosuke, dan Kouta.
“Arigatou...” Yuuri tersenyum senang.
Di pojok ruangan, Daiki tampak duduk diam dengan sebuah majalah di pangkuannya. Terlihat sekali pemuda itu tidak sedang membaca satu pun huruf yang tertulis di dalamnya.
“Dai-chan, ngantuk ya?” Kei menepuk pundak pemuda bertubuh chibi itu. Sang lawan bicara hanya mengangguk pelan.
“Ryuu, mainnya sudahan dong... Aku kan mau pinjam...” rengek Yuya sambil mengguncang-guncang tubuh pemilik nama itu.
“Aduh, diam dong... Nanti malah jadi mati!” Ryutaro mengibas-ngibaskan tangan kirinya ke arah Yuya, mencoba mengusir pemuda yang lebih tua lima tahun darinya itu. Sementara tangan kanannya menjauhkan PSP miliknya dari jangkauan Yuya.
“Ryuu...” rengek Yuya lagi, malah semakin mengguncang tubuh Ryutaro, “pinjaaaaaaam....”
“Aaaaaah!” Ryutaro menatap tulisan merah yang berkedip di layar PSP miliknya dengan kesal. Kemudian ia menoleh ke arah teman segrup yang sejak tadi mengguncang tubuhnya, “Tuh kaaan! Jadi kalah!” serunya marah.
“Ah, gomen...” Yuya menggaruk belakang lehernya yang sama sekali tidak gatal.
“Sudahlah Ryuu, kau pinjamkan saja PSPnya. Toh kau sudah memainkannya sejak di mobil kan?” lerai Keito yang baru saja selesai ditata rambutnya. Mendengar itu, Ryutaro menyerahkan PSP itu pada Yuya dengan ekspresi yang sama sekali tidak ikhlas.
Pemuda bermarga Okamoto itu duduk di sebuah kursi yang menempel di salah satu dinding ruang rias itu. Ia mengambil tempat duduk tepat di samping Ryutaro yang sedang menekuk bibirnya dengan kesal. “Kau kesal?” tanya Keito.
“Sudah jelas kan?” gumam Ryutaro.
“Kalian kan bisa saling pinjam,” katanya Keito.
“Tapi aku bosan!” Ryutaro melipat kedua tangannya di depan dada.
“Kalau begitu lakukan sesuatu yang tidak membuatmu bosan,” usul Keito.
“Misalnya?” tanya Ryutaro, menaikkan sebelah alisnya.
“Terserah padamu,” Keito mengangkat kedua bahunya bersamaan, “kau yang bosan, kan?”
Ryutaro hanya bermanggut-manggut mendengar jawaban dari pemuda bermarga Okamoto itu. Ia sendiri sangat bingung. Baginya PSPnya adalah satu-satunya hal yang bisa mengusir kebosanan di saat menunggu. Sama sekali tak terpikir olehnya saat PSP itu tidak berada di tangannya saat ia sedang bosan menunggu. Tiba-tiba sebuah ide terlintas di pikirannya.
“Keito, aku tahu hal yang tidak membosankan!” katanya dengan senyum lebar di bibirnya.
“Apa itu?” tanya Keito penasaran.
“Mengingat pelajaran biologi!” serunya, “Habisnya sebentar lagi aku akan ulangan, jadi mau tidak mau aku harus belajar kan?” tambah pemuda itu. Keito mengangguk.
“Keito, aku mau tanya dong!” Keito melirik lawan bicaranya.
“Kau tahu cacing trematoda dari phylum Platyhelminthes?”
“Ha?” Keito mencoba mengingat-ingat nama itu, “Cacing hati?” tanyanya.
“Ping pong! Tepat sekali!” Ryutaro mengangguk dengan semangat, “Tahu tidak? Aku ingin sekali jadi cacing trematoda!”
Keito menunjukkan ekspresi bingung, “Maksudmu? Kenapa kau ingin jadi cacing?”
“Karena dengan menjadi cacing trematoda atau cacing hati, aku bisa hidup di hatimu!” kata Ryutaro.
Keito tak langsung merespon kata-kata anggota termuda Hey! Say! JUMP itu. Ia tak tahu harus mengatakan apa. ‘Apa maksudnya menyindirku kalau aku penyakitan?’ Tapi Keito sama sekali tak mengutarakan kalimat yang sudah terlontar dalam benaknya itu.
.
.
THE END
Endingnya gaje banget ya? Hahahaha gomen... Aku bingung sih mau dibikin gimana. Hontou ni hontou ni gomen kalau gombalannya super gaje tingkat dewa! Kayanya gombalan kaya apapun sama sekali ga akan mempan buat Keito deh! Huahahahahaha
Entah kenapa waktu Fika ngomongin gombalan trematoda, aku langsung kepikir Ryutaro. Jadi akhirnya aku masukin Ryuu deh!
Review?

Gombal! (OkaJima version 2)

Title: Gombal! (OkaJima version 2)

Author: Mochiraito
Summary:
Setelah Keito berhasil menangkis jurus-jurus gombalan dari Ryutaro dan Yuto, bisakah ia sukses melancarkan jurus gombalnya?

Disclameir: All Hey! Say! JUMP members belongs to Kami-sama, their parents, and Johnny's Jimusho; Dialogue belongs to Mochiraito

WARNING! Contains: OkaJima, OOCness, ABALness, GAJEness, LOCH(?)ness, EPIC FAIL plot, EPIC FAIL story, EPIC FAIL gombalan.

DON'T LIKE DON'T READ!
ENJOY!

[“Gombalanmu itu sudah basi!”]Sudah seharian ini kesepuluh anggota Hey! Say! JUMP melakukan aktivitas keartisan mereka yang sudah mulai menjadi rutinitas mereka sejak beberapa tahun lalu. Meski lelah, mereka tetap senang melakukannya. Tak jarang mereka langsung tertidur begitu sampai di rumah yang mereka tempati. Seperti yang dilakukan salah satu anggota Hey! Say! JUMP yang berwajah manly dan dijuluki English Prince, Okamoto Keito. Tubuhnya sudah terlalu lelah karena kemarin malam hanya sempat tidur empat jam kurang, karena insomnia yang akhir-akhir ini dideritanya, padahal hari ini jadwalnya begitu padat. Hikaru, yang menghuni kamar yang sama dengan Keito hanya terkekeh geli menatap rekan segrupnya itu tertidur pulas sebelum melenggang keluar menuju ruang makan.
Tak butuh waktu lama bagi Yuto untuk menyadari jika Keito tak ada di ruang tengah maupun ruang makan. Sekali lagi ia memastikan jika Keito memang tak ada di dua ruangan itu. Ia menoleh pada Hikaru yang sedang mengobrol dengan Kouta dan Yuya di meja makan sambil asyik mengemil jeruk yang baru kemarin dikirimkan ibu Hikaru.
“Hikka, Keito mana?” tanya Yuto.
Telunjuk Hikaru mengarah ke atas, “Tidur,” jawabnya singkat.
Yuto mengangguk lalu menghela nafasnya. Ia tahu sang English Prince pasti kelelahan. Keito memang sudah menceritakan tentang insomnia akhir-akhir ini dideritanya pada Yuto. Bosan, ia pun meraih remote televisi dan mulai memindah-mindahkan channelnya, mencari acara yang menarik.
.
Kedua orb onyx Yuto kembali menatap jam di ruang tengah rumah Hey! Say! JUMP. Jarum pendeknya hampir menunjuk pada angka dua, sedangkan si jarum panjang masih bermalas-malasan di angka delapan. Untuk kesekian kalinya ia menghela nafas. Ia merutuki dirinya yang masih belum merasa mengantuk sedikit pun. ‘Apa insomnia Keito menular padaku?’ pikir Yuto. Kemudian pemuda itu terkekeh sedikit, ‘Jangan konyol!’ ia mengusir pikiran bodohnya tadi.
Jari-jari Yuto kembali menekan tombol remote televisinya untuk kembali mencari acara yang menarik di televisi yang sejak tadi menemaninya, bahkan saat teman-temannya satu per satu beranjak ke kamar untuk tidur. Tidak menemukan acara yang terlalu menarik, ia memilih untuk menonton berita. Siaran acara beritanya cukup membosankan menurut Yuto. Namun pemuda jangkung itu berharap rasa bosan akan membuatnya mengantuk.
Karena rasa bosan tak kunjung membuatnya mengantuk, pemuda itu memutuskan untuk pergi ke kamarnya. Mungkin rasa kantuk akan segera mendatanginya kalau ia sudah berbaring di atas kasur empuk dengan selimut membungkus tubuhnya. Baru saja Yuto hendak mematikan televisi, ia dikejutkan dengan suara langkah kaki yang terdengar semakin dekat dari arah tangga. Yuto yakin, seseorang tengah menuruni tangga. Ia memutuskan untuk membiarkan televisi tetap menyala, masih menampilkan acara berita. Kemudian kembali mengalihkan tatapannya pada televisi itu.
“Yuto?” sang pemilik nama menoleh, mendapati Keito tengah menuruni tangga. Tangan kanannya tengah menggaruk belakang kepalanya, membuat Yuto memerhatikan rambut Keito yang tampak berantakan. Dari melihat wajahnya saja, Yuto bisa langsung mengetahui Keito baru saja terbangun.
“Hai, Keito.”
Keito menguap, “Kau belum tidur?” tanyanya sambil terus berjalan ke arah Yuto.
“Begitulah,” Yuto melebarkan cengiran di bibirnya. “Kupikir insomniamu menular padaku.”
“Baka,” Keito segera mengambil tempat di sebelah Yuto di sofa yang ia duduki.
“Kenapa kau bangun?” tanya Yuto yang sudah seratus persen mengabaikan televisi yang masih menyala.
“Aku dengar suara dan lampu masih menyala,” jawabnya singkat, kali ini mengucek matanya yang masih setengah tertutup sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa.
“Ah, berarti aku membangunkanmu, ya? Gomen ne,” kata Yuto. Ia kembali mengalihkan tatapannya pada televisi yang sedang menampilkan sederetan iklan-iklan.
Tak ada kata-kata yang lolos dari mulut keduanya. Entah apa yang membisiki Yuto, tiba-tiba ia ingin sekali menggombali pemuda di sampingnya, lagi. Sayangnya ingatan tentang kegagalannya tempo hari membuat Yuto kembali mengurungkan niatnya. Lagi pula saat itu malah Keito yang membuat wajahnya memerah karena gombalannya. Yuto sama sekali tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri dengan menunjukkan wajah seperti itu lagi di hadapan Keito, mau ditaruh di mana harga dirinya nanti?
Lama tak bersuara, Yuto curiga pemuda yang duduk di sampingnya itu tertidur. “Keito?” panggil Yuto.
“Hm?” suara Keito terdengar menyahuti. Yuto tak mengatakan apa-apa, hanya kembali menatap televisi. “Apa?” tanya Keito, menoleh pada Yuto.
Yuto menggeleng, “Kupikir kau tidur.”
“Hmm...” Keito memejamkan matanya.
Melihat itu dari sudut matanya, Yuto bertanya, “Kau mengantuk?”
Kepala Keito terlihat menggeleng, “Tidak. Aku bosan,” jawabnya singkat.
“Wah, sama!” kata Yuto ceria. Keito tak menyahutinya. Tak lama kesunyian kembali berada di antara mereka. Yuto menghela nafas.
“Ne, Yuto,” Keito membuka matanya, “ingat gombalanmu waktu itu? Tentang ayahku,” katanya.
Yuto mengangguk ragu, “Kenapa?”
Keito menahan ekspresi datar di wajahnya, “Gombalanmu itu sudah basi!”
Yuto mengangkat sebelah alisnya, “Oh ya? Kalau begitu gombalan yang belum basi itu yang bagaimana?” tantang Yuto.
Keito terlihat berpikir sebentar. Kemudian bibirnya menyunggingkan senyum tipis, “Ne, kau tahu kan aku ini anggota boyband yang terkenal seantero Jepang?”
“Baka! Mana mungkin aku tidak tahu, kita kan ada di grup yang sama!” sahut Yuto.
“Kau juga tahu kan aku mahir bermain gitar?”
“Pasti, kita kan sering bermain bersama dalam konser,” Yuto mengangkat bahu, sebenarnya ia tidak mengerti maksud Keito mengatakan hal itu.
“Kau juga tahu kan, aku pintar berbahasa inggris? Yah, meskipun aku sendiri tidak begitu menyukai berbicara bahasa inggris. Kau tahu itu kan?”
Yuto mengangguk.
Keito melebarkan senyuman di bibirnya, “Kau juga tahu kan ibuku seorang model?”
Yuto mengangguk lagi. Ia semakin tidak mengerti arah pembicaraan ini. Bukan kah tadi Keito ingin menunjukkan gombalan yang belum basi? Ini sih cuma cerita soal dirinya sendiri.
“Terakhir, kau tahu kan ayahku personil band Otokogumi yang sangat terkenal.”
“Tentu saja aku tahu, Keito. Kau ini sedang apa sih? Katanya mau menggombal!” kata Yuto kesal.
Sekali lagi Keito melebarkan senyuman di bibirnya, “Kalau begitu, kau tidak mungkin tidak mau jadi pacarku kan?” katanya.
Kalimat terakhir Keito membuat wajah Yuto memerah dalam bilangan sepersekian detik. Skak mat! Tadi benar-benar gombalan mematikan—serangan telak bagi Yuto. Jujur, ia belum pernah mendengar orang menggombal seperti itu. Kata-katanya memang membuat wajah Yuto tersipu tapi ekspresi Keito lah yang membuat Yuto semakin salah tingkah. Ekspresinya memang serius seperti biasa, namun saat Yuto menatap matanya, entah kenapa wajahnya jadi semakin memanas. Sebelum Keito melihat wajahnya semakin memerah, Yuto segera memalingkan wajahnya ke sisi yang lain.
“Yuto?” tanya Keito. Ia sempat melihat wajah Yuto memerah sebelum pemuda jangkung itu memalingkan wajahnya dari tatapan Keito. Meskipun Yuto memalingkan wajahnya, ia masih bisa melihat telinga Yuto yang juga memerah.
“A-aku tidur dulu ya, o-oyasumi,” kata Yuto dengan suara kecil, masih berusaha tak menatap lawan biacaranya.
“Matte,” Keito segera menahan tangan pemuda jangkung itu sebelum ia melangkah pergi. “Yuto,” panggilnya.
“Hm?” shut Yuto pelan tanpa menoleh.
“Yuto, kocchi mite!” panggil Keito lagi.
“Apa sih?” Yuto menoleh, menunjukkan wajahnya yang masih memerah.
Keito mengulum senyumnya, “Saa, dou?”
Yuto melemparkan tatapan bingung, “Apanya?”
“Kau pasti mau jadi pacarku, kan?” tanyanya, kali ini dengan senyum tipis di bibirnya.
Yuto buru-buru menepis tangan Keito yang menahannya, “Baka!” katanya sebelum dengan cepat berlari menuju tangga. Ia tak ingin Keito melihat wajahnya bertambah merah.
‘Yatta! Aku berhasil membuat wajahnya jadi merah lagi!’ batin Keito.
.
.
THE END
Lagi-lagi kepanjangan! Huwaaa ga nyadar udah bikin sepanjang ini! Entah kenapa tangan aku tiba-tiba ngetik sendiri , mungkin gara-gara terlalu excited gara-gara bikin OkaJima lagi kali ya, setelah lama mantengin Yugo mulu hahaha... Need to see more OkaJima!
Sebenernya aku sendiri masih ga terlalu ngerti status mereka di fanfic ini. Dan bahkan aku ga tau maksud Yuto bilang ‘Baka!’ di akhir tuh apa. Aku bingung, antara mau bikin OkaJima akhirnya jadian atau ga jadian. Jadi aku bikin ga jelas aja. Yang penting goalnya Keito tercapai, kan?

Kioku~Himitsu~ [PIECE X]

Title: Kioku~Himitsu~
Author: Mochiraito
Summary:
A Hey! Say! JUMP fanfic—Bila hidup adalah hal yang membingungkan, maka ingatan adalah labirin yang pelik dan membuat kita semakin tersesat jika kita menjelajahinya. Summary aneh dan ga nyambung.

Disclameir: All Hey! Say! JUMP's members belongs to Kami-sama, their parents, and Johnny's Jimusho; Kioku~Himitsu~ belongs to Mochiraito

WARNING! Contains: AU, OC(s), OOCness, ABALness, GAJEness, LOCH(?)ness, EPIC FAIL story.

DON'T LIKE DON'T READ!
ENJOY!

PIECE #1: Kuuhaku
PIECE #2: Saigo no Kioku

PIECE #3: Shitsumon to Yume
PIECE #4: Meikyuu
PIECE #5: Deau
PIECE #6: Saikai
PIECE #7: Kioku
PIECE #8: Himitsu
PIECE #9: Densetsu no Kotae

.

[最後の願い]

.

PIECE #10:
[最後の願い]
Saigo no Negai (Last Wish)
::Dalam sebuah keinginan
pasti ada sebuah pengorbanan yang harus dilakukan
Itulah harga sebuah permohonan::

.
.
Yuto menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dalam satu hembusan panjang. Akhirnya hanya tinggal dirinya yang masih berdiri tegak di ruangan ini. Ia sudah tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Digenggamnya kristal hijau keruh di salah satu tangannya. Lalu tanpa keraguan sedikitpun ia menghempaskan kristal itu ke lantai dengan kekuatan yang menurutnya bisa memecahkan kristal rapuh itu dalam sekali gerakan.
Kedua onyx Yuto menatap kristal yang sudah berubah menjadi serpihan-serpihan kecil berwarna hijau yang berserakan di lantai. Tak ada yang terjadi—belum.
Beberapa sosok mulai mendapatkan kesadaran mereka secara satu per satu. Meskipun tak melihatnya, Yuto tahu shinigami yang akan segera kembali sadar dan shinigami yang membutuhkan waktu lebih lama untuk sadar. Semuanya disebabkan oleh kristal yang sejak tadi ia genggam.
“Apa yang barusan terjadi?” Ryosuke bertanya. Ia masih terduduk dengan kepala menopang kepalanya yang terasa sedikit pusing.
Yuto sama sekali tak menggubris pertanyaan itu, ia hanya menoleh pada sang penanya.
Ryosuke melemparkan tatapan penuh tanya sebagai balasan dari tatapan Yuto yang dilontarkan pada dirinya. “Kepalaku pusing sekali…” lirihnya.
Selang beberapa detik, Yuto dapat mendengar rintihan dari ketiga temannya yang lain. Tampaknya mereka sudah sadar, meskipun dengan kepala yang sedikit pusing. Maklum, itu adalah efek yang biasanya muncul setelah manipulasi ingatan dalam bentuk apapun.
“Yuto… Apa kita telah berhasil?” Akhirnya Keito bertanya setelah pusing di kepalanya sedikit reda.
Sang pemilik nama mengangguk, “Terima kasih…” Ia menatap teman-temannya satu per satu, “Maaf merepotkan kalian semua…”
Yuuri mengembangkan cengiran lebar di bibirnya dan menggeleng, “Kau tidak merepotkan kami kok!” ia meminta persetujuan dari teman-temannya yang lain, “Ya, kan?” Dengan cepat Keito, Ryutaro, dan Ryosuke pun mengangguk menyetujui pernyataan dari shinigami bertubuh mungil itu.
“Lalu apa yang akan kita lakukan pada mereka?” Ryutaro bertanya, menatap Daiki yang tengah terbaring pingsan di dekatnya.
“Yah, aku sudah memikirkan soal itu,” Yuto menatap kelima shinigami berpakaian hitam yang masih tak sadarkan diri. “Kurasa aku akan mengganti ingatan mereka.”
“Maksudmu?” tanya Ryosuke.
“Aku tidak akan mengganti ingatan mereka dengan kekuatanku, aku hanya meminta kalian untuk berakting,” Yuto melirik kelima temannya yang saling melempar tatapan bingung, “bagaimana?”
“Coba jelaskan,” pinta Yuuri.
“Mereka tak mengingat hal apapun yang terjadi hari ini. Jadi hal yang akan mereka ingat saat bangun nanti adalah hal yang terakhir terjadi kemarin,” jelas Yuto. “Kurasa lebih baik kita tak menyinggung tentang ini sedikitpun.”
“Jadi kita hanya akan bertingkah normal seperti biasa?” tanya Keito.
“Tepat sekali,” Yuto mengangguk.
“Ukh…” sebuah suara rintihan terdengar dari mulut Kouta.
“Keito, teleport ke tempat lain,” pinta Yuto cepat.
“Semua?” tanya Keito, sedikit kaget dengan permintaan yang tiba-tiba itu. Yuto hanya menjawabnya dengan anggukan.
Butuh beberapa detik bagi Keito untuk membuat warp hole besar yang bisa menelan mereka semua. Namun karena proses perpindahan yang sangat cepat, semua selesai bahkan sebelum siapapun menyadarinya.
Tepat setelah warp hole yang dibuat Keito menghilang, Kouta bangkit dari posisinya  dan mencoba duduk. Kepalanya terasa begitu sakit Semua hal yang tampak di hadapannya terlihat berputar, seakan-akan ia bisa merasakan rotasi bumi. Hal itu hampir saja membuat tubuhnya kembali jatuh pingsan. Ia memejamkan matanya dan mennarik nafas dalam-dalam, mencoba mengusir rasa pusing dari kepalanya.
Kouta menatap sekeliling, hanya ada hamparan rumput yang sangat luas. Matanya hanya menangkap beberapa pohon yang tumbuh cukup tinggi dan rapat di kejauhan serta atap dan menara-menara mansion mereka. “Setidaknya ini bukanlah tempat yang sangat jauh dari mansion,” batin Kouta lega.
Hal pertama yang ia ingat adalah mereka sedang mencari Hikari yang menghilang bersama dengan Yuto, Keito, Ryosuke, Yuuri, serta Ryutaro. Dengan cepat Kouta memaksa tubuhnya untuk bangkit dan kakinya untuk menopang seluruh berat tubuhnya. Tak butuh waktu lama bagi Kouta untuk menyadari kehadiran lima dari enam shinigami yang ia cari.
 “Mana Hikari?!”  serunya, matanya mencari-cari sosok shinigami bernama Hikari itu. Sesaat kemudian ia menemukan sosok shinigami termuda dalam Shinigami Chiimu tengah terbaring tak sadarkan diri di atas rumput, “Apa yang kalian lakukan?!”
Ryutaro, Yuuri, dan Ryosuke saling pandang. Jika perkataan Yuto benar, kenapa Kouta semarah ini? Kenapa Kouta mencari Hikari? Apa Kouta benar-benar melupakan seluruh kejadian hari ini?
Yuto, yang sudah berdiri di dekat Hikari, dengan katana yang tak tersarung melirik ke arah Kouta, “Kami? Apa maksudmu?”
“Kalian…” sang ketua Shinigami Chiimu menghunus katananya, “kalian akan membunuh Hikari!” kalimat itu bukan dilontarkan sebagai pertanyaan melainkan sebagai pernyataan.
“Tunggu, kau salah paham—” belum sempat Ryosuke menyelesaikan kalimatnya, Yuto sudah menyelanya, “Apa yang kau tahu?” tanya pemuda bertubuh jangkung itu.
“Kalian menghilang—melarikan diri, membawa Hikari bersama  kalian,” jawab Kouta dingin. “Kenapa kalian kabur? Apa yang sudah kalian—” Kouta tercekat, ia tak melanjutkan kalimatnya. “Kalian…” tatapannya mengarah pada kelima shinigami berpakaian putih secara bergantian, “adalah pelaku kasus pengambilan nyawa yang tak ada dalam daftar kematian…” ia menyimpulkan.
Keito menatap Yuto, ini tidak sama seperti yang Yuto katakan. Tak tahu apa yang harus dikatakan, Keito memilih bungkam.
Yuto membalas tatapan Keito, sebuah senyuman tipis terkembang di bibirnya, “Lalu?”
“Kau bahkan akan membunuh seorang shinigami…” tuduh Kouta.
Kini Yuto membalikkan tubuhnya menghadap Kouta, ia tak mengatakan apa-apa. Meskipun hanya sedikit, ia berusaha menyembunyikan rasa kaget agar tak tampak di wajahnya. Jujur saja, ini tak seperti yang recananya. Bahkan Kouta dapat langsung menarik kesimpulan dari semua fakta yang ada di otaknya. Namun ini adalah skenario terburuk yang telah ia bayangkan sebelumnya. Jadi otaknya tak terlalu kosong tanpa rencana.
“Keito, Yama-chan, Chii, Ryuu, kalian pergilah duluan,” kata Yuto tegas.
“Apa maksudmu?!” tanya Ryutaro lantang. Ia tak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Rencana yang ia tahu bukan begini.
“Cepat!” seru Yuto
Ryosuke lah yang pertama mengangguk, melirik sekilas pada Keito yang ia tahu memiliki pikiran yang sama dengannya. “Berhati-hatilah,” katanya singkat sebelum bersama Keito menarik kedua temannya yang lain menjauh.
“Berhenti! Jangan kabur!” seru Kouta, bersiap mengejar ketiga shinigami yang mulai menjauh.
Yuto melompat, persis ke depan Kouta, menghalangi jalan ketua Shinigami Chiimu itu. Tanpa mengatakan apapun, Yuto menghunus katananya, “Lawan aku.”
Kedua onyx Kouta menatap sengit pemuda yang ada di hadapannya. Dalam tempo kurang dari sepuluh detik, katananya pun sudah terhunus. Ia melompat mudur sejauh tiga meter dan memasang kuda-kudanya dengan mantap. Kepalanya masih sedikit pening karena alasan yang tidak ia ketahui tapi bagaimana pun kondisinya, ia harus menang melawan shinigami di hadapannya.
Tidak terlihat gerakan apapun dari Yuto selain gerakan tangannya yang mengangkat katananya. Tatapannya ia fokuskan pada sang ketua Shinigami Chiimu yang akan menjadi lawannya. Memang berat, ia tahu Kouta bukanlah lawan yang lemah dan ia pun tahu tidak akan mudah melawan salah satu temannya. Tapi bukan perasaan itu yang harus ia tampakkan! Ia harus menampakkan sikap angkuh dan kuat untuk meyakinkan Kouta bahwa kesimpulan yang diambilnya adalah benar.
“Ada apa? Kau takut?” tanya Yuto, sengaja memanasi lawannya. Diam-diam, otaknya menyusun sebuah rencana untuk memenangkan pertarungan ini tanpa perlu memberikan luka berat pada Kouta dan juga mendapat luka berat dari lawannya itu.
Kouta berdecak kesal namun ia tidak dengan mudah jatuh ke perangkap Yuto. Jari-jari tangan kanannya yang mulai berkeringat mempererat genggaman pada gagang katananya. Meskipun sulit, Kouta berusaha memfokuskan pikirannya. Entah mengapa bagian belakang kepalanya semakin terasa berdenyut-denyut, menyebabkan rasa pening menyebar di bagian lain kepalanya. Tangan kirinya ia gunakan untuk menekan pelipisnya, mencoba meredakan rasa pening yang mengganggu.
Tanpa aba-aba, Yuto melompat tinggi ke depan, melewati tubuh Kouta dengan satu lompatan. Kouta, yang tak mengantisipasi gerakan itu terlihat sedikit kaget. Kuda-kudanya goyah, entah karena rasa kagetnya atau rasa pening di kepalanya. Dengan gerakan cepat, Yuto menghantam punggung Kouta dengan gagang katananya.
“Akh!” Kouta terjerembab.
Sebelum sempat bangkit, Yuto menginjak punggung sang ketua Shinigami Chiimu, mencegahnya bangkit kembali. Erangan sakit yang tertahan terdengar dari mulut Kouta. Seulas senyum tipis muncul di bibir Yuto sebelum ia kembali menginjakkan kakinya di tempat yang sama. Lalu tanpa jeda yang berarti, menendang sisi tubuh Kouta.
Kepala Kouta berdenyut semakin kuat. Rasa sakit di tubuhnya menyiksanya. Jika saja tubuhnya dalam kondisi normal, ia pasti akan bisa dengan mudah bangkit kembali. Sayangnya kali ini rasa sakit di kepalanya yang tak kunjung hilang begitu menganggunya, membuatnya merasa begitu lemah dari serangan Yuto.
“Segini saja?” tantang Yuto, bibirnya tersenyum. Bagi Kouta, senyuman itu ia anggap sebagai senyuman kepuasan atas kemenangan Yuto melawan dirinya. Bagi Yuto, senyuman itu menandakan kelegaannya karena tak harus bertarung dengan sungguh-sungguh melawan Kouta. Sebenarnya ia tak tega melukai ketua Shinigami Chiimu itu, tapi apa boleh buat? Ia tetap harus melakukannya.
Kouta menggumamkan sesuatu yang tak terdengar jelas di telinga Yuto. Sekali lagi kedua onyx Yuto menatap sosok shinigami berbalut pakaian hitam yang tertelungkup di hadapannya. Ia berjongkok tepat di sebelah kepala Kouta lalu berkata dengan nada mengejek, “Sampai nanti, Yabu Kouta-sama.” Kemudian memukul bagian belakang leher Kouta dengan ujung gagang katana miliknya. Melihat kedua kelopak mata Kouta yang sudah terpejam, ia menghela nafas panjang.
Tak lama Yuto kembali berdiri dan menatap tubuh Kouta yang tak sadarkan diri. Setelah ini entah apa yang akan terjadi. Satu-satunya hal yang ia tahu adalah ia harus kembali mengumpulkan 1000 nyawa, mengulangi apa yang ia lakukan sebelum ini. Ia tahu ini akan berat, tapi bagaimana pun ia harus menepati janjinya. Sebenarnya ia bisa saja menghapus ingatan kelima shinigami hitam, tapi itu jelas akan menghabiskan energinya sendiri, membuatnya menghilang perlahan. Maka sudah jelas menghapus ingatan mereka berlima adalah opsi terakhirnya.
Yuto mengeratkan genggamannya pada gagang katananya, “Kami-sama biarkan aku menepati janjiku,” gumamnya. Berdoa bukanlah hal yang sering dilakukan oleh shinigami manapun tapi saat itu Yuto berdoa, memohon pada Kami-sama karena ia tahu hanya Kami-sama lah yang dapat menolongnya.
.
.
.
Aula besar itu sunyi senyap. Sebelas sosok shinigami memang ada di sana, namun tak terdengar suara apapun. Ryosuke, yang kini sedang mengecek kondisi keenam shinigami yang tak sadarkan diri, menghela nafas, mencuri perhatian keempat shinigami berpakaian putih padanya. “Yuto, dengan ini perjanjiannya akan batal bukan?” tanyanya.
Sang pemilik nama tak langsung menjawabnya. Ia, untuk kesekian kalinya, kembali memainkan jam pasir di tangannya. Yuto tahu, waktu terus berjalan ditandai oleh pasir yang terus meluncur mulus ke bagian bawah jam pasirnya. Kini hampir seluruh pasir di dalamnya terkumpul di bagian bawah. Waktu sudah hampir habis.
“Yuto!” panggil Ryosuke.
“Persetan dengan perjanjiannya Yama-chan! Sejak awal pun penyakit Hikari-chan tidak sepenuhnya menghilang karena insiden di ‘hari itu’!” seru Yuto bahkan tanpa menatap lawan bicaranya.
“Tenanglah...” Keito menghampiri Yuto, menepuk bahu rekannya. “Kita masih punya satu jalan terakhir bukan? Selama rencana ini belum gagal, masih ada kesempatan bagi Hikari-chan untuk sembuh.”
Yuto memejamkan kedua matanya, “Ya...” gumam shinigami bertubuh jangkung itu. Keheningan mengikuti gumamannya.
Ryutaro dengan cepat memecahkan keheningan tak berarti itu, “Lalu? Kita lakukan sekarang atau menunggu mereka sadar?”
Yuto melirik jam pasirnya, “Tunggu sampai mereka bangun, mereka harus mengetahui kebodohan mereka. Lagi pula mereka akan bangun sebentar lagi,” katanya tajam.
Tepat seperti kata-katanya, tak lama setelah kalimat itu meluncur dari mulut Yuto, satu persatu shinigami berpakaian hitam mulai mendapatkan kembali kesadaran mereka, tak terkecuali Hikari.
Seulas senyum kecut tampak di bibir Yuto. Dengan sigap ia meletakkan jam pasirnya di bufet lalu bangkit dari singgasananya. Belum sempat Kouta dan pada shinigami hitam mengucapkan sesuatu, perhatian mereka sudah tersedot pada Yuto. Ketua Shinigami Buangan itu tengah bertepuk tangan. Suara tepukan tangannya terdengar sangat nyaring bergema dalam aula besar itu.
“Selamat teman-teman!” serunya, menandingi suara gema tepukan tangannya sendiri. Kakinya melangkah ke arah Kouta yang terduduk menyandar pada dinding. Ia berjongkok, menyejajarkan kedua matanya dengan kedua mata Kouta yang masih berusaha memulihkan seluruh kesadarannya. Ia menepuk pundak Kouta sambil tersenyum mengejek, “Yabu Kouta-sama, selamat! Sebagai ketua Shinigami Chiimu serta sebagai orang yang menganggap Hikari sebagai adik sendiri dan berlagak paling mencemaskannya, kau sudah sukses membuat Hikari mendapatkan penyakitnya kembali!” mendengar hal itu Kouta mengernyit, semua ingatan yang berputar-putar di kepalanya terlalu banyak sehingga sangat membingungkan.
Yuto kembali berdiri dan menatap lima shinigami hitam yang belum terlihat sepenuhnya sadar, “Hahahahaha selamat!” ia kembali bertepuk tangan. “Hahahaha.. Kalian memang sangat hebat! Hahahahahaha!” sekali lagi tawanya membahana.
Tiba-tiba saja tawa itu terhenti. Sang ketua Shinigami Buangan itu menghunuskan katananya tepat ke depan wajah Kouta, kedua onyxnya memancarkan kemarahan. Dengan suara rendah ia berkata, “Kau puas Tuan Pahlawan?”
Kouta tertegun. Sekarang semuanya masuk akal. Bagaikan terbangun dari mimpi, Kouta mendapatkan seluruh kesadarannya dan dengan sendirinya ingatan dalam kepalanya terangkai dengan ingatan yang baru saja ia dapatkan menjadi memori yang utuh. Ia ternganga, menyadari tindakan bodohnya. Tubuhnya terkulai lemas, menyender pada dinding batu di belakangnya.
“Tenang saja, kalian sama sekali tidak merusak acara utama hari ini, kok!” Yuto menarik katananya dan menjauh dari Kouta. Ia melirik keempat shinigami putih di ruangan itu dan dengan segera mendapat respon berupa anggukan singkat dari keempatnya.
Kali ini Yuto menoleh pada Hikari yang bersusah payah duduk. “Maaf ya, meskipun saat itu aku gagal, kali ini aku pasti menepati janjiku,” ia tersenyum.
“Yuto... yamete...” lirih Hikari. Kepalanya terasa berdenyut hebat. Ia mengingat semuanya dan ia tahu apa yang akan dilakukan Yuto selanjutnya. Tapi ia tak bisa melakukan apapun untuk mencegahnya, tubuhnya menolak bereaksi pada perintah yang diberikan otaknya. “Lupakan janji bodoh itu!”
“Setelah ini mintalah kesembuhan untuk dirimu sendiri,” sahut Yuto. “Gomen ne, hanya ini satu-satunya hal yang bisa kulakukan, kami akan menjadi nyawa ke-1000,” ketua Shinigami Buangan itu tersenyum tipis sebelum menghujamkan katana miliknya pada tubuhnya sendiri. Tampaknya tanpa aba-aba lain, keempat Shinigami Buangan yang lain pun melakukan hal yang sama.
“YUUUTOOOOOO!” seru Hikari. Tangannya mencoba menggapai tubuh Yuto yang sedikit demi sedikit menghilang. “Tidak! Kau tidak akan membantuku dengan begini!” setitik air mata tampak bergulir mulus dari onyx Hikari. Ia menoleh ke arah lain, menemukan keempat shinigami buangan lain pun mulai menghilang sedikit demi sedikit. “Tidak! Kalian tidak boleh menghilang... Hentikan semua ini!” seru Hikari histeris, mencoba menggerakkan seluruh tubuhnya yang entah kenapa terasa seberat batu karang. “Tolong... hentikan semuanya... Aku tidak ingin kalian menghilang...” gadis shinigami itu terisak di tempatnya.
Tak butuh waktu lama sampai akhirnya kelima sosok Shinigami Buangan itu menghilang sepenuhnya dari ruangan. Seiring sosok kelimanya menghilang, kabut misterius mulai menyelimuti seluruh aula, diikuti hawa dingin yang datang begitu saja. Tentunya ini bukan hal yang begitu asing, seluruh shinigami dalam aula itu pernah melihat kejadian serupa. Sesuai tebakan mereka, sebuah suara terdengar menggema agung dalam ruangan, Kami-sama.
Tampaknya kau masih belum puas, Nakajima Yuto.
Dalam sekejap tubuh seluruh Shinigami Buangan mencul dari kabut. “Ya,” jawab Yuto singkat.
Kau mengorbankan nyawamu sendiri sebagai seorang shinigami, kau yakin?
“Ya,” ia mengangguk mantap.
Apa keinginanmu?
“Kami-sama, kau mengetahui keinginanku dengan baik. Aku yakin tidak ada gunanya kujawab pertanyaanmu tadi,” jawab Yuto datar.
Bagaimana, Mochizuki Hikari?
“A-aku...” gadis shinigami itu melirik singkat pada Yuto, “aku ingin bersama dengan teman-temanku. Meskipun itu artinya penyakit ini tidak hilang...” suaranya semakin lirih, “Aku ingin menikmati waktu bersama teman-temanku seperti dulu.”
“Baka! Kau—”
“Aku apa?” Hikari memotong perkataan Yuto, “Aku hanya ingin bersama dengan teman-temanku. Aku tidak ingin kalian menghilang karena aku...” tangisnya hampir pecah. “Kumohon... Kami-sama... aku ingin tetap bersama dengan teman-temanku... Aku tidak ingin mereka menghilang...”
Setiap keinginan yang terkabul butuh imbalan.
“Tunggu dulu! Ini semua terjadi karena kesalahanku!” suara Kouta terdengar nyaring, “Kalau ada yang harus menghilang atau mendapat hukuman apapun itu, akulah orang yang pantas!”
“Tidak,” Kei menatap seluruh kejadian di hadapannya, “kami pun ikut berperan dalam hal ini...” tambahnya.
“Inoo-chan benar,” sahut Hikaru, diikuti anggukan Daiki dan Yuya.
“Kou nii-chan! Semuanya! Hentikan!” pekik Hikari, “Tidak ada yang harus menghilang! Tidak ada!”
DIAM!
Suara tanpa wujud itu menggelegar.
Aku mengerti. Sudah kuputuskan, aku akan mengabulkan setiap keinginan kalian. Meskipun mungkin dengan cara yang tidak sesuai dengan rencana kalian. Setelah ini, hiduplah dalam kehidupan yang sudah kutentukan untuk kalian.
Selanjutnya, hal yang terjadi adalah kabut dalam ruangan itu menghilang, digantikan cahaya yang sangat terang, bagaikan membutakan penglihatan seluruh makhluk dalam ruangan itu.
.
.
.

An Epilogue

.
Langit di kota Tokyo terlihat begitu biru hari itu. Hanya tampak segaris tipis awan putih di langit yang menemani teriknya matahari musim panas yang begitu terik. Di bawahnya, tampak manusia sibuk berlalu-lalang tanpa saling memedulikan satu sama lain, tenggelam dalam kehidupan mereka masing-masing.
Hari itu matahari memang bersinar lebih terik dari hari-hari yang sudah dilalui di musim panas tahun ini, tampaknya jelas membuat banyak sekali manusia, khususnya penduduk Tokyo, mengeluh. Tak terkecuali pemuda yang sedang sibuk menikmati es krim yang tinggal sedikit dalam mulutnya. “Hoi, es krimnya masih ada tidak?” ia menyikut pemuda yang duduk di sampingnya.
Pemuda itu menggeleng, “Tidak, tadi kubeli sesuai jumlah orangnya,” jawabnya singkat. Tangannya sibuk mengipas-ngipas.
“Aih, harusnya kau beli lebih banyak sedikit...” keluhnya, “Lagi pula ini kan sudah di luar jam sekolah... Kenapa juga kita harus susah menunggu Sakurai-sensei di kelas?”
“Sudahlah, Yama-chan, ini kan bukan salah Ryuu. Nanti saja kau beli lagi saja es krimnya. Kau ini gembul sekali sih..” lerai seorang gadis.
“Nah! ” Morimoto Ryutaro mengangguk, masih sambil mengipasi tubuhnya sendiri.
Yamada Ryosuke membuang stik es krimnya ke dalam plastik. “Iya, iya... Kenapa sih Hikari-chan selalu membela Ryuu?” keluhnya.
“Karena Ryuu memang tidak salah,” sahut pemuda jangkung yang duduk di sebelah Hikari sambil asyik mengulum es batu dari es tehnya.
“Huu Yuto sih pasti juga membela Hikari-chan! Siapa coba yang akan membelaku?” cibir Ryosuke.
“Keito?” tanya Yuto.
No, thanks,” jawab Okamoto Keito sambil menahan kuap.
“Chii?” Yuto menoleh ke arah satu-satunya pemuda yang sedang berdiri sambi terkekeh.
“Gomen ne, Yama-chan... Kali ini Ryuu memang tidak salah sih...” jawab Chinen Yuuri.
“Hoi kalian! Minta kujitak, ya? Ha! Sini kalian!” Ryosuke bangkit dari kursinya dan menghampiri Keito yang duduk paling dekat dengannya.
Dengan lincah, Keito menghindar dari serangan cubitan Ryosuke. “Woah hentikan! Yama-chan!”
Tidak menyerah, Ryosuke mengalihkan sasarannya pada teman-temannya yang lain. Keempatnya langsung mengikuti jejak Keito untuk menghindari serangan cubitan Ryosuke. Tawa segera terdengar dari keenam orang yang sibuk dengan perang cubitan mereka.
Di kejauhan, tampak lima sosok berpakaian hitam menatap keenam siswa-siswi dalam kelas itu. Mereka tampak tertawa dan berkejaran dengan ceria. Salah satu dari kelimanya tersenyum tipis. Meskipun terdapat kebahagiaan dalam senyumannya, namun tak sedikit pula kesedihan yang terpancar di dalamnya.
“Sudahlah, Yabu-kun... Mereka akan baik-baik saja,” Daiki menepuk pundak sang ketua Shinigami Chiimu.
“Ya, dengan begini kejadian itu tidak akan pernah terulang lagi untuk ketiga kalinya,” Yuya mengangguk.
Kouta masih tak bereaksi. Ia masih menatap adegan dalam ruang kelas itu dalam diam. Entah apa yang dipikirkannya, tak ada satu pun dari keempat rekan-rekannya yang tahu pasti.
“Yuuyan benar, bukankah itu seharusnya membuatmu lebih lega, Yabucchi?” tanya Hikaru. Kouta masih tak memberikan respon yang berarti.
“Yabu-kun... kita semua menyayangi mereka. Kami mengerti perasaanmu,” Kei menepuk pundak Kouta, lebih keras dari tepukan Daiki, berniat membangunkan Kouta dari lamunan singkatnya.
“Kami-sama mengabulkan permohonanku.” Akhirnya Kouta angkat bicara, “Ia telah memberikanku imbalan yang kuminta.”
Kei menggeleng, “Bukan hanya kau, kami semua juga,” ia tersenyum. “Kau tahu kan, kami juga menyayangi mereka seperti kau menyayangi mereka. Jadi ini imbalan dari Kami-sama yang harus kita tanggung bersama-sama.”
“Kau benar...” Kouta mengangguk. ‘Kami-sama, aku ingin memohon sekali lagi, biarkanlah mereka mendapat kebahagiaan. Aku ingin hidup mereka tidak sia-sia setelah mereka mati sebagai shinigami dan terlahir kembali sebagai manusia.’
.
.
.

.
.
The END

.
#Author’s Note#
Akhirnya setelah perjuangan lama, fanfic Kioku~Himitsu~ ini selesai! Terharu banget banget bangeeet *tebar confetti* Menurut aku, 10 Chapter yang terasa SANGAT panjang. Tapi ya malu deh sama Author-Author yang update fanficnya kilat.
Sebenernya secara plot, aku sendiri bingung sama cerita ini. Gatau kenapa plotnya berkembang sendiri sampai begitu aku sadar udah jadi gini ceritanya (termasuk adegan-adegan cheesy yang tiba-tiba mengalir waktu lagi ngetik) -__- Hmm abaikan saja, contoh Author yang ga bener nih. Tapi cukup seneng juga pada akhirnya plotnya ga berubah-berubah lagi. Sebenernya epilognya mau dibuat satu chapter tersendiri, tapi dipikir-pikir buat apa juga nambahin satu chapter lagi.
Personally, aku suka banget adegan pas HSB baru sadar dari pingsannya terus Yuto ketawa. Setelah dibaca ulang, menurut aku sifat Yuto di sana entah kenapa jadi mirip kaya psycho—tapi tetep keren kok huahahaha
Gimana ceritanya? Abalkah? Ga jelas kah? Atau sangat awesome sampai pengen dibakar? Hmm semoga ceritanya gampang dimengerti deh. Endingnya gimana? Gaje ya? Sebenernya kalo soal ending (plus epilognya) sih udah aku pikirin dari lama, jadi aku ga bisa nyalahin keanehan pada plot yang suka muncul tiba-tiba. #ups
Oh iya! Jangan lupa kritik saran dan komentarnya~

Kioku~Himitsu~ [PIECE IX]

Title: Kioku~Himitsu~
Author: Mochiraito
Summary:
A Hey! Say! JUMP fanfic—Bila hidup adalah hal yang membingungkan, maka ingatan adalah labirin yang pelik dan membuat kita semakin tersesat jika kita menjelajahinya. Summary aneh dan ga nyambung.

Disclameir: All Hey! Say! JUMP's members belongs to Kami-sama, their parents, and Johnny's Jimusho; Kioku~Himitsu~ belongs to Mochiraito

WARNING! Contains: AU, OC(s), OOCness, ABALness, GAJEness, LOCH(?)ness, EPIC FAIL story.

DON'T LIKE DON'T READ!
ENJOY!

PIECE #1: Kuuhaku
PIECE #2: Saigo no Kioku

PIECE #3: Shitsumon to Yume
PIECE #4: Meikyuu
PIECE #5: Deau
PIECE #6: Saikai
PIECE #7: Kioku
PIECE #8: Himitsu

[伝説の答え].
PIECE #9:
[伝説の答え]
Densetsu no Kotae (The Legend’s Answer)
::Sebuah legenda
akan mengabulkan mimpi
dengan pengorbanan yang besar::
.
.
“Tambah segelas lagi!” seruan seorang pria pada seorang bartender terdengar keras di telinga Hikari. Setidaknya cukup keras untuk membuat gadis shinigami itu berjengit karenanya.
Sang bartender tanpa ragu menuangkan isi botol yang ada di tangannya, kembali mengisi gelas pria yang tampaknya setengah mabuk itu. Pria itu bahkan tak menatap sang bartender sebelum meraih gelasnya dengan kasar dan langsung menenggak isinya hanya dalam beberapa tegukan yang disertai suara keras, yang menurut Hikari, cukup menjijikkan.
“Segelas lagi!” seru pria itu lagi sambil mengangkat gelasnya tinggi-tinggi. Dan sekali lagi sang bartender mengisi kembali gelas pria itu. Muak, Hikari membuang muka dari pemandangan itu.
Keito dan Yuto mengedarkan pandangannya tanpa kata. Dengan ekspresi yang minim, Keito melangkah menuju sang bartender yang tampak masih melayani pria yang mulai semakin mabuk itu. “Tampaknya pelanggan malam ini sedikit, ya?” tanyanya dengan bahasa Inggris yang fasih sambil menatap ke sekelilingnya lagi. Itu memang benar, di dalam bar ini hanya ada sekitar sepuluh orang, jumlah yang cukup sedikit jika dibandingkan dengan ukuran bar yang luas.
Sang bartender mengangguk tanpa memerhatikan sang penanya, “Tentu saja, ini baru jam 10 malam! Bar ini biasa penuh mulai dari jam 11 ke atas.”
“Sou desu ka…” Keito menanggapi, “Arigatou gozaimasu.”
Hikari mendekati Yuto lalu menarik ujung mantel yang membungkus tubuhnya, “Kenapa kita ke sini?” tanyanya, “Bukankah kau bilang kau akan menyembuhkanku?”
Shinigami bertubuh jangkung itu menatap gadis shinigami di sampingnya, “Aku memang akan menyembuhkanmu, Hikari-chan. Tapi tunggu sebentar ya, ada yang harus kami lakukan sebelum menyembuhkanmu.”
Keito menghampiri mereka berdua, “Yuto, lebih baik kalian kembali saja. Aku akan melakukan sisanya di sini,” katanya.
“Kau yakin?” tanya Yuto.
“Ya,” Keito mengangguk. “Si bartender bilang tempat ini baru akan ramai di atas jam 11.”
Sejenak, Yuto terlihat menimbang keputusan yang akan ia buat. Akhirnya pemuda bermarga Nakajima itu mengangguk, “Mintalah bantuan pada yang lainnya jika diperlukan.”
Sekali lagi Keito mengangguk, “Aku sudah meminta tolong pada Ryuu.”
Hikari menatap keduanya bingung, “Apa sih yang kalian bicarakan?”
“Masih ada sekitar 50 lagi ya…” gumam Yuto. Keito mengangguk, “Dua akan diatasi Yama-chan.”
Shinigami bertubuh jangkung itu menoleh pada Hikari, kemudian tersenyum, “Ikou, lebih baik kita kembali,” ia mengulurkan tangannya.
“Maksudmu?” tanya gadis shinigami itu.
Yuto buru-buru meraih tangan Hikari dan melirikkan matanya pada Keito. Detik selanjutnya mereka sudah menghilang dari tempat mereka berdiri, meninggalkan Keito berdiri menatap udara kosong di hadapannya. Shinigami bermarga Okamoto itu menghela nafas, ia hanya memerlukan waktu kurang dari dua jam lagi untuk benar-benar menjalankan tahap akhir rencana yang sudah disusun matang-matang oleh sahabatnya. Ia menghempaskan dirinya ke salah satu kursi di sudut ruangan, menanti salah satu rekan shinigaminya, Ryutaro.
.
Pemandangan langit biru kembali menyapa indera penglihatan Hikari. Gadis itu menatap sekelilingnya dan mengangkat sebelah alisnya, heran. Mereka berdua kembali berada di tempat mereka semula mengobrol, bukan di dalam bar luas dan remang-remang. Tak ada lagi aroma alkohol dan asap rokok yang menggantung di udara, yang ada hanya udara segar dan semilir angin yang membelai keduanya lembut.
“Kenapa kau membawaku kembali ke sini?” tanyanya, menatap pemuda di sebelahnya.
“Kita masih harus menunggu.” Yuto tersenyum, “Semoga saja semuanya bisa berjalan lancar.”
Tatapan tanya masih belum menghilang dari kedua onyx Hikari, “Aku tidak mengerti,” katanya. “Bagaimana caramu menyembuhkanku?”
Shinigami bertubuh jangkung itu menyeringai lebar, “Kau akan tahu nanti,” katanya sebelum melangkahkan kaki menjauhi mansion para shinigami yang tak jauh di belakang mereka.
“Yuutoooo! Matte!” seru Hikari, mengikuti langkah kaki shinigami itu.
‘Mou sukoshi …’ Yuto menghela nafas, ‘Mou sukoshi dake.’
.
“Dou?” tanya Ryutaro, memainkan gagang katana yang terselip di pinggangnya.
Keito menggeleng, “Kita hanya harus menyelesaikannya dengan cepat sebelum Yabu-kun menyadarinya.”
“Soal itu kurasa sudah diurus Chii dan Yama-chan dengan baik,” kata Ryutaro menenggak cola yang ia pesan.
“Sekarang mereka di mana?” tanya Keito.
Ryutaro menaruh gelasnya kembali di meja, “Yama-chan sedang bertugas, Chii sedang di mansion.”
Shinigami bermarga Okamoto itu meraih gelasnya yang berisi air mineral dingin. Ia tak meminumnya, hanya menggoyangkannya, membuat tiga buah es yang mulai mencair berdentingan ketika membentur dinding gelas. Kedua onyxnya sibuk menatap es-es itu.
“Lagi-lagi kau memikirkan kemungkinan kita gagal?” tanya Ryutaro tanpa menatap lawan bicaranya.
Keito menggeleng, “Iie,” jawabnya. “Aku hanya mendapat firasat tidak enak.”
“Tentang ini?” Ryutaro mengangkat sebelah alisnya. Keito mengangguk.
Shinigami yang lebih muda menepuk bahu shinigami yang lebih tua. “Kita hanya perlu melakukannya sesuai rencana, kan?” kata Ryutaro, memasang senyuman terbaiknya. “Genki dasete, ne!” Keito tersenyum.
.
Daiki memanggil ketua Shinigami Chiimu , “Yabu-kun! Lihat ini!” matanya masih menatap bergantian kumpulan huruf serta angka yang tertulis rapi di dua kertas yang ia pegang. “Lagi-lagi daftar nyawa yang diambildan nyawa yang terambil tidak sesuai.”
Kouta berjalan menghampiri Daiki, “Berapa selisihnya?”
“Hmm... hanya 2 nyawa,” jawab Daiki.
“Siapa yang bertugas di sana?” tatapan mata Kouta menajam.
Daiki membolak-balik kedua kertas yang ada di tangannya, “Yamada Ryosuke....”
Di luar ruangan, Yuuri hanya mendengar percakapan singkat itu dalam diam. Segaris senyum tipis tersungging di bibirnya.
“Chii? Apa yang sedang kau lakukan?” Hikaru menatap pemuda yang lebih pendek darinya.
Sang pemilik nama menggeleng, “Tidak ada,” lalu tersenyum. “Aku duluan ya.”
Hikaru hanya mengangkat sebelah alisnya sambil menatap salah satu rekannya itu melangkah pergi.
.
Hanya butuh satu tebasan katana shinigami untuk mengambil nyawa seorang manusia. Keito menatap tubuh wanita pirang di hadapannya yang sudah terjatuh. Jaket kulitnya yang berwarna merah mengingatkan Keito pada darah. Sungguh konyol, karena sebenarnya tak akan ada luka luar ditemukan di tubuh wanita yang sudah tak bernyawa itu. “49,” ia menghitung.
Seorang pria bertubuh tinggi menatap wanita pirang di sampingnya yang tiba-tiba saja terjatuh. Ia berjongkok, memastikan wanita berjaket merah itu tak apa-apa. Sayangnya sebelum ia sempat menyadari wanita itu sudah tak bernafas, Keito sudah keburu menebas tubuhnya. “48,” Keito kembali menghitung mundur.
Di sisi lain bar, Ryutaro tak membutuhkan waktu lama untuk mengambil nyawa tiga orang pemuda pirang yang baru saja memasuki pintu bar itu. “Yak, tinggal 45,” gumamnya.
Teriakan mulai membahana di dalam bar ketika tubuh-tubuh tak bernyawa mulai berjatuhan membentuk lantai dengan suara yang cukup keras. Dalam penglihatan setiap manusia dalam bar itu, tak ada yang aneh, hanya orang-orang yang mulai berjatuhan tanpa sebab. Tak ada dua orang berpakaian serba putih tengah mengibaskan katana mereka.
Katana Ryutaro menembus tubuh seorang wanita langsing berpakaian minim yang tengah berteriak histeris di dekat konter minuman. Seketika teriakan wanita itu terhenti ketika Ryutaro menghujamkan bilah katananya yang tajam ke perutnya. “Hmm 40.” Kemudian dalam gerakan memutar ia menebas punggung ketiga pria yang duduk membelakangi wanita tadi. “37,” lagi-lagi ia bergumam. “Ne, Keito, mereka berisik sekali, ya?”
Keito menaikkan sebelah alisnya, mendapati Ryutaro tengah berdiri di atas konter minuman sambil menatapnya. “Yah, begitulah,” sahut Keito malas. Tanpa basa-basi ia segera menebas seorang pria muda yang tengah terduduk, menatap sekitarnya dengan mata penuh ketakutan. “36.” Keito membalik tubuhnya dan menemukan sepasang kekasih yang langsung ia tebas dalam sekali gerakan ringan, “34.”
.
“Jadi?” Hikari menatap pemandangan di hadapannya. Sebuah mansion bergaya Eropa tersembunyi dengan rapi di balik pepohonan yang tumbuh seperti hutan. Dindingnya yang terbuat dari batuan putih tampak kokoh meskipun berkesan tak terawat. Sebuah jalan dari batuan berwarna putih tampak membelah hijaunya tanah berumput di sekeliling mansion itu. Ujung yang satu tentulah pintu utama mansion putih itu, sedangkan ujung satu lagi ada tepat di hadapan Yuto dan Hikari.
Yuto meraih tangan Hikari dan mulai berjalan, memaksa gadis itu mengikuti langkahnya. “Dimana ini?” Hikari bertanya. Yuto tak menggubrisnya, ia bahkan tak menatap sang penanya.
“Yuto? Hei, ini dimana?” gadis itu mengulangi pertanyaannya. Sekali lagi ia tak mendapat jawaban.
Hikari menghentikan langkahnya, “Yuto! Kau dengar aku tidak?” tanya gadis itu dengan suara keras, “Kau ini kenapa sih?”
Kedua onyx Yuto menatap Hikari. “Ikut aku,” bulu kuduk Hikari meremang saat mendengar nada bicara pemuda yang menggenggam tangannya. Gadis itu hanya mengikuti pemuda yang semakin mengeratkan genggaman pada pergelangan tangannya dengan langkah cepat. Dalam kepalanya berbagai pertanyaan muncul bersahut-sahutan. Tetapi yang paling mengganggunya adalah rasa takut yang sudah mulai mengintip di sudut hatinya.
.
“Dimana mereka?!” tanya Kouta, emosinya sudah memuncak.
“Aku tidak melihat Yamada setelah ia memberikan laporan...” gumam Daiki.
“Ryuu hari ini tidak terlihat setelah sarapan pagi,” jawab Yuya.
“Tadi aku melihat Chii di depan pintu ruanganmu, Yabucchi, tapi lalu pergi dengan cepat,” sedikit kegugupan terdengar dalam suara Hikaru.
Kei menjawab dengan terbata-bata, “T-tadi pagi Yuto dan Keito... p-pergi berjalan-jalan dengan Hikari-chan...”
“APA?!” seru Kouta. Tatapan marahnya menusuk pada Kei, meminta penjelasan lebih lanjut atas kalimat pernyataan yang baru saja ia lontarkan. Meskipun Kouta mendengarkan jawaban ketiga rekannya yang lain, jawaban dari Kei-lah yang membuatnya murka. Satu-satunya kesimpulan yang dapat ia tarik adalah kelima orang itu melibatkan Hikari dalam rencana mereka.
“Apa ini tentang ‘1000 nyawa’?” tanya Hikaru.
“Maksudmu?” tanya Daiki.
“Ada sebuah legenda, dengan mengumpulkan 1000 nyawa Tuhan akan mengabulkan 1 keinginanmu, apapun itu, asalkan 1 keinginan,” jelas Kei. “Tentunya legenda seperti itu tak ada gunanya bagi shinigami seperti kita karena tugas kita memang mengambil nyawa.”
“Justru karena itulah mereka mengambil nyawa-nyawa yang tak ada dalam daftar kita, begitu kan?” tebak Yuya.
“Sampai saat ini kita tak tahu ada berapa nyawa yang sudah mereka ambil. Kurasa di laporan terakhir sudah ada sekitar 900 nyawa...” gumam Kei.
“Aku tak pernah menyangka mereka akan memasukkan Hikari kedalam daftar nyawa yang akan mereka ambil,” celetuk Daiki.
“Inoo-chan, cepat lacak tempat keberadaan mereka!” seru Kouta. Kei mengangguk dan segera meninggalkan ruangan itu.
.
Kedua  onyx Hikari menatap interior ruangan yang baru saja ia masuki. Satu hal yang langsung terlintas di benaknya adalah ruangan tempat ia berada sekarang adalah ruangan yang sangat luas dan megah. Mungkin dari pada disebut ruangan, tempatnya berada lebih cocok disebut aula. Kemegahan aula itu ditunjukkan oleh beberapa lukisan serta permadani yang tergantung di dinding batu kelabu dengan susunan artistik. Lantai marmernya polos tanpa perabot apapun, hanya ada sebuah karpet panjang yang terbentang dari pintu masuk menuju ke sebuah singgasana megah serta sebuah bufet pendek di samping singgasana. Menurut Hikari, ada setumpuk benda yang keberadaannya sedikit tidak pada tempatnya, setumpuk kertas yang ada di atas bufet.
Belum sempat Hikari berkata-kata, Yuto sudah menarik pergelangan tangan gadis itu lagi. Hikari menatap punggung Yuto, ia tak mengerti, ia merasa ada sesuatu yang aneh dari gelagat pemuda yang lebih tinggi darinya itu.
Butuh cukup banyak langkah sampai akhirnya keduanya sampai di depan singgasana kosong itu, tentunya masih dalam posisi Yuto memimpin jalan. Yuto menghentikan langkahnya tepat di depan singgasana yang dipahat dari batu marmer yang menjadi alasnya, lalu ia menoleh pada Hikari. “Apa kau lelah?” pertanyaan yang ia ajukan dengan senyuman khasnya. Ia melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan gadis shinigami itu.
Hikari menatap pemuda di depannya dengan ragu, “T-tidak juga,” jawabnya dengan suara kecil.
“Hm... duduklah,” Yuto menepuk pundak Hikari pelan, memberikan sedikit dorongan pada tepukannya.
Tanpa mengatakan apa-apa, Hikari menuruti kata-kata Yuto. Gadis itu duduk dengan ragu di singgasana yang terlalu besar untuknya. Hikari bisa merasakan singgasana itu sangat kokoh, karena dipahat dari batu marmer, namun terasa lembut karena dilapisi oleh kain beludru tebal baik untuk alas duduk serta sandarannya.
“Yuto, apa yang kau lakukan?”
Sang pemilik nama tak menyahut, ia membalikkan tubuhnya dan menatap pintu tempat mereka datang tadi. Ia melangkah beberapa langkah menjauhi Hikari dan singgasa yang tengah didudukinya.
“Yuto, kenapa kau tak menjawabku?”
Meskipun Hikari tak menyadarinya, Yuto mengepalkan tangannya erat-erat membuat jemarinya memutih. Wajahnya bukannya tanpa ekspresi, ia justru tengah mencoba menyembunyikan ekspresi apapun dari tiap jengkal wajahnya.
“Kau tahu tempat apa ini?” Yuto bertanya tanpa menatap gadis yang tengah berbicara dengannya.
Hikari menggeleng, “Tidak,” jawabnya cepat.
“Dulu ini adalah tempat tinggal seorang pangeran yang dibuang oleh ayahnya sendiri,” Yuto melirik gadis yang masih terduduk di singgasananya, “tentunya dia manusia.” Pemuda itu kembali menatap ke arah pintu. “Konon dia dibuang oleh ayahnya karena telah membunuh adiknya sendiri,” Yuto meneruskan ceritanya.
Hikari bergidik ngeri membayangkan seorang pemuda membunuh adiknya sendiri.
“Kau tahu kenapa dia membunuh sang pangeran bungsu?” tanya Yuto
“Entahlah,” Hikari mengangkat bahunya, “memastikan pesaingnya dalam memperebutkan takhta hilang?”
“Hm... jawaban yang masuk akal tapi,” Yuto menggeleng, “bukan itu alasannya.” Hikari tak menyela cerita Yuto dengan pertanyaan. “Sang pangeran sulung membunuh sang pangeran bungsu karena ternyata sang pangeran bungsu telah dirasuki iblis dan berniat membunuh ayah mereka dan mengambil alih kerajaan.” Tanpa disadari suara Yuto sedikit bergetar, “Sayangnya tak ada yang mengetahui fakta itu kecuali seorang pelayan yang setia pada sang pangeran sulung dan sang pangeran sulung sendiri.” Yuto memberi jeda cukup panjang sebelum mulai mengucapkan kalimat selanjutnya, “Pada akhirnya seluruh kerajaan serta sang raja selamat, sang pangeran bungsu serta iblis yang merasukinya mati, dan sang pangeran sulung dibuang ke tempat jauh. Akhir yang penuh ironi ya?”
“Kenapa tak ada yang tahu soal iblis itu? Kenapa pangeran sulung tidak mengatakannya pada ayahnya?” tanya Hikari
“Kurasa sang pangeran sulung merasa bersalah telah membunuh adik tersayangnya meskipun ia sudah dirasuki. Mungkin sang pangeran sulung ingin menghukum dirinya sendiri agar kehilangan sedikit rasa bersalahnya,” jawab Yuto dengan tatapan menerawang.
Hikari menjatuhkan tatapannya pada karpet merah tepat di bawah kaki Yuto. Ia tak mengatakan apa-apa, ia hanya tidak tahu apa yang harus ia katakan.
“Hikari-chan, apa kau percaya ada manusia yang dilahirkan kembali menjadi shinigami?” tanya Yuto tanpa menoleh.
“Kenapa kau berkata seperti itu?” Hikari balik bertanya.
Mulut Yuto tak langsung bergerak menjawab pertanyaan itu. Ia berdiri mematung menatap ke arah pintu. Ia memejamkan matanya sebentar, menghirup udara lembab di aula itu.
“Yuto?” Hikari bangkit dari singgasana itu. Masih tak mendapat respon apa-apa, Hikari berjalan menghampiri pemuda yang lebih tinggi darinya itu.
“Yuto? Daijoubu ka?” Sekali lagi Hikari bertanya, masih tak ada respon.
“Yuto?” Hikari menarik sedikit jubah yang dikenakan Yuto. “Kau..... adalah sang pangeran sulung?”
Yuto mengangguk kecil. “Dulu aku adalah manusia.” Tubuh tingginya tampak sedikit tertunduk. Tampaknya malu, atau sedih, karena mengingat kisah lamanya.
Hikari tersenyum tipis, “Artinya kau adalah orang yang hebat. Aku senang punya teman sehebat dirimu.”
Masih tanpa menoleh, Yuto berbisik, “Arigatou...”
Hikari membalikkan tubuhnya, ia menatap singgasana yang tadi sempat ia duduki. Ia sempat membayangkan Yuto duduk termangu di sana dalam balutan pakaian mewah bak pangeran dengan wajah sedih. Namun segera ia tepis bayangan itu, bukan hal itu yang paling penting sekarang. Bagi Hikari, yang paling penting sekarang adalah, “Apa yang sebenarnya kau lakukan sekarang, Yuto?”
Tanpa diduga, Hikari merasakan tangan Yuto melingkar di bahunya, “Aku sudah berjanji, kan? Kau ingat janjiku, kan?” tanya Yuto.
Meskipun kepalanya tertunduk, Hikari mengangguk. Fokus matanya ada pada sepasang tangan milik Yuto yang melingkar di bahunya.
 “Aku akan menepati janjiku. Tunggulah sebentar lagi.”
“Benarkah?” Hikari menghadapkan tubuhnya pada Yuto, ia dapat melihat senyum lebar terbentuk di bibir tipis Yuto, “Kukira kau bercanda. Kukira kau hanya mencoba menghiburku...”
“Tentu saja tidak, baka!” Yuto terkekeh. “Untuk yang satu itu aku serius.”
“Arigatou...” Hikari memeluk pemuda itu erat-erat, senyum mulai terkembang di bibirnya.
.
Sebuah lubang hitam yang ukurannya semakin membesar muncul di udara, menandakan kedatangan Keito dan Ryutaro di dalam aula. Tak lama setelah kedatangan mereka berdua, Ryosuke dan Yuuri yang sedang menggendong sesuatu berjalan dengan langkah tergesa-gesa memasuki aula.
Duduk di singgasana miliknya, Yuto menatap keempat rekannya, “Dou?” Hikari, yang tadi duduk di sandaran lengan singgasana Yuto berdiri.
“Tugas kami sudah selesai,” jawab Keito disusul anggukan kuat dari Ryutaro.
“Kau sudah mendengarnya kan?” tanya Ryosuke, tatapan menyiratkan kekhawatiran.
Yuto mengangguk singkat, “Sudah sedekat apa mereka?”
“Cukup dekat,” jawab Ryosuke cepat, “jika kita tidak bergegas, akan terlambat bagi kita untuk menyelesaikan rencananya!”
Yuto segera bangkit dari singgasananya dan berjalan beberapa langkah ke depan, “Chii?” ia mengalihkan tatapannya pada Yuuri.
“Sudah siap,” Yuuri menurunkan sesuatu yang ada dalam gendongannya, seorang anak lelaki berumur tak lebih dari 12 tahun yang tampaknya pingsan.
Hikari menatap keempat temannya yang berdiri tak jauh darinya, lalu menatap Yuto, “Apa yang akan kau lakukan?” tanya gadis itu. “Apa maksudnya membawa anak itu ke sini?”
Yuto tersenyum, “Tenanglah...” bisiknya.
“Yuto... kau,” Hikari tercekat, “kalianlah yang mengambil nyawa yang tak ada dalam daftar?” kedua onyxnya terbelalak, menatap kelima rekannya bergantian.
Tak ada satu pun dari kelima pemuda itu yang menjawab pertanyaan Hikari. Kelimanya saling melempar pandang, mengalihkan tatapan mereka dari gadis berambut panjang itu.
“Yuto, apa maksudnya semua ini? Jawab aku!” Hikari mencengkram bagian belakang jubah Yuto.
“Gomen ne, Hikari-chan,” bisik Yuto, “hanya ini satu-satunya cara untuk menyembuhkanmu.”
Sulur-sulur tanaman merambat bermunculan membelit kedua tangan Hikari, menariknya ke arah singgasana dan mendudukkannya di sana. “Lepaskan aku!” Hikari meronta, membuat sulur-sulur semakin membelit tangannya. “Lepaskan aku, Chii!” seru Hikari.
Yuuri tertunduk dengan tangan terkepal, menahan sulur-sulur tanaman miliknya agar tak mengurangi kekuatan belitannya pada tangan Hikari, “Gomen....”
“Aku tidak mengerti!” Hikari menggelengkan kepalanya kuat-kuat, “Kalau begitu tak usah tepati janjimu! Aku tidak ingin kau sembuhkan!” serunya, masih sambil mencoba melepaskan diri dari belitan yang membelit kedua tangannya, “Kau sudah melanggar peraturan!”
Yuto berjalan ke arah anak lelaki yang tergeletak di lantai tak sadarkan diri, ia masih tak menggubris satu pun kata-kata yang dilontarkan Hikari.
“Kau.... pengkhianat!” seru Hikari marah. Entah mengapa setitik air mata tampak di pelupuk mata gadis itu. “Aku sama sekali—”
“Cukup, Hikari-chan!” Ryosuke memotong perkataan gadis itu, “Kau seharusnya berterima kasih pada Yuto! Ia hanya ingin membantu menyembuhkan penyakitmu!”
“Berterima kasih? Aku tidak—”
“Bukankah kau yang bilang bahwa kau tidak ingin menghilang?” kali ini Keito yang memotong.
Kali ini Hikari tak bisa membantah kata-kata Keito. Pemuda itu benar, Hikari memang tak ingin menghilang karena penyakit anehnya. Tapi jika ini jawaban untuk menyembuhkan penyakit aneh ini, melanggar hukum dasar shinigami, Hikari memilih untuk mencoba menghadapi rasa takutnya dan pasrah pada takdirnya. Ia tak ingin mengorbankan teman-teman yang ia sayangi hanya demi keegoisan dirinya sendiri untuk melawan takdir yang sudah ditetapkan Tuhan untuknya.
Yuto sudah berdiri di hadapan anak lelaki itu. Katananya sudah terhunus, siap menebas.
“Nakajima Yuto, Okamoto Keito, Yamada Ryosuke, Chinen Yuuri, Morimoto Ryutaro!” sebuah seruan dari suara yang mereka kenal terdengar. “Kalian sudah mengambil terlalu banyak nyawa!” seru Kouta, “Aku tidak akan membiarkan kalian lolos, apalagi jika kalian memasukkan seorang shinigami dalam daftar nyawa buruan kalian!”
“Wah wah... sang pahlawan sudah datang tampaknya...” Yuto tersenyum lebar, “Selamat datang teman-teman dari Shinigami Chiimu!”
“Apa-apaan itu? Sikapmu menyebalkan sekali!” rutuk Hikaru. Pemuda itu menoleh ke belakang dan menggerakan katananya ke sisi kirinya dengan cepat.
TRANG
“Kau berhasil menangkisnya ya, Hikaru... Refleksmu hebat juga ternyata,” Keito tersenyum tipis.
Hikaru melebarkan cengiran khasnya, “Jangan remehkan aku!”
“Hikari-chan!” Daiki berseru saat menatap sosok gadis yang ia kenali sedang terikat di singgasana.
“Dai-chan!” sahut Hikari.
“Jangan mengganggu!” Ryutaro melompat tepat ke depan Daiki dengan katana dalam posisi menyerang. Daiki menghentikan gerakannya, mengeratkan genggamannya pada gagang katananya.
Yuya dan Kei yang mencoba mendekat pun langsung dihalau oleh Ryosuke dan sulur-sulur tanaman yang dikendalikan Yuuri.
Yuto terkekeh, “Sayang sekali para pahlawan pembela kebenaran sudah terlambat!” Ia mengayunkan katananya pada tubuh anak lelaki yang tengah terbaring tak sadarkan diri di lantai, “Akhirnya, nyawa yang ke-1000!” Mata Hikari serta kelima shinigami berpakaian hitam terbelalak menatap adegan itu. Yuto sendiri sudah melebarkan seringai penuh kemenangan di bibir tipisnya.
.
.
Tak ada suara apapun yang tertangkap telinga. Seketika aula megah itu dipenuhi kabut dan hawa dingin yang asing. Hikari berusaha melihat kejadian yang terjadi di hadapannya, sayangnya kabut tebal yang misterius ini membuat jarak pandangnya tak lebih dari dua meter. Dalam pandangan gadis itu, sisanya hanya sekelebat bayangan yang bergerak-gerak dipermainkan kabut yang bergerak.
“Kou nii-chan!” panggilnya. Tak ada jawaban yang terdengar.
“Yuto!” kali ini ia memanggil nama lain. Sekali lagi tak ada jawaban.
Sinar matanya kini dipenuhi kepanikan dan ketakutan. Apa yang sebenarnya sedang terjadi?
Tiba-tiba saja sekelebat cahaya menampakkan diri dibalik tebalnya kabut. Kabut yang menyelimuti seluruh ruangan kini mulai menipis. Samar-samar, setiap bayang-bayang yang tadi tampak kabur mulai terlihat jelas dan menampakkan bentuknya.
Yuuri, yang berdiri paling dekat dengan singgasana, tersenyum simpul, “Akhirnya saat ini tiba.”
“Chii… apa yang terjadi?” tanya Hikari.
Sang pemilik nama mendekat ke arah singgasana, masih dengan senyum simpul, “Yuto akan menyembuhkan penyakitmu.”
“Kami-sama!” terdengar suara Yuto berseru, “Tolong jawablah jika legenda itu benar. Kami telah mengumpulkan 1000 nyawa. Aku punya satu keinginan yang ingin dikabulkan!”
Wahai shinigami, untuk apa kau repot mengumpulkan 1000 nyawa? Sebesar itu kah keinginanmu?
Sebuah suara menggema. Entah kenapa suara itu membuat bulu kuduk Hikari meremang. Itu jelas bukan suara manusia. Suara yang berbeda dari suara apapun yang pernah Hikari dengar. Apa itu benar-benar suara Kami-sama?
“Legenda itu… ternyata benar…” gumam Kei pada dirinya sendiri. Ia memicingkan matanya untuk menatap seluruh kejadian yang sedang terjadi dalam aula. Sayangnya, sinar yang terlalu terang membuat matanya sulit membuka.
“Kami-sama……?” lirih Kouta. Sang ketua Shinigami Chiimu tak memercayai penglihatannya.
“Wahai Kami-sama, tolong kabulkan keinginanku,” sekali lagi Yuto berseru.
Apa keinginanmu, shinigami?
Yuto menoleh ke belakang, tatapannya beradu dengan Hikari yang masih duduk dengan tangan terikat di singgasana. Seulas senyuman tipis muncul di bibirnya, “Aku ingin kau mencabut penyakit yang ada dalam tubuh Hikari-chan!”
Itu saja? Kau yakin, shinigami?
“Ya,” Yuto mengangguk yakin.
Kau tahu? Setiap keinginan butuh pengorbanan.
Sekali lagi Yuto mengangguk, “Ya, aku tahu,” jawabnya lantang. “Apa yang Kami-sama inginkan dariku? Nyawaku? Aku tidak keberatan.”
“Yuto! Apa yang kau lakukan?!” pekik Hikari. Ia tak menyangka Yuto bisa dengan tenang mengatakan hal seperti itu. Gadis itu mungkin memang ingin sembuh, tapi bukan dengan cara mengorbankan orang lain, terutama teman-teman yang ia sayangi.
“Nakajima Yuto! Kau sudah gila?!” kali ini Kouta yang berseru, “Kau tak perlu bertindak sejauh ini! Kau harus kembali! Ini tak akan mengubah takdir!”
Sang pemilik nama menoleh ke arah pemimpin Shinigami Chiimu, “Ya, aku sudah gila. Iblis yang merasuki adikku mungkin  tidak mati, mungkin ia telah merasukiku. Aku sudah tak bisa berpikir rasional… dan aku memang harus melakukan ini. Ini adalah satu-satunya caraku untuk menepati janjiku.”
Jawaban yang terlontar dari mulut Yuto mengagetkan keenam shinigami berpakaian hitam, “Aku tidak ingin kau menepati janjimu!” akhirnya Hikari berseru, “Batalkan keinginanmu, Yuto… Kumohon…” Air mata melewati pipi Hikari dengan lambat.
Bagaimana, shinigami? Apa kau akan membatalkan keinginanmu? Masih belum terlambat jika kau ingin membatalkannya.
“Jangan bercanda!” Yuto mengepalkan tangannya, “Tidak!” serunya, “Aku tidak ingin membatalkan keinginanku sama sekali!” Kedua onyxnya menatap Hikari dan Kouta serta teman-temannya yang lain bergantian, “Dan aku tidak keberatan memberikan apapun sebagai pengorbanannya.”
Baiklah, akan kukabulkan keinginanmu, Nakajima Yuto, akan kuambil penyakit dalam tubuh Mochizuki Hikari dan ingatan kalian semua tentang kejadian hari ini dan ingatan teman-temanmu tentang dirimu.
“Tunggu, setidaknya biarkan keempat shinigami berpakaian putih disini mengingat ini semua. Mereka telah membantuku mengumpulkan 1000 nyawa. Aku tak ingin menyia-nyiakan kebaikan mereka semua,” pinta Yuto.
Menarik. Kalau begitu semua hal tentang “ingatan hari ini” akan kuserahkan padamu. Terserah padamu apakah kau akan membiarkan mereka semua mengingatnya atau tidak. Tapi kau tidak boleh membiarkan Mochizuki Hikari mengingatnya. Jika gadis itu mengingat semua kejadian hari ini, perjanjian akan batal.
Yuto menelan ludah.
Aku akan langsung mengembalikan penyakitnya. Dan dalam hitungan menit, dia akan mengalami kematian seperti yang dialami manusia. Lalu menghilang seperti kematian yang dialami shinigami. Bagaimana, kau setuju?
Sekali lagi Yuto menelan ludah. Ini berat. Bagaimana memastikan Hikari tak akan bisa mengingat tentang kejadian hari ini? Ia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, “Ya, aku setuju.”
Ingatlah perjanjiannya. Selanjutnya kristal ini akan mengunci seluruh ingatan tentang hari ini. Ini milik Mochizuki Hikari, milik kelima shinigami hitam, dan keempat shinigami putih lainnya, seluruhnya kuserahkan padamu.
Sebuah kristal berwarna merah, kristal transparan, serta kristal hijau keruh tampak di hadapan Yuto. Ia mengambil ketiganya dan menatapnya lekat-lekat.
Keputusannya ada di tanganmu, mana yang akan kau pecahkan, mana yang akan kau simpan. Kuharap kau membuat keputusan yang bijaksana.
“Aku mengerti, Kami-sama,” Yuto mengangguk.
Pembuatan perjanjian telah selesai.
Seketika cahaya terang yang sedari tadi menyinari seisi aula serta kabut tipis yang menggantung di udara dalam aula lenyap. Yuto mengerjap-ngerjapkan matanya, membiasakan diri dengan pencahayaan ruangan yang kembali seperti semula.
Keadaan aula sedikit berbeda dengan yang terakhir ia ingat. Tak ada suara apapun yang dapat ia tangkap dengan organ pendengarannya. Sulur-sulur tanaman milik Yuuri entah sejak kapan telah menghilang. Semua sosok yang dapat ia kenal tumbang di lantai, kecuali Hikari yang terkulai di singgasana. Fokus tatapannya ia alihkan pada ketiga kristal dalam genggaman kedua tangannya. Sedikit demi sedikit tampak sesuatu yang mirip pusaran angin kecil di dalamnya.
Dengan hati-hati Yuto mengarahkan langkahnya pada singgasana dan seorang gadis yang sedang terkulai di atasnya. Tak butuh waktu lama baginya sampai akhirnya ia berada dihadapan gadis yang hampir tak sadarkan diri itu. Tangan Yuto terjulur, dengan hati-hati mengelus kepala gadis itu yang tertutup helai-helai rambut hitam.
“Yu…to…?” tanya Hikari lemah.
Yuto tersenyum tipis, “Aku sudah menepati janjiku. Sekarang tidurlah, lupakan ini semua.”
“Maaf…” gumam Hikari, “Aku… tidak mau…”
Yuto dapat melihat air mata yang sudah siap tumpah lagi dari kedua mata Hikari, “Maaf, aku hanya tidak ingin kau menghilang.” Dalam satu gerakan cepat, Yuto menarik Hikari dalam pelukannya. “Kau harus melupakan tentang hari ini.”
“Tidak mau…” Kedua mata Hikari mulai terasa semakin berat.
Yuto melepaskan pelukan singkatnya dan menyenderkan gadis itu kembali di singgasananya. Untuk kesekian kalinya, bibirnya mengembangkan senyuman, namun kali ini senyuman pahit. “Mulai sekarang kau tidak perlu hidup dalam ketakutan. Kau harus mengubur semua ketakutanmu bersama dengan seluruh kenanganmu di hari ini.” Kedua onyx Hikari yang semakin terasa berat hanya bisa menangkap sosok Yuto di hadapannya dalam bayangan samar.
“Aku akan mengatakannya, meski kau akan melupakan ini.”
Hikari hanya bisa merespon dengan tatapan penuh tanya. Ia bahkan sudah tak punya tenaga untuk berbicara. Rasanya seluruh energi dalam tubuhnya hilang, meninggalkan tubuhnya seperti kendi air yang sedang dikosongkan.
Hal yang selanjutnya Hikari rasakan adalah sentuhan lembut bibir Yuto di dahinya. Gadis itu terkejut tapi tak bisa mengekspresikan rasa keterkejutannya, tubuhnya terlalu lemas untuk itu.
“Ingatlah, aku menyayangimu.”
Kalimat itu adalah kalimat yang terakhir ia dengar sebelum seluruh dunianya berubah menjadi gelap.
.
.
.
To Be Continued
to next chapter:
KIOKU~HIMITSU~ PIECE #10: Saigo no Negai (Last Wish)
.
.
#Author’s Notes#
Yak, bagi yang merasa ga asing sama legenda “1000 nyawa” silakan ngacung! Hahahaha itu emang bukan buatan aku. Aku ngadopsi dari suatu manga yang diadaptasi ke musical. Pada dasarnya ide awal cerita Kioku~Himitsu~ pun muncul setelah aku nonton musical yang satu ini. Tapi ya jelas alur ceritanya sih beda...
Chapter yang cukup panjang, melelahkan, tapi agak bertele-tele. Oke maafkan si Author... Ini pun pengerjaannya udah berusaha dikebut mati-matian demi nyelesain project satu ini yang udah tertunda lagi hampir 1,5 tahun. Aku gamau project ini, untuk kesekian kalinya, tertunda lagi gara-gara kesibukan kelas XII nanti.
Bentar lagi beres nih ceritanya! Author bakal lebih semangat nyelesain pokoknya! Deadline mulai diberlakukan tampaknya hahahaha...
Fakta tentang Yuto itu dulunya manusia sebenernya di plot awal sama sekali ga ada. Aku baru nambahin itu di tengah-tengah dan awalnya ga jadi aku masukin karena bingung mau diselipin di mana. Akhirnya malah dapet lahan buat nyelipin ide itu, jadi ya digunakan aja, daripada mubazir hahaha... Sebenernya itu bukan salah satu fakta paling penting di cerita ini sih.. Btw anak kecil yang jadi “korban” nyawa ke-1000 tuh anak yang identitasnya ga aku pikirin kok.. Jadi mau siapapun juga bisa sih..
Last, adegan terakhir...... hiburan untuk diri sendiri tuh ga haram kan? -A-
.

Kioku~Himitsu~ [PIECE VIII]

Title: Kioku~Himitsu~
Author: Mochiraito
Summary:
A Hey! Say! JUMP fanfic—Bila hidup adalah hal yang membingungkan, maka ingatan adalah labirin yang pelik dan membuat kita semakin tersesat jika kita menjelajahinya. Summary aneh dan ga nyambung.

Disclameir: All Hey! Say! JUMP's members belongs to Kami-sama, their parents, and Johnny's Jimusho; Kioku~Himitsu~ belongs to Mochiraito

WARNING! Contains: AU, OC(s), OOCness, ABALness, GAJEness, LOCH(?)ness, EPIC FAIL story.

DON'T LIKE DON'T READ!
ENJOY!

PIECE #1: Kuuhaku
PIECE #2: Saigo no Kioku

PIECE #3: Shitsumon to Yume
PIECE #4: Meikyuu
PIECE #5: Deau
PIECE #6: Saikai
PIECE #7: Kioku

.
[秘密]
PIECE #8:
[秘密]
Himitsu (Secret)
::Masih terdiam membawa sebuah rahasia
Hanya membisu dalam peliknya labirin ingatan yang menghitam.
Ke mana kah seluruh warnamu, wahai kenangan?::
.
.
“Jadi, Yabucchi, maksudmu ada yang telah mengambil nyawa yang tidak tertulis di dalam daftar kita?” tanya Hikaru, dahinya berkerut.
Kouta mengangguk, “Menurut data yang sudah kuamati sejak bulan lalu memang tercatat seperti itu,” gumaman kekhawatiran menggema di seluruh ruangan.
“Apa divisi penyidik sudah menemukan tersangkanya?” tanya Yuya sambil mengamati kertas di tangannya.
“Sayangnya belum,” Kouta menggeleng.
“Tapi siapa yang bisa melakukan hal seperti ini?” Kei menatap partner-partnernya bergantian. Pemuda itu mengerutkan alisnya sedikit.
“Tidak ada yang tahu sampai para staf divisi penyidik berhasil menemukan sesuatu,” kata Yuto yang sedang bertopang dagu di samping Keito.
“Sampai mereka atau kita menemukan pelakunya, aku minta kalian semua waspadalah. Laporkan jika ada sesuatu yang janggal,” Kouta menyilangkan kesepuluh jari-jari tangannya di atas meja. Mendapat anggukan pasti dari kesepuluh shinigami lain yang duduk mengitari meja, ia pun membubarkan pertemuan itu.
.
Hikari memainkan notes bersampul hitam di tangannya. Ia membolak-balik setiap lembaran untuk menemukan nama dan foto tercetak di sana, sayangnya berapa kali pun gadis itu membolak-balik lembaran kertas notesnya, ia hanya melihat kertas kosong di sana. Hikari menghela nafas, karena penyakitnya kambuh beberapa hari yang lalu, Kouta jadi sangat membatasi jumlah nama yang tercetak di daftar kematian milik Hikari.
Gadis bermarga Mochizuki itu menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa yang sedang ia duduki. Ia masih tak mengacuhkan secangkir cokelat panas yang tadi ia letakkan di meja. Matanya masih sibuk menatap lembaran kosong di notesnya, berharap tinta hitam yang menuliskan nama salah satu manusia tampak di atasnya. Ia tahu kemungkinan kecil harapannya itu akan terkabul mengingat betapa besar kekhawatiran Kouta pada dirinya. Bosan, akhirnya gadis itu melemparkan notesnya ke sofa.
Kedua onyxnya sama sekali tak menangkap bayangan shinigami yang lain di ruangan itu. Tentunya semua teman-temannya tengah sibuk dengan masalah kematian misterius yang terjadi sejak bulan lalu. Selain itu, bukankah shinigami memang biasanya selalu sibuk setiap harinya?
Ia kesal, saat ini ia merasa begitu tak berguna dibanding teman-temannya yang lain. Hanya karena penyakit bodohnya, ia akan selalu dianggap lemah dan tak berdaya. Sedikit-sedikit penyakitnya akan kambuh, lalu ia akan merepotkan shinigami yang lain yang harus merawat dirinya. Karena itulah Hikari selalu mencoba untuk membuat teman-temannya tak khawatir. Namun sepertinya usahanya sering kali tak berhasil.
“Apa gunanya jadi shinigami kalau akhirnya cuma bisa tidur seharian di atas tempat tidur atau bersantai di mansion?” keluh gadis berambut panjang itu. Hikari bangkit dari posisinya dan berjalan keluar dari ruangan, ia sudah memutuskan akan meminta sendiri tugasnya pada sang ketua.
Hikari mengetuk pintu ruangan sang ketua Shinigami Chiimu, Yabu Kouta.
“Masuk,” terdengar jawaban dari dalam. Gadis memutar knop pintu dan melangkah memasuki ruangan yang interiornya didominasi warna krem itu.
“Hikari-chan?” sang pemilik ruangan tampak sedikit terkejut mendapati satu-satunya gadis di timnya datang, “Doushita?” tanyanya ramah.
“Berikan aku tugas, nii-chan,” kata Hikari cepat.
“Tidak,” sahut Kouta tegas, “bukankah Inoo-chan sudah bilang padamu kalau kau harus beristirahat selama seminggu?” Hikari tak menjawab pertanyaan Kouta karena sebenarnya pertanyaan itu tak memerlukan jawaban.
“Lalu apa yang akan kau lakukan kalau kau ada di posisiku?” tanya Hikari.
Kouta tak langsung menjawab pertanyaan itu, “Aku—”
“Kau akan bosan dan meminta diberikan tugas, kan?” gadis itu memotong perkataan pemuda yang lebih tua darinya. Kouta menatapnya, ia mengerti maksud percakapan ini. Namun apapun alasan yang diberikan anggota termuda Shinigami Chiimu itu, Kouta tak mengubah keputusan untuk tak memberikan Hikari tugas sampai minggu depan.
Pemuda bermarga Yabu itu berjalan menghampiri gadis yang sudah dia aggap seperti adiknya sendiri lalu dengan perlahan mengelus helaian hitam yang menutupi kepala gadis itu, “Gomen ne, Hikari-chan. Aku tetap tidak mengubah keputusanku,” katanya lembut. “Kau tetap harus istirahat.”
Dengan cepat Hikari menepis tangan Kouta yang tadi mengelus kepalanya, “Terserah, nii-chan saja kalau begitu!” serunya sebelum berlari keluar dari ruang pribadi sang ketua Shinigami Chiimu.
“Gomen ne, Hikari-chan,” gumam Kouta.
.
Kini sudah bulan ketiga sejak kasus misterius itu, tetapi para penyidik masih belum menemukan titik terang yang bisa dijadikan bukti untuk mencari sang tersangka utama. Para anggota Shinigami Chiimu sendiri sama, tak ada kejanggalan apa pun yang dapat mereka tangkap. Kouta sendiri tampaknya sudah hampir menyerah mengenai kasus ini. Meskipun memang merasa tak tenang, sang ketua Shinigami Chiimu itu sama sekali tak bisa melakukan apa-apa.
Sebuah gedung apartemen lama yang runtuh yang menimbulkan banyak korban jiwa tampaknya dimanfaatkan dengan baik oleh sang pelaku. Ia, atau mungkin dan rekan-rekannya, memanfaatkan situasi hiruk-pikuk serta kesibukan para anggota Shinigami Chiimu. Sehingga dahi Kouta berkerut membaca dua lembar laporan yang sampai di atas mejanya, dalam daftar di lembar pertama tertulis ada 34 orang yang nyawanya harus mereka ambil, tetapi dalam daftar di lembar kedua tertulis 41 nyawa telah terambil, persis sama seperti yang tercantum dalam media pemberitaan manusia. Menemukan jalan buntu, akhirnya pemuda bermarga Yabu itu hanya bisa melemparkan laporan itu ke tumpukan berkas-berkas yang ada di ruang pribadinya.
Hikari, yang ikut ditugaskan dalam kejadian itu, kini terpaksa harus berbaring di kasurnya lagi. Jika saat terakhir penyakitnya kambuh tidak terlalu parah, hanya menyebabkan demam dan tubuh menjadi lemas, maka kali ini cukup serius. Gadis berambut panjang itu pingsan salama beberapa hari tepat sebelum mengambil nyawa orang terakhir di dalam daftarnya. Keito, yang saat itu kebetulan sedang berada di dekat Hikari, langsung melaporkan kejadian itu kepada Kouta dan membawa gadis itu kembali ke mansion.
Kesepuluh anggota Shinigami Chiimu yang lain hanya bisa berdoa agar satu-satunya gadis di tim mereka bisa segera siuman. Setelah empat hari pingsan, Hikari akhirnya terbangun dengan kepala yang terasa berputar serta tubuh yang luar biasa lemas, bahkan hanya untuk melakukan gerakan sederhana seperti menggeleng atau mengangguk pun ia kesulitan. Maka gadis itu menerima keputusan Kouta untuk kembali tak memberikan tugas apapun pada dirinya dengan senang hati. Mungkin saat terakhir kali kambuh ia memprotes keputusan itu tapi kali ini berbeda, kondisinya jauh lebih parah dari pada saat itu.
Setiap hari pasti minimal ada satu orang anggota Shinigami Chiimu yang duduk di sebuah kursi yang diletakkan di samping tempat tidur Hikari. Agar ada yang menjaga, kata Kouta. Lagi pula gadis itu memang butuh bantuan untuk melakukan apapun karena kondisinya.
Hari ini adalah giliran Keito. Pemuda bermarga Okamoto itu melirik jam dinding yang terpasang di dekat lemari, sang jarum pendek menghentikan gerakannya di angka satu, meninggalkan sahabatnya, sang jarum panjang, yang masih betah berada di angka sebelas.
“Waktunya minum obat,” kata Keito setelah meletakkan buku yang sejak tadi ia baca di pangkuannya. Dengan wajah masam, Hikari berusaha mendudukkan dirinya, tentunya dengan bantuan Keito.
Keito membuka botol obat yang ada di bufet, lalu memindahkan sebutir kapsul dari sana ke tangan Hikari sebelum membantu gadis itu meminumnya. Setelah obat berhasil melewati kerongkongan Hikari dengan bantuan air, Keito kembali membantu gadis itu berbaring. Lalu pemuda itu menutup kembali botol obat dan meletakkan di samping gelas di atas bufet. Tangannya kembali meraih buku yang tadi sempat ia tinggalkan di pangkuannya, kemudian mulai membacanya lagi.
Hikari menatap seragam miliknya yang sejak beberapa hari yang lalu tergantung di sana. Lalu fokus matanya ia jatuhkan pada sosok Keito yang sedang membaca buku di sampingnya. Gadis itu menatap pakaian yang melekat di tubuh Keito. Sebuah t-shirt putih simple dengan aksen kelabu di bagian bawahnya ditambah sebuah jaket jeans hitam juga celana serupa. Di pinggangnya melingkar sebuah sabuk kulit yang biasa ia gunakan untuk menyelipkan katana miliknya. Sepatunya sendiri adalah sepasang boots simple yang terlihat sangat serasi dengan pakaiannya. Hikari menghela nafas, ia rindu mengenakan seragamnya.
“Doushita?” tanya Keito tanpa mengalihkan tatapannya dari bukunya.
Hikari menggeleng lemah, “Iie.” Gadis bermarga Mochizuki itu tak tahu kapan ia bisa memakai seragamnya lagi untuk bertugas. Apakah dua minggu lagi? Atau minggu depan? Bagaimana kalau lusa? Tentunya semua ada di tangan Kouta selaku ketua Shinigami Chiimu. Sekali lagi Hikari menghela nafas panjang. Tampaknya itu membuat Keito mengalihkan perhatiannya pada gadis yang tengah berbaring itu. “Doushita?” tanyanya lagi.
“Kurasa aku akan mati sebentar lagi,” kata Hikari tanpa menatap lawan bicaranya.
“Kita tidak akan mati, baka. Justru kita yang mengurus manusia yang mati,” sahut Keito.
“Bukan begitu…” gadis itu melirik kesal, “Kau mengerti maksudku, kan?”
Keito menutup buku di pangkuannya, “Mana mungkin aku tidak mengerti, ini tentang penyakitmu, kan?” Hikari tak mengatakan apa-apa, ia hanya menatap bola lampu yang tak berpijar di langit-langit. “Kau tidak akan menghilang,” kata pemuda bermarga Okamoto itu, “kami akan menemukan cara agar kau bisa sembuh!” tambahnya, kali ini bibirnya mengembangkan senyum.
Hikari menatap Keito lekat-lekat sebelum membalas senyuman itu, “Arigatou…”
Keito mengalihkan tatapannya pada lemari baju yang ada di dekat tempat tidur. “Kudengar kau mungkin bisa kembali bertugas minggu depan,” katanya.
Kedua onyx Hikari terbelalak, menatap pemuda yang duduk di samping tempat tidurnya dengan tatapan kaget, “Kau serius, Keito?”
Sang pemilik nama mengangguk, “Saat dalam perjalanan ke sini aku mendengar pembicaraan Yabu-kun dan Inoo-chan tanpa sengaja.”
Hikari sama sekali tak menyangka sang ketua Shinigami Chiimu itu akan mengijinkannya bertugas minggu depan. Masalahnya, saat ia kambuh beberapa bulan lalu saja, ia harus benar-benar istirahat selama seminggu padahal ia hanya sedikit demam dan merasa lemas. Sekarang, dengan kondisi yang jauh lebih parah dari itu, Kouta hanya mengistirahatkan dirinya selama sembilan hari. Kadang keputusan shinigami berambut cokelat itu memang sulit diprediksi.
“Ah, besok jadwalku, Yuto, dan Inoo-chan tidak terlalu padat, mau jalan-jalan ke luar?” tanya Keito.
“Tapi Kou nii-chan pasti tidak akan mengizinkannya.”
“Tenang saja, Inoo-chan sudah meyakinkan Yabu-kun kok!” Keito mengacungkan jempol kanannya.
“Eeh?” Hikari mengangkat kedua alisnya bersamaan, “Kalau begitu, aku ikut!” gadis itu tersenyum lebar.
.
Kei membawa nampan berisi semangkuk sup ayam dan dua lembar roti panggang yang masih hangat serta segelas air mineral. Tak ketinggalan sebuah botol pendek berisi kapsul-kapsul kecil berada di dekat piring roti panggang. Dengan hati-hati, ia memutar knop pintu kamar Hikari dan masuk ke dalamnya. Kei mendapati sang pemilik kamar itu sedang duduk di atas tempat tidurnya, bersandar pada bantal yang seharusnya menyangga kepalanya. Fokus kedua matanya langsung beralih dari huruf-huruf yang tercetak di buku miliknya pada sosok Kei yang baru muncul di ambang pintu. “Ohayou!” sapanya.
“Ohayou!” sahut Kei. “Sudah merasa lebih baik?” tanyanya.
Hikari mengangguk dengan penuh semangat, “Jauh lebih baik!”
“Yokatta,” pemuda manis itu tersenyum. “Sekarang, kau sarapan dulu!” katanya sambil meletakkan baki berisi sarapan gadis bermarga Mochizuki itu di atas bufet.
Hikari meraih mangkuk berisi sup ayam yang masih hangat. Perlahan ia menyendok sup itu dan menyesapnya, merasakan sensasi hangat menyebar di mulutnya sebelum turun ke kerongkongannya. Tak butuh waktu lama sampai gadis itu kembali memasukkan sesendok penuh sup ayam ke dalam rongga mulutnya lagi. Hikari meletakkan mangkuk itu di nampan sementara tangannya meraih selembar roti panggang. Ia menggigit roti itu dengan perlahan sebelum mengunyahnya. Matanya menatap Kei yang sedang menyisir rambut menggunakan tangannya. Hikari menelan roti yang baru saja ia kunyah.
Gadis berambut panjang itu melirik gelas berisi air mineral, “Inoo-chan, aku ingin minum susu…”
“Tidak boleh. Kau harus minum obat setelah sarapan, jadi minum susunya nanti saja,” kata Kei.
“Tapi nanti siang aku akan minum obat lagi, lalu malam juga pasti akan minum obat, kan?” Hikari melirik jam dinding, “Kapan minum susunya?” tanyanya.
“Mungkin besok,” jawab Kei.
“Besok tidak usah minum obat lagi?” tanya Hikari antusias.
“Kalau kondisimu baik,” Kei tersenyum. “Sekarang, lanjutkan dulu sarapanmu. Bukankah kau akan jalan-jalan?”
Gadis berambut panjang itu mengangguk penuh semangat lalu mulai menyendok sup lagi. Sebelum ia memasukkan sesendok penuh sup ke dalam mulutnya, ia melirik shinigami bermarga Inoo itu, “Seharusnya kau bilang kita akan jalan-jalan, bukan kau akan jalan-jalan.”
Kei menggeleng, “Tadi pagi nama yang tertulis di notesku baru saja bertambah.” Shinigami berwajah manis itu mengusap kepala Hikari, “Gomen ne, mungkin lain kali.”
“Sou ka...” gumam Hikari, memasukkan sesendok penuh sup ke dalam mulutnya dan menelannya.
.
“Keito, apa persiapannya sudah selesai?” Yuto menyimpan lembaran terakhir berkas yang semula ada di mejanya ke dalam laci. Keito mengangguk. Yuto tersenyum puas melihat anggukkan sahabatnya.
“Tadi Inoo-chan bilang ia tidak akan ikut,” kata Keito.
“Kenapa?” tanya Yuto yang melayangkan tatapan tanya.
“Ada nyawa yang harus diurus,” jawab Keito singkat.
Yuto tersenyum puas, “Kupikir ini tak bisa menjadi lebih mudah lagi.”
Keito menatap senyum yang tersungging di bibir tipis sahabatnya. “Kau yakin akan melakukannya, Yuto?” tanya Keito, kekhawatiran tersirat dalam ekspresinya.
Yuto melirik Keito sekilas, kemudian semakin mengembangkan senyum di bibirnya, “Tentu,” katanya. “Untuk apa kita melaksanakan segalanya dengan rapi sesuai rencana kalau aku tidak serius?”
Keito tak langsung menjawab, ia tahu kata-kata pemuda di hadapannya itu ada benarnya. “Bagaimana kalau ini tidak berjalan sesuai rencana?” Kekhawatiran masih menghiasi wajahnya yang biasanya minim ekspresi.
“Soal itu…” Yuto bangkit dari kursinya, menatap Keito. “Aku yakin pasti akan berjalan sesuai rencana kita, Keito,” katanya, senyuman masih hinggap di bibir tipisnya.
Pemuda bermarga Okamoto itu mengangguk kecil, “Kau tahu, aku hanya sedikit merasa bersalah pada Yabu-kun dan yang lainnya.” Yuto menaikkan sebelah alisnya, isyarat pertanyaan. “Aku hanya merasa bersalah karena kita telah menyembunyikan hal seperti ini dari mereka.”
“Justru jika kita memberitahukan rencana ini pada mereka,” sahut Yuto, “Hikari-chan lah yang akan paling menderita. Kau tahu Yabu-kun tidak akan menyetujui ini, kan?” Keito tak menjawab, tatapannya ia layangkan pada meja Yuto yang kini sudah bersih dari kertas-kertas.
“Satu-satunya cara hanya ini. Pertanyaannya adalah,” Yuto mengepalkan tangannya erat-erat, “apakah kalian yakin akan melakukan ini juga?”
Keito menatap lurus mata Yuto, membuat kedua pasang orb onyx mereka bertumbukan, “Kurasa kau sudah tahu jawabannya, kan, Yuto?” ia tersenyum simpul. “Kami tak menghentikanmu sejak awal, kami sudah terlibat. Justru ini adalah saat penting untuk menuntaskan ini semua seperti yang sering kau katakan.”
Yuto menghela nafas, “Jika rencananya tidak berjalan mulus, mungkin ini akan jadi awal baru yang tidak baik bagi kita semua. Bagiku, kalian, Hikari-chan, atau shinigami yang lain. Kau yakin, Keito?”
“Sudah kukatakan sebelumnya, Yuto, kami terlibat dari awal maka artinya kami akan terlibat sampai akhir,” Keito menepuk pundak sahabatnya singkat. “Lagi pula kau pikir kami akan meninggalkanmu hanya karena kau bilang seperti itu?”
“Arigatou,” Yuto tersenyum. “Ja, ikimashou?”
.
Rumput terasa begitu lembut di tangan Hikari. Ia mengalihkan tatapannya yang semula terfokus pada langit biru yang penuh dengan bergumpal-gumpal awan putih pada lapisan rumput yang ia duduki. Tangannya kembali meraba lapisan empuk di dekat sepetak rumput yang ia duduki. Gadis berambut panjang itu menghempaskan tubuhnya ke atas rerumputan dan kembali menatap awan yang bergerak perlahan di langit. Rasa bosan yang kadang ia rasakan saat ia berbaring langsung sirna. Menatap sepotong langit dari balik jendela dan menatap langit yang luas saat kau berada tepat di bawahnya memang berbeda. Percaya atau tidak, saat kau menatap langit sambil berbaring di atas rerumputan kau akan merasa bebas dan bisa melakukan apapun meski sekaligus begitu kecil dibandingkan seluruh dunia ini. Rasanya langit bisa dengan mudah melumatmu menjadi bubur. Sedangkan jika kau menatap langit dari balik jendela, rasanya akan seperti kau tidak memiliki dunia. Rantai-rantai ketidaktahuan akan menjadi belenggu dan kau akan merasa dunia ini sangat kecil sehingga kau berpikir untuk menghancurkannya dan pergi ke dunia lain, jika ada.
Hikari tersenyum, ia senang berada di bawah langit dan menatapnya. Tak peduli apa warna yang memenuhi langit, baginya langit akan terlihat sangat menawan. Sejenak ia menutup kedua matanya, menghirup dalam-dalam aroma apapun yang tertangkap indra penciumannya. Rasa sesal sedikit menyusup ke dalam hatinya. Ia tahu tak butuh waktu lama lagi sampai ia tak bisa menatap langit lagi. Penyakit anehnya akan membuatnya menghilang dari dunia yang ia kenal. Caranya entah seperti apa, tapi ia meyakini penyakitnya akan mengubah dirinya menjadi butiran-butiran kecil seperti debu dan membiarkannya tertiup angin lalu menghilang.
Tak lama, Hikari kembali membuka matanya lagi dan menemukan Yuto dan Keito yang sedang duduk di dekatnya. Kedua pemuda itu turut menatap langit di atas mereka. Hikari bangkit dari posisinya dan duduk melipat kakinya ke depan dada, memeluknya. Tak ada yang mengatakan apa-apa, mereka hanya menghabiskan beberapa menit dengan duduk diam menatap langit, hanyut dalam pikiran mereka masing-masing.
“Apa yang kau pikirkan?” tanya Yuto memecahkan keheningan yang menggantung di antara mereka.
“Siapa? Aku?” tanya Hikari. Yuto mengangguk. “Hmm... Aku hanya berpikir, sepertinya akan sangat menyedihkan meninggalkan dunia ini.”
Keito melirik gadis berambut panjang itu, “Kenapa kau berpikir kau akan meninggalkan dunia ini?” tanyanya.
Hikari tertawa kecil, tawa pahit yang sama sekali tak enak didengar, “Itu sudah pasti, kan?”
Tak ada yang menyahuti kata-katanya. Hikari pun tak ingin repot-repot memikirkan respon yang ingin ia dengar dari kedua shinigami di dekatnya. Ia masih menyibukkan dirinya dengan memikirkan hal-hal yang ingin ia lakukan sebelum mati, atau tepatnya menghilang. ‘Apa manusia selalu merasa seperti ini, takut pada kematian yang bisa datang kapan saja?’
Tangan kanan Hikari sibuk memainkan liontin kalung yang melingkar di lehernya. Batu merah pekat itu terasa halus, tanpa cela, di tangannya. Warna merah pekatnya selalu mengingatkan sang gadis shinigami pada darah manusia. Hikari memang tak pernah terbiasa melihat darah manusia yang berceceran, agak sedikit aneh bagi seorang shinigami yang pekerjaan sehari-harinya adalah berada di lokasi yang berbau kematian, dan biasanya darah. Menatap begitu banyak darah manusia yang berceceran di satu tempat selalu membuat gadis itu takut. Darah selalu membuatnya mengingat kematian, kematian dirinya. Meskipun Hikari tahu ia tidak akan mati bersimbah darah seperti banyak manusia yang ia temui.
Sebelum mati, untuk pertama kalinya Hikari memikirkan hal apa yang akan terjadi pada dirinya nanti? Maksudnya setelah ia mati. Apakah ia akan kembali menjadi shinigami? Atau mungkin dilahirkan kembali jadi manusia atau bisa juga jadi makhluk lainnya seperti hewan misalnya? Apakah arwahnya hanya akan berada di surga tanpa pernah menginjakkan kaki di bumi lagi? Atau apakah ia tak akan menjadi apapun? Hanya setitik debu di alam semesta yang luas, terbang tertiup angin tanpa memiliki kesadaran, perasaan, dan akal. Ketakutan mulai mencengkram Hikari. Ia mengeratkan dekapannya pada kedua lututnya. Melihat gerakan kecil itu, Yuto beringsut ke arah sang gadis shinigami.
“Jangan memikirkan hal-hal yang membuatmu ketakutan,” kata Yuto sambil memberi kepala Hikari yang tertutup helai-helai hitam tepukan ringan.
“Bagaimana mungkin? Mungkin kau tidak tahu karena kau tidak akan menghilang, tapi aku—”
“Kau pun tidak akan menghilang,” Yuto memotong perkataan Hikari dengan tegas.
Hikari memalingkan wajahnya, “Jangan bodoh, aku tahu aku akan menghilang. Lebih baik gunakan tenagamu untuk hal-hal lain selain meyakinkanku, Yuto.”
“Aku bukan hanya meyakinkanmu, Hikari-chan, aku serius,” katanya mantap. “Kau tidak akan menghilang.”
“Yuto, tak perlu sampai berbohong segala. Aku sudah menerimanya kok,” senyum pahit kembali tersungging di bibir Hikari. Yuto tahu, meski gadis itu tak menatapnya.
“Apa kau ingin menghilang?” tanya Yuto.
Pertanyaan sederhana yang begitu menusuk bagi Hikari. Ia tahu, sangat tahu, jawaban dari pertanyaan itu. Sekeras apapun lisannya mengatakan hal-hal seperti ‘aku menerima jika aku akan menghilang’ sayangnya hatinya selalu mengatakan sebaliknya. Dan itu selalu membuatnya frustrasi.
“Apa kau ingin menghilang?” Yuto kembali mengulangi pertanyaannya. Hikari masih tak menjawab, gadis itu takut kata-kata yang akan terlontar dari mulutnya akan menggoyahkan dirinya yang sudah berusaha menerima fakta jika dirinya akan menghilang. Ia tak mau perasaan yang sudah ia bangun cukup lama luluh-lantak hanya karena menjawab pertanyaan singkat dari Yuto.
Yuto meraih bahu Hikari, mencengkramnya, memaksa gadis itu agar menatap dirinya, “Jawab aku, Hikari-chan, apa kau ingin menghilang?” nada suaranya kini sudah naik. Hikari menunduk, masih enggan menjawab.
Sang shinigami bermarga Nakajima mengguncang bahu gadis shinigami yang menjadi lawan bicaranya, “Hikari-chan, jawab aku!”
“Yuto!” Keito mengingatkan sahabatnya agar tak keterlaluan pada partner termuda mereka. Yuto tak repot-repot menggubris seruan sahabatnya itu, matanya masih sibuk menatap Hikari.
“Aku tidak mau!” seru Hikari, kedua orb onyxnya berkaca-kaca namun terlihat sedikit menyiratkan kemarahan. Hancur sudah segala keyakinan yang ia bangun. Akhirnya kata-kata yang selalu bergema di hatinya berhasil keluar dengan mulus dari mulutnya. “Kau puas, Yuto? Aku tidak mau menghilang!” Yuto masih menatap Hikari, membiarkan kedua pasang onyx mereka bertemu.
Seperti yang Hikari duga, shinigami berwajah tampan di hadapannya tersenyum, “Sudah kuduga,” katanya singkat sebelum melepaskan cengkramannya dari bahu Hikari. “Tentu saja aku akan menyembuhkanmu, aku kan sudah berjanji!” lanjutnya tanpa melepas senyum yang merekah di bibirnya.
“Oh ya? Bagaimana caranya, tuan keras kepala?” tanya Hikari, dipenuhi nada sarkastik.
“Ikut aku,” katanya sebelum berdiri.  Ia mengulurkan tangannya pada gadis itu, “Ikou?” Keito, yang juga sudah berdiri menatap keduanya. Dengan perlahan, Hikari meraih tangan Yuto dan berdiri dan mengangguk. Kemudian pemuda bermarga Nakajima itu membantu sang gadis shinigami berdiri dan selanjutnya Hikari hanya dapat melihat warna hitam di sekelilingnya.
.
.
.
To Be Continued
to next chapter:
KIOKU~HIMITSU~ PIECE #9: Densetsu (Legend)
.
.
#Author’s Notes#
Wah semangat banget chapter ini! Soalnya setelah sekian lama bisa sampai di sini juga. Pokoknya serial Kioku~Himitsu~ ini harus bisa tamat!
Gimana udah ada yang bisa nebak kira-kira gimana cara Yuto nyembuhin Hikari?

.

Kioku~Himitsu~ [PIECE VII]

Title: Kioku~Himitsu~
Author: Mochiraito
Summary:
A Hey! Say! JUMP fanfic—Bila hidup adalah hal yang membingungkan, maka ingatan adalah labirin yang pelik dan membuat kita semakin tersesat jika kita menjelajahinya. Summary aneh dan ga nyambung.

Disclameir: All Hey! Say! JUMP's members belongs to Kami-sama, their parents, and Johnny's Jimusho; Kioku~Himitsu~ belongs to Mochiraito

WARNING! Contains: AU, OC(s), OOCness, ABALness, GAJEness, LOCH(?)ness, EPIC FAIL story.

DON'T LIKE DON'T READ!
ENJOY!

PIECE #1: Kuuhaku
PIECE #2: Saigo no Kioku

PIECE #3: Shitsumon to Yume
PIECE #4: Meikyuu
PIECE #5: Deau
PIECE #6: Saikai

.
[記憶]
PIECE #7:
[記憶]
Kioku (Memory)
::Terdiam membawa rahasia
Hanya menyaksikan dunia berubah di sekelilingnya.
Mengapa kau tak menjawab tanyaku, wahai kenangan?::
.
Tak ada gerakan lain dalam aula besar itu. Setiap sosok dalam aula itu masih sibuk dalam pikiran mereka masing-masing. Satu gerakan kecil akhirnya dibuat oleh sang pemimpin Shinigami Buangan. Perlahan, ia mengelus pipi Hikari tanpa mengatakan sepatah kata pun. Shinigami Buangan yang duduk di sebelahnya hanya bisa menepuk pundaknya singkat, “Sudahlah Yuto, kau tahu kan tidak akan terjadi sesuatu yang lebih buruk dari ini.”
“Aku selalu berharap seperti itu Keito,” sahut Yuto lemah.
“Hikari-chan gadis yang kuat.” Yuuri mencoba tersenyum, meyakinkan pemuda bertubuh tinggi itu.
Yuto membalas senyum Yuuri dengan senyuman lemah dan sebuah anggukan singkat. Kemudian pemuda jangkung itu menghela nafas. “Aku hanya merasa sudah gagal melindunginya...” lirih Yuto.
Keempat Shinigami Buangan di ruangan itu menatap Yuto. Mereka tahu Yuto sangat menyayangi gadis shinigami itu. Tentunya dengan kejadian ini Yuto pasti akan terpukul dan merasa dirinya sangat tak berguna. Mereka tahu Yuto sangat ingin melindungi Hikari, karena itulah ia membuat perjanjian di ‘hari itu’. Ini memang sangat berat.
“Kau sudah berusaha dengan sangat keras, Yuto,” kata Ryosuke sambil masih mengobati luka-luka di tubuh Daiki.
“Aku tidak...”
“Yama-chan benar,” Ryutaro mengiyakan kalimat Ryosuke sebelumnya, “kau tidak boleh murung!”
“Hikari-chan tidak akan suka melihatmu seperti ini,” kata Keito.
Yuto menatap teman-temannya satu per satu, “Minna, hontou arigatou na,” pemuda itu mengembangkan seulas senyum di bibir tipisnya.
Pandangan mata Yuto kini sudah beralih ke arah Hikari yang masih belum sadar. Kedua tangannya menggengam erat tangan kanan Hikari. Kelopak mata pemuda itu menutup, membuat pandangannya menghitam. Yuto semakin mengeratkan genggamannya, ‘Kami-sama, biarkanlah aku memohon lagi...’ lirih Yuto dalam hatinya, ‘Kumohon, tolong jangan buat Hikari lebih menderita dari ini. Kami-sama, kumohon...’
.
.
DOR
Hanya bunyi letusan senjata api yang terdengar di gendang telinga pria itu selain suara air hujan yang terus berjatuhan dari langit. Tubuhnya yang kini sudah terbaring di atas lantai beton yang dingin itu sudah kepayahan untuk bahkan menggerakkan pergelangan tangannya. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan hanyalah menatap dua pria lain di ruangan itu yang tengah berdiri santai, satu masih mempertahankan posisinya setelah menarik pelatuk dan satu lagi hanya berdiri diam di pojok ruangan. Seringai ditampakkan oleh pria yang memegang pistol sedangkan pria yang satu lagi hanya menyembunyikan wajahnya dibalik topi yang ia pakai.
Akhirnya sebuah kata berhasil terlontar dari mulut korban, “D-dou...shite...?” bisiknya dengan susah payah
“Dengar Jin, kami sudah tidak membutuhkanmu lagi,” kata sang pemilik pistol, “Kau memang pengkhianat! Seharusnya kami lakukan ini padamu sejak dulu!”
“Ka...me...”
“Sakit?” tanya sang pemilik nama, “Kau tahu, aku memang sengaja tak menembak tepat di jantungmu. Sekarang, nikmati saja rasa sakitmu! Hahahahahahahahaha...”
“Kame, cukup. Jangan main-main,” akhirnya pria bertopi yang sedari tadi diam kini bersuara. “Ayo! Kita masih punya pekerjaan lain!”
Sang pemilik nama mengangguk mendengar kata-kata temannya. Seringai masih belum lepas dari wajahnya. Saat ia melihat sang teman berbalik menghadap ke pintu, dengan satu gerakan cepat ia arahkan pistolnya tepat ke jantung temannya dan menarik pelatuk.
DOR
Satu lagi peluru yang meluncur mulus keluar dari pistol itu kini bersarang di tubuh manusia. Likuid merah pekat langsung menciprati dinding dan pintu. Tak butuh satu menit, tubuh pria bertopi itu pun kini sudah berada di lantai dengan darah terus keluar dari luka tembakannya. Sang penembak dengan santai memutar-mutarkan pistol di tangannya dengan gaya a la cowboy sebelum memasukkan pistol itu kembali ke sarungnya.
“Jangan bodoh, Kouki. Aku tahu kau yang selama ini membantu Jin,” dan pria itu pun meninggalkan dua temannya yang terbaring di lantai.
“Tanaka Kouki, umur 29. Mati karena tertembak peluru tepat di bagian jantung,” seorang gadis menguhunuskan katana yang ada di tangannya, “beristirahatlah dengan tenang.” Ia menebas tubuh pria bertopi itu dengan satu tebasan cepat. Kemudian gadis berpakaian serba hitam itu berjalan menghampiri pria kedua.
“Da...re...?” lirih pria itu.
“Konbanwa, Akanishi-san. Watashi wa shinigami desu,” gadis itu tersenyum sambil membungkukkan badannya. Ia bisa melihat kekagetan dan ketakutan dalam mata pria itu.
“Akanishi Jin, umur 31. Mati karena kehabisan darah,” sekali lagi gadis itu menghunus katananya, “beristirahatlah dengan tenang.” Nafas pria itu pun terhenti seketika setelah gadis itu menebas tubuhnya.
“Beristirahatlah dengan tenang...” bisik gadis itu sekali lagi. Suara lembut air hujan hanya terdengar sesekali, “Hujannya sudah mulai reda, ya...” gumamnya pada diri sendiri.
.
Gadis shinigami bernama Hikari itu berjalan dengan lambat dalam arus padat manusia yang melewati trotoar. Sepasang onyxnya menatap manusia-manusia yang berjalan di sekitarnya; pria bersetelan rapi, anak lelaki yang berjalan bersama anjingnya, wanita hamil, pemuda berpakaian a la gangster, siswi SMA berseragam yang berlajan bergerombol, lelaki kurus berpakaian lusuh, anak perempuan yang menggandeng orangtuanya. Semua terlihat begitu mengerikan di mata Hikari. Ia dapat melihat pria pelaku penembakan beberapa menit yang lalu. Tak ada raut penyesalan dalam wajahnya, kini ia berjalan dengan tenang bersama dengan seorang temannya yang lain.
“Manusia itu makhluk yang menyeramkan...” bisik Hikari pada dirinya sendiri.
Langkah-langkah kakinya yang dibalut sepatu boots semakin ia percepat. Ia muak berada diantara manusia-manusia kotor. Ia kesal dengan tindakan-tindakan bodoh yang dilakukan manusia. Ia tak suka mengingat kejadian yang baru saja disaksikannya tadi. Tetapi yang terpenting adalah ia benci mengingat betapa ia tak bisa membantu dua pria yang tewas tadi.
“Hikari-chan,” sebuah tepukan singkat di pundak sang pemilik nama sukses membuatnya menoleh, “Yuto!”
Sang pemilik nama, Nakajima Yuto, tersenyum lebar, “Baru selesai?” tanyanya. Hikari menganggukkan kepalanya, “Kamu?”
“Sama,” jawabnya singkat. Mereka berdua pun berjalan beriringan.
“Kau akan langsung kembali?” tanya Yuto.
“Entahlah... Yang jelas aku hanya ingin pergi ke tempat yang lebih tenang.” Hikari menjawab dengan suara kecil.
Yuto mengacungkan jempolnya, “Setuju! Bagaimana kalau ke taman kota saja?” tawar pemuda bermarga Nakajima itu. Hikari mengangguk dan mereka berdua pun berjalan ke taman kota.
.
Taman memang tak terlalu sepi seperti bayangan Yuto, namun setidaknya taman kota tak seramai trotoar-trotoar yang dipenuhi para pejalan kaki. Kedua shinigami berpakaian serba hitam itu duduk di salah satu bangku taman yang dicat biru. Punggung Yuto menyandar pada sandaran bangku taman yang terbuat dari kayu sedangkan kepalanya yang tertutup helai-helai hitam menengadah menatap langit yang sudah menjadi biru. Sedangkan Hikari menopangkan kepalanya ke kedua tangannya dengan tatapan lurus ke depan, menatap beberapa orang anak kecil yang tengah berkejaran dengan seekor anjing golden retriever.
Sepasang onyx Hikari tak pernah lepas dari gerakan anak-anak itu. Mereka berlari, tertawa, berteriak, bercanda, melambai. Anak-anak yang penuh keceriaan itu benar-benar membantunya melupakan hal yang baru saja ia lihat. Tanpa disadari, gadis shinigami itu menarik ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman tipis.
“Doushita?” tanya Yuto.
“Hmm nandemonai...” Hikari menggeleng.
“Kau sedang memikirkan apa? Tadi terlihat seperti orang yang ketakutan, sekarang tiba-tiba tersenyum sendiri.” Yuto mengerutkan alisnya, “Aneh!”
Hikari tak langsung menanggapi kata-kata partnernya. Ia hanya sedikit terkekeh mendengar kalimat yang dilontarkan shinigami bertubuh tinggi itu, “Ne, manusia itu aneh ya?”
Yuto semakin mengerutkan alis tipisnya, “Apanya?”
Gadis shinigami itu mengalihkan tatapannya pada kelompok anak-anak yang masih sibuk bermain dengan anjing mereka, “Kadang kau bisa melihat mereka kejam dan begitu menderita. Tapi kadang kau bisa melihat mereka ceria dan begitu penyayang.” Hikari menatap kedua onyx Yuto, “Menurutmu, yang mana sifat manusia yang sebenarnya?”
Pemuda serba hitam itu menghela nafas mendengar pernyataan panjang dan pertanyaan yang dilontarkan gadis di sampingnya. Jujur, ia baru pertama kali mendengar seorang shinigami mempermasalahkan soal itu. Baginya, sifat manusia sama sekali tak perlu dipikirkan. Ia tak peduli jika mereka baik, ramah, sombong, kejam, jahat, bahkan saling mencelakakan satu sama lain. Satu-satunya yang ia pedulikan adalah bagaimana mengambil nyawa mereka di waktu yang tepat seperti yang telah ditentukan. “Kenapa kau bertanya seperti itu?” Yuto balik bertanya.
Hikari menggelengkan kepalanya, “Tidak... Aku hanya teringat wajah pria tadi. Ia bisa dengan mudah menembakkan peluru pistolnya ke arah teman-temannya sendiri. Kau tahu? Di wajahnya sama sekali tak ada raut penyesalan ataupun ketakutan, yang bisa kuingat hanyalah seringai liciknya.”
Sebuah tangan besar mendarat di puncak kepala Hikari, “Sudahlah, Hikari-chan. Kita, para shinigami, tak perlu memikirkan hal-hal seperti itu. Hal yang kita lakukan hanya mengambil nyawa orang yang tertulis di daftar,” Yuto menunjuk buku notes kecil berwarna hitam yang ada di saku mantel Hikari. Melihat tak ada jawaban dari gadis itu, Yuto pun bangkit dari posisinya, “Kaerimashou?” Hikari mengangguk.
.
Beberapa hari telah berlalu sejak Hikari mengambil nyawa dua pria yang mati ditembak temannya sendiri. Kini gadis itu tak lagi meributkan bahkan memikirkan soal itu. Seperti yang Yuto katakan, ia hanya perlu fokus pada tugasnya sebagai seorang shinigami.
Beberapa menit yang lalu ia baru saja pergi bersama dengan Keito dan Ryutaro untuk melaksanakan tugas. Seperti biasa, mereka sampai lokasi beberapa menit sebelum saatnya. Mereka bertiga duduk diam di atas sebuah bangku taman yang ada di depan sebuah hotel yang cukup mewah. Dari luar memang tidak terlihat apa-apa, namun ketiga shinigami itu tahu beberapa menit lagi akan terjadi ledakan dahsyat yang disebabkan kebocoran gas.
“Akan ada 17 orang yang meninggal di sini,” kata Keito membaca notesnya, kedua partnernya mengangguk.
“Tiga meninggal karena terlalu banyak menelan asap, empat meninggal karena terlambat diselamatkan setelah tertimpa reruntuhan, enam meninggal karena terbakar, empat yang terakhir meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit,” Hikari ikut membaca notesnya.
“Kita harus menunggu di sini selama tiga jam, ya...” gumam Ryutaro setelah membaca waktu kematian orang-orang yang tercatat dalam notesnya.
“Untuk kalian, ya. Setelah ini aku harus langsung ke kota sebelah, ada tiga orang yang akan meninggal,” Keito menutup notesnya, lalu menatap Hikari dan Ryutaro.
“Mendokusai, ne?” Ryutaro menoleh pada Hikari, mencari dukungan. Sayangnya gadis berambut jet black itu sedang sibuk menatap gedung di hadapan mereka.
“Hikari-chan!” panggil Ryutaro.
“Eh? Nani?” gadis itu menoleh.
“Nanimonai...” gumam sang shinigami termuda.
Keito mengalihkan tatapannya pada jam tangan silver yang melingkar di pergelangan tangannya, “6...5...4...” Ryutaro menatap Keito, tangan kanannnya sudah berada di katananya, “3...2...” Hikari mantap gedung mewah itu, “1.”
DUAAAAAAAAAAR
PRAAANG
Ledakan besar di lantai dasar, tempat di mana restoran berada. Bunyi ledakan yang memekakkan telinga serta pecahan kaca yang masih bertebaran di mana-mana membuat setiap orang yang ada di sekitar hotel mewah itu panik. Beberapa sibuk menyelamatkan diri masing-masing, namun ada pula yang memanggil bantuan. Terlihat tak sedikit orang yang berlari keluar dari gedung itu. Di tengah suasana yang hiruk-pikuk, tiga sosok shinigami berpakaian hitam itu berjalan santai ke arah pintu masuk gedung yang terus dibanjiri orang yang berusaha keluar dari sana.
“Satu menit 41 detik lagi, dua orang koki di dapur restoran. Biar aku yang ke sana.” kata Keito sebelum berlari memasuki restoran yang dipenuhi asap
“Kasir restoran biar aku yang urus,” Ryutaro menyusul Keito
Hikari berdiri mematung di samping meja resepsionis. Matanya sibuk menelusuri huruf-huruf yang tertulis di notesnya. Nama-nama yang tertera di urutan paling atas mulai terhapus sedikit demi sedikit. Ia tahu itu artinya kedua partnernya telah mengambil nyawa orang-orang itu. Mata Hikari tertuju pada sebuah nama yang kini tertera di paling atas, Ueda Tatsuya. Setelah membaca detail kematiannya, gadis itu pun berlari menuju tangga dan segera menapakinya untuk mencapai lantai empat.
Satu per satu nama-nama yang tercatat dalam notes ketiga shinigami itu mulai terhapus. Hingga akhirnya tersisa enam buah nama dengan detail kematian yang berbeda, empat meninggal saat dalam perjalanan menuju rumah sakit sedangkan dua lagi karena terlambat diselamatkan setelah tertimpa reruntuhan bangunan.
Ketiga shinigami itu kini berada di lobi utama hotel yang kini sudah sepi dari eksistensi manusia. Ketiganya menggenggam katana masing-masing. “Aku duluan,” kata Keito, “waktuku tinggal 13 menit lagi.” Ryutaro dan Hikari mengangguk. Setelah seluruh nama dalam notes mereka hilang, kedua shinigami muda itu pun kembali ke mansion mereka.
.
Hikari berbaring di atas kasur di dalam kamarnya. Tubuhnya yang berbalut piyama bermotif garis-garis terasa sangat lemas dan ia merasa begitu kedinginan. Fokus matanya tertuju pada seragam yang menggantung di dinding. Sejak kembali dari tugas tadi, entah kenapa tubuhnya terasa sangat lemas. Demam, kata Kei setengah jam lalu. Sebenarnya Hikari masih memiliki empat orang manusia yang menunggu untuk dicabut nyawanya, akan tetapi melihat keadaannya sekarang, sang ketua, Kouta, memutuskan untuk mengutus Ryosuke untuk menggantikan Hikari.
“Ini, minum obat dulu,” Yuto menyodorkan botol kecil berisi kapsul berwarna hijau muda serta segelas air mineral. Pemuda bertubuh jangkung itu membantu Hikari duduk setelah ia menaruh gelas berisi air di bufet di sebelah tempat tidur Hikari. Setelah meminum obat, Yuto kembali membantu Hikari berbaring.
“Kata Inoo-chan, kau harus banyak beristirahat,” kata Yuto.
“Kurasa bukan karena aku kelelahan,” Hikari menekuk bibirnya ke bawah. Kesepuluh penghuni mansion shinigami yang lain memang sudah mengetahui soal kondisi Hikari. “Aku akan mati, kan?”
Yuto menatap gadis yang bahkan tak menatapnya itu, “Jangan bilang seperti itu. Kita kan shinigami, mana mungkin kita mati?”
“Kalau begitu aku akan menghilang. Kau tahu soal ini kan, Yuto?” Hikari menatap pemuda bermarga Nakajima itu sekilas. “Karena penyakit bodoh ini aku akan selalu sakit dan lama kelamaan aku akan menghilang seperti debu yang tertiup angin.”
Yuto mencengkram bahu Hikari, “Jangan pernah bicara seperti itu,” katanya tajam.
“Kenapa? Aku hanya mengatakan—”
“Kau tidak akan menjadi seperti itu. Kau tidak akan menghilang seperti debu yang tertiup angin!” Yuto langsung memotong kata-kata Hikari.
Hikari menatap onyx Yuto lekat-lekat, “Yuto, kau tahu kan, kalau aku memang akan jadi seperti itu?”
Yuto menggeleng, “Percayalah padaku, aku akan menyembuhkanmu!” Pemuda itu berlutut di samping tempat tidur, menyejajarkan matanya dengan sang lawan bicara, “Pasti akan kucari caranya!” Gadis bermarga Mochizuki itu hanya menatap lawan bicaranya, tak yakin dengan kata-kata yang harus ia keluarkan.
“Ne, kau percaya padaku, kan?” Yuto mengembangkan senyum tipis di bibirnya. Hikari ikut tersenyum lalu mengangguk.
.
.
.
To Be Continued
to next chapter:
KIOKU~HIMITSU~ PIECE #8: Himitsu (Secret)
.
.
#Author’s Notes#
Stuck cukup lama di chapter ini tapi akhirnya jadi juga! Meskipun hasilnya ga sepanjang yang aku bayangin. Sebentar lagi bakal tamat nih. Pokoknya harus lebih semangat deh!

.

Kioku~Himitsu~ [PIECE VI]

Title: Kioku~Himitsu~
Author: Mochiraito
Summary:
A Hey! Say! JUMP fanfic—Bila hidup adalah hal yang membingungkan, maka ingatan adalah labirin yang pelik dan membuat kita semakin tersesat jika kita menjelajahinya. Summary aneh dan ga nyambung.

Disclameir: All Hey! Say! JUMP's members belongs to Kami-sama, their parents, and Johnny's Jimusho; Kioku~Himitsu~ belongs to Mochiraito

WARNING! Contains: AU, OC(s), OOCness, ABALness, GAJEness, LOCH(?)ness, EPIC FAIL story.

DON'T LIKE DON'T READ!
ENJOY!

PIECE #1: Kuuhaku
PIECE #2: Saigo no Kioku

PIECE #3: Shitsumon to Yume
PIECE #4: Meikyuu
PIECE #5: Deau


[再会].
PIECE #6:
[再会]
Saikai (Reunion)
::Kembali menatap mereka yang dulu selalu bersama
Kini meski jalan yang kita lalui berbeda
Kita tetap akan kembali bertemu::
.
.
Kedua iris onyx Hikari menangkap sesosok pemuda yang sedang duduk di sebuah kursi—atau lebih tepat disebut singgasana. Gadis itu tak dapat menangkap gambaran wajah pemuda itu karena pencahayaan yang minim, namun sang shinigami merasa mengenal pemuda asing itu.
Sang pemuda—Yuto, menjentikkan jarinya sekali. Membuat lampu-lampu dinding dan chandelier yang menjadi sumber cahaya dalam ruangan itu menyala redup. “Selamat datang, Hikari-chan!” sapa Yuto ramah smbil bangkit dari singgasananya.
“Kau... Yu..to?“
“Kau mengingat Yuto?” tanya Keito tiba-tiba.
Hikari menoleh, “Kau... Shinigami Buangan yang ada di video?”
Keito tak langsung merespon pertanyaan gadis shinigami itu. “Kau mengingat Yuto tapi tak sedikitpun mengingat kami?”
“Tak kusangka kau akan mengingatku, Hikari-chan...” Yuto tersenyum.
Gadis bermarga Mochizuki itu merasakan kepalanya berdenyut. Semakin lama denyutan itu semakin keras dan membuat kepalanya terasa seperti akan pecah.
—“Tentu saja, kita kan teman!”
“Ne, jangan lupakan kami, Hikari-chan!”—
Sesuatu rasanya hendak membuat otaknya hancur berkeping-keping. “Aaaaah!” Hikari memegangi kepalanya, mencoba menghilangkan rasa sakit itu.
—“Percayalah padaku!
“Pasti akan kucari caranya!”—
Tapi percuma, semakin lama rasa sakit itu semakin tak tertahankan seiring dengan denyutan yang semakin keras. “Aaaaaaah!” Gadis itu jatuh terduduk sambil menahan rasa sakit.
—“Hentikan!”—
“Yamete! Kau bilang kau tidak akan menyakitinya!” seru Kouta.
Yuto menoleh ke arah sang ketua Shinigami Chiimu, “Aku tidak melakukan sesuatu pada Hikari-chan. Ia melakukannya sendiri,” ia melayangkan tatapan tajam ke arah Kouta, “Tepatnya akibat dari apa yang kau lakukan.”
“Chikuso! Lepaskan aku!” Kouta meronta
Sang pemimpin Shinigami Buangan itu tak merespon kata-kata Kouta. Ia hanya menatap batu kristal yang berdenyut-denyut di tangannya. Kemudian dengan sangat perlahan mengelus batu kristal itu, “Tenanglah, Hikari-chan...” Terlihat bias cahaya kebiruan menyelimuti batu kristal itu dan denyutan cahayanya pun berangsur-angsur meredup.
—“Ingatlah…”—
“Aaaaaah!” Hikari masih terduduk sambil memegangi kepalanya. Namun ia dapat merasakan bahwa sakit yang mendera kepalanya berangsur-angsur menghilang—seiring dengan redupnya cahaya batu kristal yang ada di tangan Yuto.
Kouta merasakan belitan sulur-sulur yang sedari tadi mengunci seluruh gerakannya menjadi semakin longgar. Ia menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman kecil.
“Gomen ne, Hikari-chan... Kau tidak bisa mengingat hal itu...” Yuto memandangi gadis yang masih terduduk itu dengan tatapan sendu.
“Hiaaaaaaaaaah!” tiba-tiba sebuah katana terarah tepat ke arah tangan Yuto yang masih memegang batu kristal. Beruntung, sang pemilik tangan masih sempat menarik tangannya sebelum tangannya tertebas oleh katana milik Kouta, tapi sayangnya batu kristal yang ada di genggamannya berhasil berpindah ke tangan sang penyerang.
“Kau?!” Yuto menarik katananya dengan cepat, mengambil ancang-ancang untuk menyerang Kouta dan merebut kembali batu kristal itu.
“Jika ini hancur, maka Hikari-chan akan mengingat semuanya!” seru Kouta, bukan sebagai pertanyaan, tapi lebih sebagai pernyataan.
Tanpa dikomando, Keito melompat ke arah sang shinigami bermarga Yabu dengan katana siap menebas. Beruntung, Kouta berhasil mengelak dari serangan Keito yang tiba-tiba.
Tangan Kouta yang menggenggam kristal itu terangkat tinggi-tinggi ke udara, “Kau harus mengingat semuanya, Hikari-chan!” lalu dengan keras ia hempaskan batu kristal merah transparan itu ke lantai marmer aula megah itu.
Yuto berlari ke arah Kouta, berusaha menangkap kristal rapuh tersebut, namun usahanya sia-sia kala menatap kristal merah transparan itu hancur berkeping-keping diiringi suara kaca pecah. “Tidak! Kau tidak boleh mengingatnya!” seru Yuto.
Hikari hanya menatap adegan yang berlangsung di hadapannya dengan bingung sebelum akhirnya kehilangan kesadaran dan jatuh pingsan.
.
Daiki menumpukan berat tubuhnya pada katananya. Nafasnya yang terengah-engah sama sekali tidak membantunya mencari cara untuk mengalahkan Shinigami Buangan yang ada di hadapannya. Sementara lawannya, sang Shinigami Buangan, hanya menyunggingkan senyum yang sama. Dengan susah payah, Daiki bangkit dari posisinya. Lalu pemuda berambut eboni itu menatap lawannya dengan tajam dan berlari ke arahnya. “Hiaaaaaaah!!!”
TRANG
Lagi-lagi tebasan yang dialamatkan Daiki pada Ryutaro berhasil ditangkis dengan mudah oleh Ryutaro. “Kelihatannya kau sudah mulai kelelahan, Dai-chan.” kata Ryutaro, tak menghilangkan senyuman yang terpatri di wajahnya.
“Urusai!” sahut Daiki marah sambil berusaha menghempaskan pemuda yang sedikit lebih tinggi darinya itu.
“Kuanggap itu sebagai ‘iya’.” Ryutaro melebarkan senyumannya.
Kedua entitas itu melompat bersamaan, lalu kembali mengadu kedua bilah katana mereka. Gagal mengenai sang sasaran, Daiki memperlebar jarak mereka berdua. Kedua onyxnya setia menatap gerakan pemuda bermarga Morimoto itu sambil mencari celah kelemahan pemuda itu.
Dalam satu kedipan, sosok Ryutaro sudah menghilang dari pandangan Daiki. Kaget, Daiki melempar pandang ke sekelilingnya, berharap menemukan sosok pemuda berpakaian serba putih yang ia cari. Tak menemukan sosok lain, ia pun menengadahkan kepalanya. Tepat di saat itu sebilah katana sudah berada tepat di atas kepalanya, siap membelah kepala sang shinigami bermarga Arioka. Daiki menjatuhkan dirinya, lalu berguling ke sisi kiri untuk menghindari serangan tiba-tiba itu. Lalu dengan cepat kembali berdiri dan bersiap menghadapi serangan selanjutnya.
Baru saja telapak kaki Ryutaro menyentuh tanah, pemuda itu sudah berlari ke arah Daiki dan bersiap menyerang. Tebasan, hujaman, dan tendangan ia alamatkan pada Daiki. Hampir seluruh serangan yang ia lancarkan tepat sasaran mengenai tubuh Daiki, membuat pemuda berpipi chubby itu limbung. Meskipun tak ada yang sangat fatal, tapi luka-luka yang kini dimiliki shinigami itu membuatnya tak bisa bergerak secepat sebelumnya dan membuatnya harus menderita sakit yang tak tertahankan.
Sekali lagi sosok Ryutaro menghilang dari pandangan Daiki dengan satu kedipan mata. Dan kali ini sosok pemuda serba putih itu muncul persis di hadapan sang pemuda serba hitam, berniat melukai tangan sang pemuda serba hitam.
Menyerang atau diserang adalah prinsip Daiki pada pertarungannya dengan Ryutaro. Ia tak ingin memberikan Shinigami Buangan yang lebih muda darinya itu kesempatan lain untuk melukai dirinya lagi dan mengalahkannya.
Tanpa diduga oleh Ryutaro, Daiki mengayunkan katananya dari sisi kanan tubuh Ryutaro, bermaksud mengenai pinggang pemuda itu. Tampaknya sang sasaran benar-benar lincah, sehingga dengan gerakan cepat serangan Daiki berhasil dihindari dengan melompat tinggi-tinggi. Daiki berdecih kesal melihat reaksi sang lawan. Baru saja ia hendak menggeser posisi tubuhnya untuk melancarkan serangan selanjutnya, tangan Ryutaro tiba-tiba menjadikan kepala Daiki sebagai tumpuan berat badannya. Kemudian dengan keras ia hempaskan kepala Daiki ke belakang, membuat Daiki terjerembab ke lantai marmer.
“Bagaimana, Dai-chan? Kau masih ingin bertarung denganku?” tanya Ryutaro.
“Ukh… Kuso!” rutuk Daiki sambil mengepalkan tinjunya kuat-kuat. Ia ingin membalas serangan Ryutaro, namun ia tak bisa. Sakit dari luka-luka di tubuhnya terus berdenyut-denyut dan membuatnya sulit untuk bergerak.
Hening menyusup di antara keduanya.
“Apa kau serius Keito-kun?! Wakatta ne!” seru Ryutaro tiba-tiba. Kemudian berlari menuju tubuh shinigami yang masih terbaring di lantai marmer. Daiki merasakan tubuhnya yang terbaring penuh luka terangkat dan berakhir dalam papahan sang Shinigami Buangan yang tadi menjadi lawannya.
“Apa…yang mau kau…ukh…lakukan…padaku?” tanya Daiki curiga.
Ryutaro menatap Daiki yang berada di papahannya, “Tenang, aku tidak akan melakukan apapun padamu. Aku akan membawamu bertemu dengan yang lainnya.” Dan kedua entitas itu pun meninggalkan ruangan saksi bisu pertarungan mereka.
.
Serangan pertama dilancarkan oleh Yuuri. Pemuda mungil itu berputar mengelilingi ketiga shinigami yang menjadi lawannya. Katananya sudah tersarung rapi di punggungnya. Ryosuke kembali menyarungkan kembali katana miliknya, lalu melipat kedua tangannya. Sebuah seringai terbentuk di bibirnya.
Ketiga shinigami berpakaian hitam; Hikaru, Kei, dan Yuya, mengamati gerakan lawan mereka. Kei mengerutkan alisnya. Ia mengamati Yuuri yang tengah berputar mengelilingi mereka tanpa katana terhunus dan Ryosuke yang hanya diam mengamati dari kejauhan. Apa yang sebenarnya mereka rencanakan? Pertanyaan itulah yang muncul di benak Kei. Shinigami berwajah manis itu melirik ke arah kedua partnernya. Keduanya terlihat kelelahan dan kemarahan jelas tampak dalam air muka mereka. ‘Ini tidak bagus...’ batin Kei.
Tanpa aba-aba, Yuya melompat ke arah Ryosuke dengan katana terhunus. Sepertinya shinigami berambut cokelat itu hendak melukai lawannya dalam satu serangan cepat. Tanpa melakukan terlalu banyak manuver, Yuya sudah hampir berada di titik yang ia inginkan. Yuya sama sekali tidak memperhitungkan Ryosuke yang berlari maju tepat ke arahnya. Tapi itulah yang terjadi. Shinigami Buangan itu berlari dengan cepat seolah-olah hendak menyambut serangan lawannya.
TRANG
Kedua bilah katana saling beradu. Selama beberapa detik mereka berdua mempertahankan posisi mereka, saling menekan mengadu kekuatan. Kedua pasang onyx pun saling bertatapan tajam. Pada akhirnya Ryosuke menghempaskan Yuya dengan keras ke arah kiri dan melancarkan serangan kembali.
Hikaru mengeratkan genggamannya pada pegangan katananya. Ia sedang bersiap-siap untuk serangan yang akan ia lancarkan pada Shinigami Buangan bertubuh mungil yang sedang bergerak mengelilingi mereka. Yuya pun terlihat sedang mengokohkan kuda-kudanya, mempersiapkan diri dari serangan sekecil apapun yang akan dialamatkan padanya maupun pada kedua partnernya. Tanpa mereka sadari, sebuah senyum kecil terbentuk di wajah Yuuri.
“Hiaaaaaaaaah!” Hikaru menerjang ke depan dengan gerakan cepat dan mantap.
TRANG
TRANG
Tiga serangan telah dilancarkan Hikaru. Namun sayang, yang tepat sasaran hanya yang terakhir. Bilah katana Hikaru berhasil mengenai pinggang  Yuuri. Warna merah dengan cepat merembes ke t-shirt dan rompi putih yang dikenakan Yuuri. Sejenak, Hikaru terdiam memerhatikan rembesan darah yang ada di baju Yuuri akibat luka yang ia timbulkan. Kemudian onyxnya ganti menatap wajah Yuuri. Pemuda mungil itu memang tersenyum, namun Hikaru dapat membaca raut kesakitan dalam wajahnya.
‘Kenapa ia tersenyum?’ batin Hikaru.
“Hikaru! Mereka pasti merencanakan sesuatu!” seruan Kei mengembalikan Hikaru dari lamunan sesaatnya. Hikaru sama sekali tidak merespon kata-kata partnernya. Ia masih sibuk memfokuskan diri pada lawannya.
“Hikaru!” sekali lagi Kei berseru.
Kali ini bilah katana milik Ryosuke telah berada tepat di belakang leher Hikaru, siap memutuskan kepala shinigami berambut cokelat itu dari tubuhnya. Sayangnya Hikaru terlambat menyadari gerakan itu. Ia tak sempat menghindari serangan tiba-tiba yang dilancarkan Shinigami Buangan bermarga Yamada itu. Kedua kelopak matanya sudah ia tutup dan giginya sudah terkatup.
Bilah katana Ryosuke berhenti tepat dua inchi sebelum bilah tajam itu menyentuh permukaan kulit tengkuk Hikaru. Entah apa yang dimaksudkan oleh Shinigami Buangan itu, tapi ia memang menghentikan gerakannya. Kaget bercampur bingung, tak seorang pun beranjak dari posisinya.
“Kenapa kau tidak menyerangku?” tanya Hikaru tajam.
“Sudah cukup main-mainnya. Kita harus cepat.” Ryosuke kembali menyarungkan katananya.
“Jawab pertanyaanku!” Hikaru mengarahkan ujung bilah katananya pada Ryosuke
“Chii.”
“Hai!” Yuuri mengangguk, “Kurasa kita butuh bantuan Keito, ne?”
Ryosuke mengangguk singkat, “Keito, kau mendengarkan kami, kan?” tanya pemuda bermarga Yamada itu—pada pemuda yang bahkan sosoknya tak ada di ruangan tempat mereka berada.
“Jangan macam-macam kalian!” kali ini giliran Yuya yang mengarahkan ujung bilah katananya pada Yuuri.
“Apa rencana kalian?” tanya Kei.
“Ne, Inoo-chan, bukankah kau tahu kami tidak akan memberitahukannya pada kalian? Untuk apa lagi bertanya?” Yuuri merespon pertanyaan Kei dengan pertanyaan lain. Kei tak menjawab, hanya mengeratkan genggamannya pada katananya.
Hening selama beberapa saat. Tak ada satu pun yang menggerakkan anggota tubuh mereka. Mereka terpaku dalam posisi masing-masing. Hingga tiba-tiba kedua Shinigami Buangan yang ada di ruangan itu melompat ke belakang, memperlebar jarak di antara mereka dan para anggota Shinigami Chiimu.
“Jaa!” Yuuri melambaikan tangannya.
Baru saja ketiga Shinigami berbalut pakaian hitam itu hendak menghampiri lawan mereka, sebuah lubang besar, yang entah berasal dari mana, terbentuk di tempat mereka berpijak. Tak perlu menunggu lagi, ketiga anggota Shinigami Chiimu itu pun langsung terjatuh ke dalam lubang itu. Yuuri dan Ryosuke menghampiri bibir lubang dan menatap ke dalam. Mereka hanya melihat warna hitam.
“Ikou ka?” tanya Yuuri.
Ryosuke langsung menganggukkan kepalanya, “Sepertinya situasinya jadi parah,”
“Semoga Yuto tidak melakukan hal yang tidak-tidak,” Yuuri berharap.
“Yah, kita tidak ingin hal seperti ‘hari itu’ terjadi lagi, kan?” Yuuri menatap partnernya dan mengangguk menanggapi pertanyaan Ryosuke.
.
Tak ada satu kata pun yang lolos dari mulut milik ketiga pemuda yang ada di ruangan megah itu. Yuto menatap gadis yang sudah tergeletak tak sadarkan diri di lantai marmer ruangan itu. Sorot matanya tak mudah dibaca, namun satu hal yang jelas tampak dalam kedua onyxnya; kekhawatiran. Keito pun sama, meskipun sekilas wajahnya sama sekali tak mengalami perubahan ekspresi, tetapi sorot matanya menampakkan kekhawatiran yang sama seperti yang ditampakkan sepasang onyx Yuto. Kelima jari tangan kanan Keito menggenggam erat katananya. Kouta terdiam di posisinya, tatapan kedua onyxnya ia jatuhkan pada kouhainya yang tak sadarkan diri. Ia terus diam, menunggu reaksi yang akan diberikan gadis itu.
Beberapa menit telah berlalu. Namun tampaknya reaksi yang ditunggu Kouta tak kunjung tampak. Hikari masih tergeletak tak sadarkan diri di tempatnya. Entah kenapa tiba-tiba saja kedua lutut Kouta melemas, menjatuhkan tubuh pemuda kurus itu dalam posisi berlutut. Tatapannya masih lurus ke arah Hikari.
“Kau puas?” suara Yuto memecah kesunyian dalam ruangan itu. Kouta menoleh—kini begitu banyak emosi yang terpancar di kedua onyxnya, namun didominasi oleh tiga; kemarahan, kebingungan, dan kekhawatiran.
Kouta kembali berdiri, “Apa yang sudah kau lakukan—”
“Seharusnya aku yang menanyakan hal itu padamu!” kata-kata sang ketua Shinigami Chiimu diinterupsi oleh seruan ketua Shinigami Buangan. “Karena kau...” tampak jelas Yuto sedang berusaha mengendalikan begitu banyak emosi yang ada di hatinya, “Karena kau... sekarang Hikari tidak akan pernah sembuh!”
Onyx Kouta membola. ‘Sembuh? Apa maksudnya?’ Otak pemuda bermarga Yabu itu mencoba memroses kata-kata yang dilontarkan pemuda yang berada di hadapannya. Kouta melayangkan pandangannya pada Hikari, mencoba menemukan sesuatu yang salah dari gadis itu. Masih tak menemukan apapun, Kouta kembali melemparkan tatapan bingung pada Yuto.
“Kau puas sekarang, hah?” Yuto membalas tatapan Kouta dengan dingin, “Kau puas bertindak seolah-olah kaulah pahlawannya? Kau puas membahayakan Hikari? Kau puas menyiksanya seperti ini?” selangkah demi selangkah, Yuto mulai mengeliminasi jarak diantara mereka, “Jawab aku!” ketua Shinigami Buangan itu mengarahkan bilah katananya ke arah Kouta.
“A-aku tidak mengerti...” gumam Kouta.
“Tentu saja kau tidak mengerti—kau tidak akan pernah mengerti!” seru Yuto, kerutan yang tampak di dahinya semakin dalam.
Hening menyelimuti aula megah itu. Keito berjalan perlahan ke arah Hikari. Di wajahnya kini ekspresi kekhawatiran sangat kentara. Tangannya meraba pergelangan tangan gadis itu. Keito mengernyit, meskipun masih sangat lemah, ia bisa merasakan getaran di sana dan ia tahu itu adalah detak jantung. Tersirat setitik kepanikan dalam onyxnya. Jika terus dibiarkan kondisi Hikari bisa semakin parah.
“Yuto,” Sang pemilik nama menoleh, “Kurasa sudah saatnya.”
“Tapi Keito—”
“Hikari dalam bahaya jika terus dibiarkan seperti ini. Setidaknya jika mereka tahu mereka tidak akan mempersulit kita,” potong Keito.
“Tidak ada gunanya. Kita tidak akan bisa menolong Hikari meski mereka mengingat semuanya.” Yuto menggelengkan kepalanya.
“Mereka berhak tahu. Dalam keadaan seperti ini perjanjian itu sudah tidak berlaku lagi, Yuto. Aku tahu kau juga mengerti.”
Derap langkah kaki terdengar saling bersahutan dari arah pintu yang tertutup. Atensi ketiga pemuda dalam aula itu teralih pada suara langkah kaki-kaki yang terdengar terburu-buru itu. Tak sampai lima menit, pintu pun terbuka dengan suara yang keras. Para pemilik langkah kaki—Ryutaro, Yuuri, dan Ryosuke—langsung berlari masuk ke aula megah itu. Keito langsung membantu menurunkan Daiki dari papahan Ryutaro dan meletakkannya dengan hati-hati di lantai.
Kouta membelalakkan kedua onyxnya mengetahui ketiga orang yang baru saja masuk ke ruangan itu adalah para Shinigami Buangan yang lain. Kedua onyxnya semakin melebar ketika melihat keadaan Daiki yang babak belur dalam papahan Ryutaro. Benaknya langsung menepis kemungkinan terburuk yang dialami teman-temannya yang lain. Ia belum mau memercayai jika teman-temannya telah berhasil dikalahkan para Shinigami buangan sampai ia melihatnya sendiri dengan kedua matanya.
Yuto menatap teman-temannya singkat, “Kalian mendengarkan, kan?” Melihat anggukkan cepat dari keempat temannya yang lain, Yuto mengeratkan genggaman pada katananya, “Menurut—”
“Kami setuju dengan Keito,” potong Ryosuke yang disambut anggukkan kuat dari Yuuri.
“Benar,” timpal  Ryutaro “tidak ada gunanya lagi kita tetap mempertahankan perjanjian kita jika perjanjian itu sendiri telah batal karena ulah mereka,” Ryutaro mengendikkan kepalanya ke arah Kouta.
Yuto mengalihkan tatapannya pada Kouta, “Ya, kurasa itu memang keputusan yang terbaik,” Yuto menyarungkan katananya dengan perahan.
“Apa yang kalian bicarakan?” Kouta kembali mengacungkan katananya.
Tak ada satu orang pun yang menjawab pertanyaan sang ketua Shinigami Chiimu itu. Yuuri dan Ryutaro langsung berlari ke arah pintu. Ryosuke pun segera menyarungkan katananya dan duduk di dekat Daiki dan Hikari yang terbaring menyusul Keito yang sudah duduk beberapa saat sebelumnya. Ryosuke tampak sedang menyembuhkan luka-luka Daiki dan beberapa kali mengecek keadaan Hikari. Daiki mengerjap-ngerjapkan matanya, pertanda ia akan segera sadar.
“Apa yang sedang terjadi sebenarnya?!” seru Kouta. Hening. Semua orang di ruangan ini masih sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing.
Lubang buatan Keito yang sebelumnya menelan Hikaru, Kei, dan Yuya tampak di langit-langit aula dan memuntahkan ketiga shinigami. Membuat suara gedebuk yang cukup keras yang berasal dari suara tubuh yang membentur lantai marmer. Terdengar gumaman-gumaman mengaduh sebelum ketiga shinigami itu bangkit berdiri.
“Akhirnya semuanya lengkap, ya?” tanya Ryutaro. Yuuri mengangguk sebagai jawaban.
“Hikaru? Inoo-chan? Yuuyan?” Kouta mengabsen ketiga temannya itu.
Ketiga pemilik nama menoleh ke arah ketua mereka. “Yabu-kun!” seru Kei.
“Selamat datang di aulaku, Shinigami-tachi!” Yuto kembali ke ekspresinya yang biasa. Tak terlihat kecemasan, ketakutan, maupun kemarahan yang sebelumnya sangat kentara di wajah tampannya. “Senang bisa melihat kalian kembali.”
“Nakajima Yuto!” Yuya langsung berlari ke arah Yuto dalam kuda-kuda siap menyerang.
Baru sempat Yuya melangkahkan kakinya sejauh beberapa langkah, sulur-sulur tanaman yang entah datang dari mana membelit kaki dan pergelangan tangan pemuda bermarga Takaki itu. Seketika menjatuhkannya dalam posisi besimpuh di lantai. “Kuso!” rutuk Yuya, kepalanya meoleh ke arah Shinigami Buangan bermarga Chinen yang sedang santai memainkan jari-jarinya. “Gomen ne, aku tidak boleh membiarkanmu melukai siapapun, Yuuyan.”
“Yuuyan!” Kei menghampiri Yuya dan mencoba melepaskan belitan sulur-sulur yang tiba-tiba ikut membelit tubuhnya.
Tanpa aba-aba lain, Hikaru berlari ke arah Yuto yang masih dengan santai berdiri dengan seringai di wajahnya. Kedua tangan ketua Shinigami Buangan itu terlipat di depan dadanya. Jarak antara Yuto dan Hikaru hanya tinggal tiga setengah meter lagi.
TRANG
Bilah katana Hikaru ditahan oleh bilah katana Ryutaro. Pemuda yang lebih tua menggertakkan giginya kesal. Dengan mudah, pemuda bermarga Morimoto itu melemparkan katana Hikaru ke sisi lain aula. Kemudian dengan satu gerakan cepat menendang tubuh shinigami berambut cokelat itu hingga tersungkur di tanah. Tak butuh waktu lama, sulur-sulur tanaman milik Yuuri pun mengikat pergelangan kaki Hikaru.
“Minna!” Kouta menatap nanar teman-temannya. Mereka sudah dilumpuhkan dengan mudah oleh para Shinigami Buangan. Kouta tahu meskipun ia melawan, kemungkinannya untuk menang sangat kecil. Pertama kekuatan para Shinigami Buangan memang tak boleh diremehkan; kedua ia tak yakin menang jika melakukan pertarungan satu lawan lima. “Chikuso!” Kouta mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan kedua alis tipisnya sudah berkerut semakin dalam.
Yuto merogoh saku jubahnya. Sebuah kristal lain kini telah berpindah dari saku jubahnya ke tangannya. Kristal kali ini tak berwarna—transparan. Ukurannya sedikit lebih besar dari kristal merah transparan yang telah dipecahkan Kouta. Yuto memainkan kristal yang terasa dingin itu di tangannya. Kedua onyx Kouta menatapnya penuh tanya. Sang ketua Shinigami Chiimu tak yakin dengan apa yang akan dilakukan pemuda di hadapannya. Ia bahkan tak tahu fungsi kristal yang kini sedang digenggam Yuto.
Dengan satu gerakan cepat, Yuto menghancurkan kristal rapuh itu menjadi butir-butir kecil yang lolos dari sela-sela genggaman tangannya. Yuto membuka kepalan tangannya. Kedua onyxnya menatap butiran-butiran halus yang tersisa di tangannya.
“AAAAAAAAAAAAAAAH!” Seruan-seruan kesakitan dari para shinigami berpakaian hitam di ruangan itu pun terdengar sebelum akhirnya mereka jatuh pingsan, meninggalkan ruangan itu dalam kesunyian yang terasa begitu mengganjal.
Yuto menjatuhkan dirinya di singgasananya. Pemuda itu menghela nafas panjang dan meraih jam pasir yang diletakkan di bufet di samping singgasananya. Selama beberapa saat, pemuda itu menatap pasir yang terus turun dalam jam pasir itu. Ia pun bangkit kembali dan berjalan ke arah Hikari yang masih tak sadarkan diri. Perlahan, ia duduk di samping Keito.
“Keito, keadaannya tidak memburuk kan?” tanya Yuto sambil menyibak poni yang menutupi dahi Hikari. Sang pemilik nama menggeleng. “Yokatta...” gumam Yuto, senyuman samar tampak di bibir tipisnya.
“Yuto, kita tetap harus waspada pada apa yang akan terjadi selanjutnya,” kata Ryosuke yang masih mengobati luka Daiki
Yuto mengangguk, “Aku tahu, Yama-chan...”
“Kita hanya bisa berdoa di saat seperti ini,” tambah Keito.
.
.
.
To Be Continued
to next chapter:
KIOKU~HIMITSU~ PIECE #7: Kioku (Memory)
.
.
#Author’s Notes#
Chapter yang entah kenapa bikinnya dengan penuh perjuangan. Mood sempet ilang di tengah nulis chapter ini, tapi untungnya dengan keajaiban yang datang entah dari mana mood buat nulis fanfic ini balik lagi. *tebar confetti* Semoga ceritanya ga membingungkan dan masih bisa dimengerti deh! Next chapter is full of flashback! Be prepared!
.

Kioku~Himitsu~ [PIECE V]

Title: Kioku~Himitsu~
Author: Mochiraito
Summary:
A Hey! Say! JUMP fanfic—Bila hidup adalah hal yang membingungkan, maka ingatan adalah labirin yang pelik dan membuat kita semakin tersesat jika kita menjelajahinya. Summary aneh dan ga nyambung.

Disclameir: All Hey! Say! JUMP's members belongs to Kami-sama, their parents, and Johnny's Jimusho; Kioku~Himitsu~ belongs to Mochiraito

WARNING! Contains: AU, OC(s), OOCness, ABALness, GAJEness, LOCH(?)ness, EPIC FAIL story.

DON'T LIKE DON'T READ!
ENJOY!

PIECE #1: Kuuhaku
PIECE #2: Saigo no Kioku

PIECE #3: Shitsumon to Yume
PIECE #4: Meikyuu


[[出会う]]
PIECE #5:
[出会う]
Deau (Meetings)
::Mata yang saling bertatap, raga yang saling bertemu.
Tanya yang tak terjawab,
mungkin akan terjawab saat bertemu::
.
.
Dua orang pemuda tampak sedang menuruni anak-anak tangga yang melingkar. Yang memimpin jalan adalah pemuda berwajah tanpa ekspresi yang tampaknya lebih muda beberapa tahun dari pemuda yang berjalan di belakangnya. Sedangkan pemuda yang berada di belakang pemuda tanpa ekspresi itu hanya berjalan dalam diam dengan roman wajah yang serius.
Pemuda yang memimpin jalan, Okamoto Keito, menghentikan langkahnya di depan sebuah batu berbentuk kubus yang terlihat mirip dengan altar. Kemudian setelah meletakkan tangan kanannya di atas ‘altar’ itu, Keito menekannya dan ‘altar’ itu bergeser dengan mulus, memunculkan sebuah jalan baru dengan anak-anak tangga melingkar yang lain. Keito menatap ketua Shinigami Chiimu yang berada di belakangnya singkat sebelum berjalan menuruni anak tangga.
“Kupikir dia akan berada di lantai 3 mansion ini.” celetuk Kouta, “Bukankah seharusnya untuk naik ke lantai 3 harus menggunakan tangga yang arahnya ke atas, bukan ke bawah?”
“Kau benar-benar terjebak dengan denah itu?” tanya Keito.
“Nani?!”
“Itu denah asli mansion buatan Yama-chan. Sengaja kumasukkan ke data-data itu ke ruang penyimpanan kalian. Tak kusangka kau benar-benar memercayainya seratus persen dan lupa pada kekuatanku.” Keito menggeleng-gelengkan kepalanya, masih dengan roman wajah yang datar.
“Ck! Kuso!” maki Kouta.
Dan mereka berdua pun kembali menuruni tangga. Menuju ke ruangan yang dihuni oleh pemimpin dari para Shinigami Buangan..
Sebuah batu berbentuk balok berdiri tegak di tengah ruangan berbentuk bulat itu. Beberapa aksara yang cukup asing di mata Kouta terpahat di dinding juga lantai ruangan itu sampai ke batu berbentuk balok yang ada di tengah-tengah ruangan. Penerangan bagi ruangan berdiameter sekitar dua setengah meter itu hanya berasal dari lima buah lampu minyak yang digantung di dinding serta satu buah lampu minyak yang digantung di langit-langit—tepat di atas batu berbentuk balok.
Keito berjalan ke arah batu itu dengan langkah cepat. Kemudian menempatkan tangan kanannya di atas batu itu. “Letakkan tanganmu di atas tanganku.”
Tanpa menunggu dikomando dua kali, Kouta berjalan menjuju Keito dan meletakkan tangan kanannya di atas tangan kanan Keito.
“Pejamkan matamu. Kau baru boleh membukannya saat aku memintamu membukanya.”
Kouta mengangguk dan memejamkan matanya. Hal yang selanjutnya ia rasakan adalah pusing yang mendera bagian belakang kepalanya.
.
Beberapa detik berlalu. Kouta masih menutup kedua kelopak matanya. Satu-satunya yang bisa ia rasakan adalah tangan kanan Keito yang berada di bawah tangan kanannya dan batu tempat dirinya berpijak.
“Kau boleh membuka matamu sekarang,” Kouta mendengar Keito berkata
Sang ketua Shinigami Chiimu pun membuka kedua kelopak matanya. Betapa terkejutnya ia ketika ia melihat sebuah aula besar berbentuk bulat yang tampak cukup megah dengan caranya sendiri. Lantainya yang tampaknya terbuat dari batu marmer putih dapat memantulkan bayangan benda-benda yang ada di atasnya. Beberapa lukisan serta permadani menghiasi sebagian dinding aula itu. Serta chandelier berukuran sangat besar tergantung di langit-langit aula yang tingginya mungkin sekitar tiga sampai empat meter, menambah kesan megah yang tercipta di ruangan itu. Jendela-jendelanya yang besar tertutup oleh tirai berwarna merah marun, sangat kontras dengan dinding yang terbuat dari batu kelabu muda yang halus.
“Kau sudah kembali, Keito?” tanya seorang pemuda berpakaian serba putih yang sedang duduk di atas sebuah kursi—mungkin lebih tepat disebut sebagai singgasana—berukuran cukup besar di salah satu sudut aula
“Maaf karena sedikit lama. Apa aku terlambat?” Keito tersenyum setelah sedikit membungkuk.
Pemuda yang duduk di kursi itu menatap sebuah jam pasir yang diletakkan di atas bufet kecil yang ada di samping singgasananya. “Tidak. Kau benar-benar tepat waktu malah,” pemuda itu tergelak.
“Kuanggap itu sebagai pujian,” Keito menganggapi dengan tawa.
“Kau pasti membawanya berputar-putar dulu, ya?”
“Sedikit,” seulas senyum kecil tampak di bibir Keito.
“Yabu Kouta, senang bisa melihatmu lagi,” sapa pemuda berpakaian serba putih itu ramah.
“Nakajima Yuto...” sahut Kouta, “apa maumu?”
To the point seperti biasa, ne?” Yuto terkekeh. Kouta memberikan tatapan menusuk pada lawan bicaranya. “Tenang saja, Yabu-kun. Biar kutegaskan, kami tidak akan melukai Hikari-chan kok! Lagi pula buat apa juga aku melukainya?”
“Karena kau tidak ingin kami mengetahui apa yang terjadi di ‘hari itu’!” jawab Kouta sengit.
“Jadi selama ini kau masih mempermasalahkan soal ‘hari itu’?” tanya Yuto.
“Katakan apa yang kau inginkan dengan membuat Hikari-chan melupakan itu semua!” Kouta maju beberapa langkah.
“Tenang dulu, Yabu-kun...” Yuto kembali memamerkan senyumnya, “Sayangnya aku tidak bisa mengatakan soal itu,” sahut Yuto sambil menaikkan kedua bahunya bersamaan.
“Kau...” geram sang ketua Shinigami Chiimu sambil menghunus katananya dan berlari menerjang sang pemimpin para Shinigami Buangan.
Sudut bibir Yuto tertarik, membentuk sebuah seringai kecil. Kemudian pemuda bertubuh jangkung itu menjentikkan jarinya. Dalam hitungan detik, sulur-sulur tanaman datang entah dari mana dan membelit tubuh sang ketua Shinigami Chiimu. Kouta berusaha memberontak dan melepaskan diri, namun usahanya tak membuahkan hasil. Sulur-sulur itu malah menjeratnya semakin kuat.
“Sudah kubilang, deshou? Kau harus tenang.” Yuto membetulkan posisi duduknya. “Ah, Chii, arigatou,” tambahnya entah pada siapa.
“Kalau kau tidak mau menjawab pertanyaanku. Setidaknya katakan alasanmu melarikan diri di ‘hari itu’!” seru Kouta.
Hening sejenak. Baik Yuto, Kouta, maupun Keito, tak ada yang mengeluarkan satu kata pun dari mulut mereka. Yuto tampak sedang hanyut dalam pikirannya, Kouta menunggu respon lawan bicaranya, sedangkan Keito hanya bertindak sebagai penonton atas adegan yang ia saksikan.
“Yabu-kun, apa yang kau tahu soal ‘hari itu’?” tanya Yuto dengan suara kecil.
“Kalian melakukan sesuatu pada Hikari-chan dan membuatnya tidak sadarkan diri setelah kalian ketahuan mengambil nyawa manusia yang tidak tertulis di dalam daftar kematian. Kemudian kalian pergi melarikan diri saat kukejar.” jawab Kouta masih dengan roman wajah serius.
Lagi-lagi hening sejenak. Sang pemimpin Shinigami Buangan itu tampaknya sedang memutar kembali ingatan tentang kejadian yang ia alami di ‘hari itu’ dalam otaknya. Kemudian bibir tipisnya membentuk senyuman kecil, “Memanipulasi ingatan adalah kekuatan yang kumiliki sejak dulu. Meskipun cukup beresiko, hal itu tetap dapat kulakukan.” kata Yuto tiba-tiba.
“Apa maksudmu?” kedua onyx Kouta menatap pemuda yang lebih muda darinya dengan tatapan bingung
“Sebenarnya saat itu kalian menyaksikan seluruh kejadiannya. Hanya saja aku tidak ingin kalian semua mengingat hal menyakitkan itu.” kedua onyx Yuto balas menatap onyx Kouta, “Kau tahu, hal itu sangat berbahaya dan menyakitkan. Biarlah hanya kami berlima, para Shinigami Buangan, yang tahu soal itu...” Yuto menarik nafas dalam-dalam setelah mengakhiri kalimatnya.
“Nani...?” onyx Kouta membulat, “Uso! Usotsuku da!”
“Mau percaya padaku atau tidak, itu terserah padamu.” sang pemimpin Shinigami Buangan tersenyum, “Tapi hanya satu hal yang perlu kau tahu, selama ini masih ada padaku,” Yuto menunjukkan sebuah batu kristal berukuran kecil berwarna merah transparan dengan hati-hati, “Hikari-chan tidak akan bisa mengingat apa-apa soal kejadian ‘hari itu’.”
“Itu—“
“Tindakan pencegahan, kalau-kalau saat-saat seperti ini terjadi dan orang sepertimu berada di baliknya.” potong pemuda bertubuh jangkung yang masih duduk nyaman di kursinya, “Orang yang tidak tahu apa-apa tapi mencoba berlagak menjadi pahlawan yang sok tahu!” tambah Yuto dengan suara rendah.
“Chikuso!” maki Kouta.
Sang pemimpin Shinigami Buangan tak menanggapi makian yang dilontarkan sang ketua Shinigami Chiimu. Pemuda berambut raven itu sibuk memainkan batu kristal kecil yang ada genggaman tangannya. Terlihat pusaran kecil di dalamnya. Batu kristal yang sangat berharga, namun sangat rapuh. Sosok gadis berambut panjang selalu tergambar dalam benaknya saat ia memandang batu kristal kecil itu. ‘Hikari-chan...’
“Yuto,” panggil Keito tiba-tiba.
Sang pemilik nama menoleh ke arah partnernya. Keito menganggukkan kepalanya singkat. Yuto mengangkat sebelah alisnya, lalu kemudian membalas anggukan pemuda bermarga Okamoto itu.
“Kurasa sebentar lagi Hikari-chan akan sampai ke sini,” katanya pada Kouta, “dan kau, lebih baik diam dan menonton saja.” pemuda berpakaian serba putih menghempaskan tangannya ke kanan, membuat sulur-sulur yang mengikat Kouta dengan erat mengikuti gerakan tangan pemuda itu. Sehingga akhirnya tubuh Kouta bersandar pada dinding aula dengan sulur-sulur masih membelit.
Sekali lagi Yuto menjentikkan jarinya, dan penerangan di dalam aula besar itu pun meredup.
.
Ryutaro terkekeh melihat reaksi Hikari, “Hikari-chan, kau memang belum berubah ya?” onyxnya melirik ke arah onyx Daiki, lalu kembali menatap onyx Hikari, “Ayo lawan aku, Hikari-chan!”
“He?” Hikari menatap Shinigami Buangan termuda itu dengan tatapan penuh tanya.
“Urusai! Hikari-chan, kau cepatlah pergi dari sini! Aku tidak akan membiarkan dia melukaimu! Aku sudah berjanji pada Yabu-kun untuk menjagamu.” Daiki menatap Hikari.
Tiba-tiba Ryutaro melompat mundur, memperluas jarak di antara dirinya dan Daiki, “Kuanggap itu sebagai tantangan untukku, Dai-chan,” kata pemuda bermarga Morimoto itu dengan senyum terkembang di wajahnya.
“Hiaaaaaaaaaaah!!” seru Daiki sambil menerjang ke arah pemuda yang lebih muda darinya itu
TRANG
Kedua bilah katana mereka saling beradu kembali. Senyuman di bibir Ryutaro kini telah berganti dengan seringai. Pemuda itu kembali melompat menjauhi Daiki sambil menghempaskan katana Daiki sekuat tenaga, membuat tubuh pemuda bermarga Arioka itu terjerembab di lantai dengan keras.
“Dai-chan!” Hikari berlari menghampiri senpainya yang terbaring di atas lantai marmer, “Daijoubu ka?” tanya Hikari sambil membalikkan posisi tubuh Daiki yang semula tengkurap menjadi telentang. Erangan kesakitan lolos dari mulut pemuda berambut eboni itu, “Daijoubu dayo...” jawab Daiki lemah
“Uso!” tandas gadis berambut raven itu.
“Bukankah waktu itu aku sudah pernah bilang? Aku lebih kuat darimu, Dai-chan!” pemuda berpakaian serba putih itu memainkan katana yang tergenggam erat di tangannya
“Kuso.....” geram Daiki.
“Kalau kau memang ingin bertarung denganku,” Hikari bangkit dari posisinya, “maka bertarunglah denganku!” gadis itu mengeratkan genggamannya pada gagang katananya.
“He? Sou desu ka?” tanya Ryutaro, “Sayangnya tidak sekarang, Hikari-chan...” pemuda itu tersenyum lebar, lalu melemparkan pandangannya ke anak tangga teratas, “Ya kan, Yama-chan?”
Kedua onyx Hikari mengikuti arah pandangan lawannya. Di sana, berdiri seorang pemuda yang Hikari kenal, Yamada Ryosuke. Tangannya sudah berada di atas sebuah tombol kecil berwarna merah mencolok.
“Bye bye!” Ryutaro melambaikan tangannya pada Hikari.
“He?”
Belum sempat Hikari bereaksi, tangan Ryosuke sudah lebih dulu menekan tombol itu. Sebuah lubang muncul tiba-tiba tepat di bawah kedua kaki Hikari yang sebelumnya berpijak pada lantai marmer, membuat gadis berambut raven itu terjatuh ke dalamnya, “Kyaaaaaaaaaaa!”
“Hikari-chan!” kedua onyx Daiki membulat menatap kejadian di hadapannya. Sayangnya tangannya yang sempat terulur untuk menarik kembali Hikari sudah terlambat. Lubang itu sudah menelan tubuh kouhainya dan menghilang begitu saja.
“Tenang saja, Hikari-chan tidak akan apa-apa kok!” seru Ryosuke dari puncak tangga sebelum menghilang dengan cepat di ujung sebuah lorong lain.
“Kau bawa kemana Hikari-chan?!” seru Daiki setelah kembali berdiri
Namun, jawaban bukan datang dari mulut Ryosuke, melainkan dari mulut Ryutaro, “Sudahlah Dai-chan... Percayalah, kami tidak pernah berniat untuk melukai Hikari-chan kok!”
“Itu tidak menjawab pertanyaanku!” Daiki berlari ke arah pemuda yang lebih muda darinya dengan katana terhunus
“Baiklah... Sampai ada perintah selanjutnya, aku akan meladenimu, Dai-chan!” kata Ryutaro sambil memperbaiki kuda-kudanya.
.
Dengan gesit Yuya melompat ke samping untuk menghindari serangan dadakan dari lawannya. Kemudian tanpa basa-basi mencoba menebas tangan kiri lawannya. Sayangnya lawannya, Yuuri, juga cukup lincah. Pemuda bertubuh mungil itu sudah menghindar ke belakang sesaat sebelum tangan kirinya terpotong.
“Cih,” Yuya berdecih kesal.
Kali ini ia memutar-mutarkan katana yang ada di genggaman tangan kanannya sambil menerjang ke arah Yuuri. Begitu sudah berada beberapa sentimeter dari tubuh Shinigami Buangan itu, Yuya langsung menghujamkan katananya ke arah lawannya. Tampaknya sang shinigami kurang beruntung, lagi-lagi serangan itu dapat dihindari di saat-saat terakhir. Tapi tampaknya Yuuri beruntung, karena katana yang Yuya hujamkan sekuat tenaga malah menghujam ke batang pohon yang ada di belakangnya, mengunci gerakan shinigami berambut cokelat itu selama beberapa saat.
“Jangan terlalu terburu-buru, Yuuyan!” kata Yuuri sambil memamerkan cengirannya. Sedangkan lawan bicaranya hanya menyeringai.
DUAAK
Tendangan telak ke arah perut Yuuri membuat pemuda itu terpental beberapa meter ke samping. Tampaknya Yuya memang sengaja tidak menghujamkan katananya ke tubuh Yuuri untuk membuat kewaspadaan Shinigami Buangan itu menurun.
Yuuri tersungkur di tanah. Pemuda itu tidak langsung bangkit dari posisinya, ia memilih untuk mengatur nafasnya dulu, “Kau memang pintar, Yuuyan!” puji Yuuri.
“Kau terlalu meremehkanku, Chii,” sahut Yuya setelah menarik katananya yang tertancap di  batang pohon.
“Ne? Hontou ka?” Yuuri bangkit dari posisinya dan kembali memasang kuda-kuda. “Bukankah permainan baru akan dimulai?”
“Kau menantangku?” tanya Yuya sinis.
“Dengan senang hati!” jawab Yuuri dengan senyum khasnya.
Lagi-lagi kedua bilah katana mereka saling beradu. “Bagaimana kalau kita lakukan hal yang lebih seru daripada hanya bertarung begini?” tanya Yuuri.
Yuya mencoba menghempaskan tubuh mungil lawannya, “Apa maksudmu?!” Sayangnya gerakan itu sudah diantisipasi oleh Yuuri, sehingga lagi-lagi pemuda mungil itu bisa menghindari serangan lawannya yang bertubuh lebih tinggi darinya.
“Kalau kau bisa tangkap aku, maka aku akan bertarung sampai salah satu diantara kita tidak bisa lagi bertarung!” seru Yuuri cepat sebelum berlari meninggalkan Yuya.
“Kau! Kembali!! Pertarungan kita belum selesai!!” seru Yuya sambil berlari mengejar lawannya yang sudah melesat beberapa meter darinya.
“Sudah kubilang, tangkap aku dulu! Hahahahaha!” Yuuri tertawa-tawa senang tanpa mengurangi kecepatan berlarinya.
‘Yama-chan, apa kau siap?’
.
BRUK
“Ittai!” Tubuh gadis itu berbenturan dengan lantai yang keras
“Daijoubu desu ka?” sebuah suara baritone bertanya dan sebuah tangan terulur ke arah gadis itu.
Dengan ragu Hikari menggenggam tangan itu, “D-daijoubu desu...” jawab Hikari. Ia membiarkan sang pemilik tangan menariknya ke posisi berdiri.
Hikari menyadari ruangan tempat dirinya berada adalah ruangan yang besar, namun dengan pencahayaan yang minim. Gadis itu masih berusaha mencari sumber cahaya atau pintu ketika suara baritone tadi kembali mengangetkannya, “Hikari-chan, daijoubu desu ka?” ia mengulangi pertanyaannya.
“Daijoubu desu.” jawab Hikari sekali lagi, “Dimana kau?” kali ini giliran gadis itu yang bertanya.
“Di sini,” tiba-tiba Hikari merasakan keberadaan seseorang di sisi kanannya.
Pencahayaan yang buruk membuat Hikari kesulitan melihat wajah sosok yang membantunya berdiri. Tapi setelah beberapa saat diperhatikan, Hikari yakin bahwa ia pernah melihat sosok itu di dalam video yang ditunjukkan Kouta padanya. Artinya  ia adalah—
—Shinigami Buangan?
“Ayo bertarung denganku,” kata pemuda itu. Baik wajahnya maupun suaranya sama sekali tidak menunjukkan ekspresi. Gadis itu tidak bisa menebak apa maksud dari ajakan—atau tantangan—bertarung itu.
Kedua onyx gadis itu membulat ketika melihat kilatan cahaya yang dipantulkan oleh katana milik Shinigami Buangan yang kini ada di hadapannya. Hikari menggenggam erat katana yang masih ada dalam genggamannya, bersiap menghadapi serangan yang bisa datang kapan saja.
Suara langkah kaki yang cepat semakin mendekat, membuat Hikari semakin mengeratkan genggamannya. Ia tahu, ia tidak dapat bertarung menggunakan dengan baik seperti anggota Shinigami Chiimu yang lainnya. Karena itulah ia mundur selangkah, mengambil ancang-ancang untuk menghindari serangan pemuda itu. Tepat di saat Hikari akan melempar tubuhnya ke samping, secara tiba-tiba tubuhnya tidak bisa digerakkan. Sekuat apapun usaha anggota termuda Shinigami Chiimu itu untuk menggerakkan tubuhnya, usaha itu tetap sia-sia. Entah apa yang menahan tubuh gadis beriris onyx itu.
Kini ia dapat melihat sosok Shinigami Buangan itu hanya berjarak satu setengah meter darinya—dan terus mempersempit jarak. Katananya sudah terhunus mengancam. Sekali lagi Hikari mencoba menggerakan kedua tungkainya. Namun nihil, kedua tungkainya maupun anggota tubuhnya yang lain masih tidak bisa digerakkan. Pasrah, gadis itu pun menutup kedua matanya, menanti rasa sakit yang akan datang.
.
“Inoo-chan, hora! Ada cahaya!” seru Hikaru dengan telunjuk mengarah pada cahaya kecil yang berada di depan mereka
“Mungkin hanya lampu,” kata Kei yang masih memegangi ujung mantel Hikaru.
“Entahlah... Tapi kurasa bukan. Ayo kita ke sana!” Hikaru menggenggam tangan Kei, lalu berlari ke arah cahaya yang ia lihat sambil menarik pemuda berwajah manis itu.
Mereka berdua sampai di sebuah ruangan kosong yang berukuran cukup besar. Ruangan itu hampir mirip dengan aula dimana Yuto berada; berbentuk bulat dengan diameter kurang lebih delapan setengah meter dan beralaskan lantai marmer. Namun sama sekali tidak ada barang apapun dalam ruangan serba putih itu—bahkan jendela. Yang ada hanya dua buah pintu; satu jalan masuk bagi Hikaru dan Kei, dan satu lagi adalah pintu yang tampaknya jalan keluar lain dari ruangan itu.
“Sudah kubilang kan, ini bukan ‘hanya lampu’!”  Hikaru menyeringai, puas dengan tebakannya.
“Hikaru, ada seseorang,” kedua onyx Kei menangkap sosok entitas lain yang sedang menundukkan kepalanya di dekat pintu yang lain “Shinigami Buangan...” tebak pemuda berwajah manis itu.
Belum sempat Hikaru merespon dua kata terakhir yang dilontarkan partnernya, sosok itu memotong, “Tepat sekali, Inoo-chan,” katanya sambil perlahan-lahan ia mengangkat kepalanya dan menatap dua sosok yang baru saja memasuki ruangan.
“Kau—“
“Aku memang Yamada Ryosuke.” potong pemuda itu sekali lagi, “Tampaknya kalian masih mengingatku—ah tidak, masih mengingat kami, deshou?”
“Apa yang kau inginkan dengan membuat kami terpencar? Pertarungan? Kau memencarkan kami karena ingin bertarung?” kata Hikaru sinis.
Ryosuke tertawa, “Kau mengatakan hal yang sudah kuperkirakan, Hikaru. Kau tetap sama seperti dulu, ne?”
“Jangan bicara seolah-olah kau tahu banyak tentangku!” seru Hikaru marah sambil menerjang Ryosuke dengan katana di tangannya “Hiaaaaaaaaaah!”
Pemuda serba putih itu dengan mudah melompat ke samping, menghindari serangan pemuda yang lebih tua, “Aku memang tahu cukup banyak tentangmu—tentang kalian semua, kok!”
“Jangan banyak bicara!” sekali lagi Hikaru menerjang Ryosuke dalam posisi siap menebas. Dan sekali lagi Ryosuke berhasil menghindarinya.
“Hahaha seranganmu sangat terbaca, Hikaru!”
“Jangan senang dulu,” kata Kei yang sudah siap mengayunkan katananya di balik punggung Ryosuke.
TRANG
“Inoo-chan! Senang melihatmu lagi!” sapa Ryosuke setelah menghalau serangan Kei dengan katana miliknya.
“Senang melihatmu lagi, Yama-chan,” Kei membalas sapaan pemuda yang lebih muda darinya dengan senyuman khasnya.
“Dua lawan satu. Kita lihat, siapa yang akan menang...” kata Ryosuke sinis. ‘Tentu saja aku siap, Chii!’
“Kau terlalu sombong!” balas Hikaru tak kalah sinis.
Kei melompat ke samping Hikaru. Kemudian dua pemuda berpakaian serba hitam itu berlari ke arah yang berlawanan, memutari Ryosuke yang masih berdiri santai dengan wajah mengejek. Dengan gerakan yang hampir bersamaan, Hikaru dan Kei berlari ke arah lawan mereka secepat kilat.
TRANG
Bilah katana Kei dan Hikaru saling beradu, menimbulkan suara dentingan yang keras.
“Hampir saja kena...” kata Ryosuke santai, “Kalian hebat juga!” tambahnya dengan nada mengejek
Tak ada yang menggubris dua kalimat yang dilontarkan sang Shinigami Buangan. Mereka memfokuskan perhatian mereka pada gerakan lawan mereka untuk menemukan titik kelemahannya.
Kei menggeser posisi kaki kanannya yang semula sejajar dengan kaki kirinya, menjadi berada di depan kaki kirinya—mengambil ancang-ancang untuk serangan selanjutnya. Hikaru pun melakukan hal yang sama. Kemudian tanpa ada aba-aba selanjutnya, mereka berdua melompat ke arah Ryosuke dalam gerakan cepat dengan katana yang siap menebas.
Sekali lagi, Ryosuke berhasil menghindari serangan yang dilancarkan duo shinigami yang menjadi lawannya. Kedua katana itu hanya berhasil menebas beberapa helai rambut cokelat milik sang Shinigami Buangan. Terdengar decak kesal dari mulut Hikaru dan tawa singkat dari mulut Ryosuke. Sedangkan Kei sedang memutar otak untuk menemukan cara yang tepat agar serangan mereka berdua mengenai sasaran.
“Kenapa kau tidak menyerang kami?” tanya Hikaru.
Ryosuke tidak menjawab pertanyaan Hikaru. Ia hanya menatap bilah katananya yang sudah terhunus mengancam dengan tatapan sendu. Ia memilih untuk tidak menjawab pertanyaan shinigami yang menjadi lawannya.
“Jawab! Kenapa kau tidak menyerang kami?!” Hikaru menaikkan nada suaranya satu oktaf.
“Aku tidak akan menjawab pertanyaan yang sama sekali tidak penting seperti itu.” jawab Ryosuke.
“Maka aku akan membuatmu menjawabnya!” seru Hikaru.
Pemuda bermarga Yaotome itu berlari ke arah Shinigami Buangan yang sedang menyeringai dengan kecepatan tinggi. Katananya sudah terhunus mengancam sudah siap untuk menebas apapun yang menghalangi jalannya. Tapi sang sasaran, Ryosuke, sama sekali tidak bergerak dari tempatnya dan malah memperlebar seringaiannya.
“Hikaru! Awas! Kurasa dia merencanakan sesuatu!” seru Kei memeringati partnernya.
“Aku tahu!” balas Hikaru tanpa mengurangi kecepatannya.
Hikaru menebas perpotongan bahu dan leher Ryosuke.
TRANG
Suara logam bertemu logam terdengar nyaring. Ryosuke berhasil menangkis serangan Hikaru dengan katananya. Seringai yang terpatri di wajah Ryosuke sama sekali tidak menghilang.
Dengan tiba-tiba sebilah katana lain bermanuver di udara, berusaha menusuk sang shinigami bermarga Yaotome.
TRANG
Beruntung, bilah katana itu berhasil dihalau oleh bilah katana milik Inoo Kei.
“Ara... berhasil ditangkis? Sayang sekali... Seharusnya kau bisa lebih cepat, Chii!” kata Ryosuke.
“Gomen ne, Yama-chan... Aku tidak memperhitungkan gerakan Inoo-chan...” sahut pemuda bertubuh mungil yang bernama Chinen Yuuri.
“Sekarang dua lawan dua, ne?” kata Kei sinis.
Yuuri tertawa, “Kurasa tanpa kedatanganku pun, Yama-chan pasti bisa mengalahkan kalian!”
Keempat entitas itu melompat ke belakang bersamaan, memperlebar jarak di antara mereka. Otak Kei semakin keras memikirkan cara untuk melawan kedua Shinigami Buangan yang ada di hadapannya. Diliriknya Hikaru yang berdiri di sebelahnya dengan nafas terengah-engah. Lalu ia jatuhkan tatapan onyxnya pada kedua Shinigami Buangan yang lebih muda darinya. Ia yakin keduanya masih bisa bertarung dengan baik—bahkan keduanya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan.
Pemuda berwajah manis itu mau tidak mau mengakui kata-kata Yuuri tadi. Ia merasa dirinya memang tidak begitu mahir dalam seni pertarungan. Dan semahir apapun Hikaru dalam hal bertarung, ia terlihat sudah cukup kelelahan.
“Chinen Yuuri!” sebuah suara baritone yang sama sekali tak asing di telinga Kei dan Hikaru berseru, “Jangan berharap bisa kabur dariku!”
Yuuri tergelak, “Sudah kubilang, tangkap aku dulu, Yuuyan!”
Yuya berlari memasuki ruangan dengan katana terhunus mengancam. “Hikaru, Inoo-chan?!” Yuya menatap dua orang partnernya dengan tatapan bingung.
“Yuuyan!” seru kedua pemilik nama bersamaan.
“Sekarang jadi tiga lawan dua deh!” kata Yuuri, “Kita lihat siapa yang akan menang!”
.
Hikari tak berani membuka kedua kelopak matanya. Gadis itu mencoba berpikir jernih ditengah ketakutan yang terbentuk di hatinya. ‘Bagaimana caranya lolos dari serangan ini?’ pertanyaan itu berputar-putar dalam benak gadis berambut panjang itu.
Anggota termuda Shinigami Chiimu itu kini dapat merasakan angin dari gerakan katana Shinigami Buangan yang menjadi lawannya. Tepat di saat gadis itu mengira katana sang lawan akan mengenainya, “Cukup!” sebuah suara menyela segala gerakan yang ada.
“Kurasa itu sudah cukup, Keito.” kata suara itu lagi.
Suara langkah kaki yang terdengar semakin menjauh membuat Hikari perlahan-lahan membuka matanya.
.
.
.
To Be Continued
to next chapter:
KIOKU~HIMITSU~ PIECE #6: Saikai (Reunion)
.
.
#Author’s Notes#
Lagi-lagi EPIC FAIL battle scene!!! Mati-matian deh ngerjain battle scene di chapter inii! Apalagi battle scenenya ada banyak dan ga cuma satu lawan satu! Gomenasai kalau jadinya kurang memuaskan (lagi)...

.

Another Apology

Harus diakui, akhir-akhir ini aku sama sekali ga pernah upload fanfic ke lj ini. Bukannya ga pernah dikerjain (jujur yang sama sekali belum sempet di sentuh lagi sampai sekarang cuma IDOL to Kankei) tapi suka lupa ngupload ke lj. Percaya atau ga, aku sempet kaget kalau liat jumlah file di folder fanfic. Kadang tiba-tiba udah sampe chapter sekian, padahal belum pada sempet di-upload. Bocoran aja sih, Kioku~Himitsu~ di folder fanfic aku udah sampai chapter 10, sedangkan yang udah di upload ke sini bahkan setengahnya aja belum.
Pengennya sih bikin yang baca gregetan dulu nunggu lanjutannya, tapi ujung-ujungnya malah jadi lupa ngupload... Maaf ya saya emang pelupa... Payah banget.. hahaha
Tapi ada orang yang akhir-akhir ini bikin aku semangat lagi. #sedikitcurcol
si X: Emang kau lagi ngapain?
Hikari: Aku lagi bikin fanfic
si X: Wah keren ya kaya penulis
Nah awalnya gara-gara percakapan singkat aku sama si X ini, dia jadi sering nyemangatin aku. Bahkan dia kepo aku bikin fanfic tentang apa dan udah berapa lama bikin fanfic. Makasih ya X, udah bikin aku semangat lagi ngerjain fanfic..

Hmmm sebenernya seperti judul postnya, inti dari seluruh post ini adalah permintaan maaf. Dan berhubung sebentar lagi Idul Fitri, mau bilang aja Hikari mengucapkan, "Mohon maaf lahir dan batin~"
Aku ga akan bilang "Minal aidin wal faizin" karena sebenernya artinya bukan "mohon maaf lahir dan batin" Ga percaya? coba tanya sama guru bahasa Arab deh..

Last, walaupun ga penting, sekalian nih mumpung userpic baru ganti jadi Yugo~

64407579_624.v1353138731
tumblr_m87yysJ1os1qb9oabo2_400